Beberapa hari berikutnya…
“Zah… Zizah…”, panggil Kak Raka.
“Ada apa Kak…”, tanyaku.
“Kamu akan segera bisa melihat Zah…”, ucap Kakakku seraya menggoyangkan tubuhku.
“Benarkah Kak…?”, ucapku sangat senang.
“Benar Zah… Malam ini kau akan di operasi dan orang itu memberikan matanya secara cuma-cuma Zah”, ucap Kakaku dengan nada pelan.
“Siapa orang itu kak?”, tanyaku.
“Kakak tidak tau Zah… yang jelas, sekarang kamu akan segera melihat lagi”, ucap Kakakku.
“Benar kata Raihan bahwa impian besarku akan aku genggam dengan tanganku… Tapi, siapa orang yang baik hati itu… Semoga saja, Tuhan membalas kebaikannya dan semoga dia diterima di sisinya…”, ucapku di dalam hatiku.
Malam ini adalah malam dimana aku akan segera mendapatkan impianku. Hanya saja hatiku merasa sangat cemas dan khawatir. Aku khawatir bukan karena aku takut operasi ini gagal, tapi aku khawatir jika aku sudah melihat nanti, aku takut tidak bisa menjaga mataku ini dari pandangan kemaksiatan. Aku selalu berharap agar aku selalu melihat kebajikan dan menutup mataku untuk kemaksiatan.
Malam telah berlalu dan hari demi hari menyambut diriku. Kini hari dimana aku akan melihat indahnya ciptaan Tuhan yang selama ini ingin sekali aku melihatnya. Ingin sekali rasanya, setelah aku mampu melihat aku ingin mewujudkan impian terbesarku selama ini. Sedikit demi sedikit, seseorang membuka perban yang membalut kedua mataku dan mungkin orang itu adalah dokter. Perlahan kubuka kedua mataku dan kulihat sesuatu yang selama ini belum pernah aku lihat. Ya… kini aku telah mampu melihat lagi…
“Kak Raka…?”, ucapku melihat seorang lelaki yang tampan di sebelahku.
“Ya… ini Kak Raka Zah…?”, ucapnya.
“Aku sudah bisa melihat Kak…”, ucapku seraya memeluk kakakku dan menangis karena bahagia.
“Alhamdulilah kalau kamu sudah bisa melihat Zah…”, ucapnya dengan senyumnya.
“Dimana Raihan Kak…?”,tanyaku.
“Em… Nanti saja ceritanya di rumah ya Zah… sekarang kita beresin baju kamu dan kita pulang ke rumah…”, ajaknya.
“Baiklah…”, jawabku.
Di rumah…
“Kak… Zizah pengen liat foto Ayah dan Ibu Kak…”, pintaku setelah sampai di rumah.
“Ini albumnya Zah…”, ucap Kakakku seraya mengulurkan sebuah album berwarna biru muda itu.
“Ibu cantik Kak…”, ucapku saat melihat foto Ibuku di album itu dan meneteskan air mata.
“Sama seperti dirimu Zah…”, ucap Kakakku seraya mengelus kepalaku.
“Benarkah kak…? Apakah aku mirip Ibu…?”, tanyaku.
“Benar Zah… Kau sangat mirip dengan ibu. Saat Kakak melihat dirimu, Kakak merasa bahwa Kakak sedang melihat ibu. Wajahmu, hidungmu, bibirmu, semuanya mirip ibu…”, ucapnya seraya menangis.
“Benarkah…?”, tanyaku.
“Ya itu benar Zah… makannya Ayah sangat menyayangimu karena kau sangat mirip dengan Ibu..”, ucapnya lagi.
“Kau juga sangat mirip dengan Ayah Kak… Kau dan Ayah sangatlah tampan…”, ucapku saat aku melihat foto Ayahku.
“Tentunya…”, ucapnya dengan tersenyum.
“Tempat apa ini Kak…?”, tanyaku saat melihat foto Ayahku, Ibuku dan Kakakku yang sedang berfoto di suatu tempat.
“Ini adalah tempat favorit Kakak, yang dulu adalah tempat bermain Kakak bersama mereka. Tempat ini yang diberikan mereka saat ulang tahun kakak yang ke 12. Tempat ini adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan untuk Kakak”, jelasnya padaku.
“Tempat ini sangat indah sekali Kak…”, kataku.
“Kau ingin ke sana…?”, tanya Kakakku.
“Ingin sekali… tapi, sebelum kita pergi ke sana, aku ingin berziarah ke makam Ayah dan Ibu Kak…”, ajakku.
“Baiklah jika itu maumu Zah…”, ucap Kakakku.
“Kalau begitu, aku ingin siap-siap terlebih dahulu Kak…”, pintaku.
“Baiklah…”, jawabnya.
Gamis berwarna biru muda dan kerudung berwarna biru muda itu membalut seluruh tubuhku. Nampak sebuah tongkat berwarna biru muda tergeletak di lantai kamarku. Dulu tongkat ini yang selalu aku gunakan saat aku berjalan, tapi kini aku tidak memerlukannya lagi. Aku memang sangat menyukai warna biru muda, karna apa? karna biru muda selalu mengingatkan diriku pada langit. Aku juga sangat menyukai warna hijau muda karna warna itu mengingatkanku tentang taman dan rerumputan nan hijau. Bahkan kamarku sangat indah dengan cat warna hijau muda dan biru muda. Nampak indah lukisan yang ada di tembok kamarku itu. Masih teringat di fikiranku, saat Ayah hendak mengecat kamarku ini. Aku yang meminta Ayahku untuk melukiskan pemandangan alam yang indah dengan lukisan danau, taman dan langit yang indah. Bahkan Ayahku menggambar diriku yang sedang bermain dengan Kakakku, Ayahku dan Ibuku. Gambar itu terlihat sangat indah dan nyata. Kulangkahkan kakiku menuju ke luar rumah dan ku lihat seorang lelaki yang tampan yang sangat menyayangiku telah menungguku. Dia menyambutku dengan senyumannya yang membuat dirinya begitu tampan dan manis. Dia adalah Kakakku satu-satunya dan hanya dia yang kini aku miliki.
Setelah sampai di pemakaman, Kakakku mengajakku ke subuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Ayahku. Kemudian Kakakku menunjuk sebuah makan yang ada di sebelahnya dengan batu nisan yang bertuliskan nama Ibuku. Thoriq itulah nama ayahku yang memiliki arti “Bintang Pagi” dan Malihah itulah nama Ibuku yang memiliki arti “Cantik”. Air mata tak kuasa ku bendung lagi saat aku membacakan do’a untuk mereka. Setelah itu, kakaku menggandeng tanganku dan menuju sebuah makam yang masih baru dengan batu nisan yang bertuliskan “Raihan Mumtaz”. Melihat nama itu, aku menangis dn tidak menyangka sekali.
“Kapan dia meninggal kak…?”, tanyaku seraya menangis.
“Beberapa hari yang lalu Zah…”, ucap kakakku.
“Dia meninggal kenapa Kak…?”, tanyaku lagi.
“Dia meninggal karena dia sakit Zah…?”, jawabnya.
“Sakit? sakit apa Kak…? Dia nggak pernah bilang sama aku kalau dia sakit Kak…”, tanyaku.
“Dia sakit Kanker Paru-paru dan waktu itu saat dia pergi ke Singapura, sebenarnya dia sedang kemoterapi Zah…”, ucapnya.
“Kenapa kakak nggak pernah cerita sama Zizah sih kak, kalau Raihan punya penyakit dan dia pergi ke luar negeri buat kemoterapi…”, ucapku kecewa.
“Kakak juga nggak tau waktu itu Zah. Kakak tau setelah dia di rawat di rumah sakit 3 hari sebelum kamu operasi. Hari itu Kakak ngejenguk dia dan dia baru cerita tentang penyakitnya itu kepada Kakak. Dia sendiri yang ngelarang Kakak buat ngasih tau kamu karena dia nggak mau ngelihat kamu sedih”, jelasnya.
“Kenapa Raihan nggak pernah cerita sama aku kak… Padahal, aku ingin sekali orang yang pertama kali aku lihat adaalah Raihan”, ucapku.
“Itu tidak mungkin terjadi Zah, karena Raihanlah yang telah mendonorkan matanya untukmu itu Zah…”, ucap kakakku.
“Apa…? jadi mata ini, mata Raihan Kak,…?”, ucapku seraya meraba mataku.
“Iya Zah…”, jawabnya.
“Raihan… sudah banyak berkorban untukku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya”, ucapku seraya menangis.
“1 hal yang harus kau lakukan untuknya Zah…”, ucap kakakku menerpa kesedihanku.
“Apa itu Kak…”, tanyaku.
“Gunakan mata itu untuk kebaikanmu… wujudkan mimpi terbesarmu Zah…”, jawabnya.
“Tentu… Aku tidak akan menyia-nyiakan semua ini…”, ucapku seraya mengusap air mataku.
“Baguslah kalau begitu… Yang lalu biarlah berlalu dan jalani yang kini… masa lalumu adalah sejarahmu dan masa depan adalah mimpimu. Kau belajar dari sejarahmu, tapi kau belajar untuk masa depanmu. Hidup itu haruslah seperti berjalan, karena apa? Karena setiap kau berjalan, kau selalu memandang ke depan bukan ke belakang…”, ucap Kakakku memberiku motivasi.
“Great… verry great…”, ucapku seraya bertepuk tangan.
“Sejak kapan kau bisa bahasa Inggris…?”, tanyanya.
“Meskipun dulu aku itu buta dan aku tidak bisa sekolah seperti yang lain, tapi aku punya guru yang sangat jenius. Dia mengajarkanku banyak hal dan bukan hanya ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat…”, jelasku.
“Guru…?”, tanya Kakakku lagi.
“Yah… seorang guru muda yang sangat baik…”, ucapku.
“Siapa…? Kau ini, katakan saja yang jelas siapa dirinya…!!! Jangan membuat teka-teki seperti itu. Kau tau, aku sangat tidak suka dengan teka-teki…”, ucapnya nampak marah.
“Baiklah Kakakku… Jangan marah dong… Bukannya Kakak udah janji buat nggak marah sama Zizah…?”, tanyaku seraya menggoda kakakku yang sedang marah.
“Iya sih, tapi kamu jangan bikin kakak marah dong… Kau ini terlalu bertele-tele tau nggak…”,ucapnya.
“Baiklah… Guru itu adalah sahabatku, Raihan…”, ucapku.
“Raihan…?”, tanyanya dengan kaget.
“Iya Raihan… Dia adalah orang yang sangat cerdas…”, pujiku.
“Begitukah… Oh ya bukannya kamu ingin ke tempat itu ya…?”, tanyanya.
“Oh iya… Ayo kita pergi Kak…”, ajakku seraya menarik tangan Kakakku.
Saat aku sampai di sana, entah mengapa rasanya aku pernah datang ke sana. Rasanya aku sangat mengenal suasana di tempat ini. Rasanya tempat ini tidak asing bagiku, meskipun baru sekali aku datang ke sini. Tempat ini sangatlah indah sekali dan aku duduk bersama Kakakku di subuah kursi panjang berwarna hijau muda di tepi danau.
“Hm… Kak, kok rasanya aku pernah ke sini ya…?”, tanyaku.
“Mungkin…”, jawabnya singkat.
“Ih… bener deh Kak. Rasanya aku sangat mengenal tempat ini dan aku semakin mengenal suasana tempat ini saat aku memejamkan mataku… Benarkah aku pernah ke sini sebelumnya…? Tapi dengan siapa…? kapan?”, tanyaku.
“Kau sangat peka Zah…”, ucap Kakakku.
“Hah…?”, ucapku kaget.
“Ya… kau pernah ke sini dan mungkin setiap hari kau datang ke tempat ini…”, ucapnya yang sangat membuatku bingung.
“Tapi dengan siapa Kak…?”, tanyaku lagi.
“Dengan Raihan… Dia waktu itu pernah cerita sama Kakak kalau kamu sangat suka bermain di tempat ini… kau masih ingat dengan batu itu..?”, ucapnya seraya menunjuk ke sebuah batu besar.
“Ya aku ingat Kak… dulu aku sangat suka duduk di batu itu…”, ucapku.
“Ya… tempat inilah yang selalu kau datangi bersama Raihan…”, ucapnya lagi.
“Jadi tempat ini yang selalu aku datangi dengan Raihan…? Di tempat ini aku menceritakan segala keluh kesahku pada Raihan. Di tempat ini aku menciptakan kebahagiaan dan senyuman bersama Raihan. Di tempat ini, aku selalu menangis dan tertawa dengan apa yang telah kulalui dalam hidupku. Di tempat ini, semua kenangan itu terukir… dahulu, aku bisa mengetahui tempat ini begitu indah hanya dengan merasakan dan mendengarkan suasana sekitar tanpa aku melihatnya. Kini aku telah membuktikan keindahan tempat ini dengan melihatnya langsung… Beautiful, verry nice…”, ucapku seraya tersenyum.
“Tempat ini bukan hanya menyimpan kenangan bagiku, tapi kini bagimu juga Zah…”, ucap Kakakku.
“Ya… di tempat ini kita mengukir kenangan indah bersama orang-orang yang kita cintai…”, ucapku.
Aku dan Kakakku larut dalam kenangan-kenangan di masa lalu. Serasa kita sedang menjelajahi dimensi waktu di masa lalu, kita kembali ke masa lalu itu dan kita serasa sedang menonton sebuah film tentang masa-masa indah itu.
“Zah… Ini hadiah dari Raihan sebelum dia meninggal…”, ucapnya seraya memberiku sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita berwarna hijau muda.
“Apa ini Kak…” tanyaku.
“Entahlah aku pun tidak tau… Buka saja Zah…”, perintah Kakakku.
“Baiklah…”, ucapku.
Saat kubuka hadiah dari Raihan itu, aku sangat senang sekali. Dia memberiku hadiah sebuah Al qur’an dengan cover berwarna biru muda, warna kesukaanku dan 2 buah kerudung berwarna biru muda dan hijau muda.
“Kerudung ini sangat indah Kak Raka…”, ucapku seraya menunjukkan kerudung dari Raihan.
“Sangat cocok denganmu Zah…”, ucapnya dengan tersenyum.
“Benarkah…?”, tanyaku.
“Benar,…”, ucapnya seraya mengangguk.
“Lihat Kak…”, ucapku seraya menunjukkan foto-foto yang ada di dalam kotak itu.
“Apakah ini Raihan…”, tanyaku pada Kakakku
“Iya…”, jawabnya seraya mengangguk.
“Lihat ini Kak…! Ternyata Raihan sering memfoto diriku”, ucapku kembali menunjukkan foto-foto itu.
“Orang-orang yang ada di sekelilingku cantik-cantik dan tampan”, ucapku lagi
“Impian terbesarku akan segera kumulai Kak…”, ucapku seraya memandang danau.
“Impian…?”, tanyanya.
“Ya… Impian terbesar yang dulu terpendam kini telah muncul kembali…”, ucapku.
“Kau puitis Zah…”, ucapnya seraya menunjukkan muka muramnya.
“Itu juga salah satunya…”, ucapku.
“Maksudnya…”, tanyanya dengan sangat bingung.
“Salah satu impianku dari banyaknya impianku…”, jawabku.
“Lalu impian terbesarmu apa…?”, tanyanya.
“Impian terbesarku adalah melihat orang-orang yang aku cintai dan sayangi meskipun hanya lewat foto saja. Yang menjadi impian terbesarku adalah membaca ayat-ayat suci…”, ucapku.
“Untuk mewujudkan impian terbesarmu itu, maka kau harus belajar dulu…”, saran Kakakku.
“Maukah Kakak membantuku…?”, tanyaku.
“Membantu apa…?”, tanyanya.
“Ah… Kakak mah dari tadi nggak bisa mencerna perkataanku dan banyak bertanya”, ucapku.
“Perkataan ya nggak bisa di cerna lah Zah… Kamu ada-ada aja deh… yang dicerna itu ya makanan lah…”, ucapnya.
“Maksudnya, Kakak itu dari tadi nggak faham sama apa yang aku katakan…”, ucapku.
“Kalau begitu kau juga nggak bisa mencerna candaan Kakak…”, ucapnya.
“Ah Kakak ini… jadi mau nggak nih…”, ucapku seraya memandangnya.
“Membantu apa…?”, tanyanya.
“Ya membantu mewujudkan Impian Zizah lah Kak…”, ucapku.
“Siap…”, ucapnya seraya hormat dan aku hanya tersenyum melihatnya.
Beberapa bulan telah berlalu dan kini aku sudah mulai pandai membaca al qur’an walaupun aku belum terlalu fasih dalam membacanya. Sekarang, aku juga mulai kembali bersekolah dan sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Sekarang aku sudah bisa belajar dengan baik dan belajar seperti yang teman-teman lainnya. Impian-impanku yang dulu terpendam kini aku mulai mewujudkannya. Kini aku bisa menjadi penyiar radio yang cukup berbakat, penyair, dan juga penulis. Impian terbesarku pun untuk bisa membaca ayat-ayat suci telah aku wujudkan. Tetapi aku akan terus belajar dan terus belajar. Karena apa…? karena aku ingin mendo’akan orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Aku selalu berdo’a agar mereka berbahagia di sisi Tuhan yang maha kuasa. Setitik cahaya harapan dalam kegelapan, kini telah menjadi sebuah cahaya yang indah di dalam hidupku. Dulu, cahaya itu ibarat bintang yang nampak sangat kecil dan berkilauan di antara kegelapan langit malam. Tapi kini, cahaya itu telah menjadi mentari yang amat terang, yang mampu menyinari semesta alam. Dulu, sesuatu yang hanyalah sebuah angan-angan dan mimpi semata, kini telah menjadi kenyataan. Aku selalu percaya, bahwa Tuhan tidak akan pernah menguji umatnya di luar batas kemampuan umatnya itu. Tuhan selalu mempunyai rencana yang sangat indah di balik cobaan yang ia berikan itu. Skenario Tuhan sangatlah indah dan tidak pernah ada duanya. Tidak ada satu orang pun yang dapat menerka skenario darinya. Selalu ada kejutan-kejutan yang Tuhan berikan kepada umatnya. I’am always believe that every trial must be a wisdom. I’am very believe it…
“Raihan… apakah kau bangga kepadaku…? Apakah kau tersenyum di sana melihat diriku di sini yang telah mewujudkan mimpiku…?”, gumamku.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/setitik-cahaya-harapan-si-gadis-buta-part-2.htmlThis is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Sabtu, 08 Oktober 2016
Setitik Cahaya Harapan Si Gadis Buta (Part 2)
Beberapa hari berikutnya…
“Zah… Zizah…”, panggil Kak Raka.
“Ada apa Kak…”, tanyaku.
“Kamu akan segera bisa melihat Zah…”, ucap Kakakku seraya menggoyangkan tubuhku.
“Benarkah Kak…?”, ucapku sangat senang.
“Benar Zah… Malam ini kau akan di operasi dan orang itu memberikan matanya secara cuma-cuma Zah”, ucap Kakaku dengan nada pelan.
“Siapa orang itu kak?”, tanyaku.
“Kakak tidak tau Zah… yang jelas, sekarang kamu akan segera melihat lagi”, ucap Kakakku.
“Benar kata Raihan bahwa impian besarku akan aku genggam dengan tanganku… Tapi, siapa orang yang baik hati itu… Semoga saja, Tuhan membalas kebaikannya dan semoga dia diterima di sisinya…”, ucapku di dalam hatiku.
Malam ini adalah malam dimana aku akan segera mendapatkan impianku. Hanya saja hatiku merasa sangat cemas dan khawatir. Aku khawatir bukan karena aku takut operasi ini gagal, tapi aku khawatir jika aku sudah melihat nanti, aku takut tidak bisa menjaga mataku ini dari pandangan kemaksiatan. Aku selalu berharap agar aku selalu melihat kebajikan dan menutup mataku untuk kemaksiatan.
Malam telah berlalu dan hari demi hari menyambut diriku. Kini hari dimana aku akan melihat indahnya ciptaan Tuhan yang selama ini ingin sekali aku melihatnya. Ingin sekali rasanya, setelah aku mampu melihat aku ingin mewujudkan impian terbesarku selama ini. Sedikit demi sedikit, seseorang membuka perban yang membalut kedua mataku dan mungkin orang itu adalah dokter. Perlahan kubuka kedua mataku dan kulihat sesuatu yang selama ini belum pernah aku lihat. Ya… kini aku telah mampu melihat lagi…
“Kak Raka…?”, ucapku melihat seorang lelaki yang tampan di sebelahku.
“Ya… ini Kak Raka Zah…?”, ucapnya.
“Aku sudah bisa melihat Kak…”, ucapku seraya memeluk kakakku dan menangis karena bahagia.
“Alhamdulilah kalau kamu sudah bisa melihat Zah…”, ucapnya dengan senyumnya.
“Dimana Raihan Kak…?”,tanyaku.
“Em… Nanti saja ceritanya di rumah ya Zah… sekarang kita beresin baju kamu dan kita pulang ke rumah…”, ajaknya.
“Baiklah…”, jawabku.
Di rumah…
“Kak… Zizah pengen liat foto Ayah dan Ibu Kak…”, pintaku setelah sampai di rumah.
“Ini albumnya Zah…”, ucap Kakakku seraya mengulurkan sebuah album berwarna biru muda itu.
“Ibu cantik Kak…”, ucapku saat melihat foto Ibuku di album itu dan meneteskan air mata.
“Sama seperti dirimu Zah…”, ucap Kakakku seraya mengelus kepalaku.
“Benarkah kak…? Apakah aku mirip Ibu…?”, tanyaku.
“Benar Zah… Kau sangat mirip dengan ibu. Saat Kakak melihat dirimu, Kakak merasa bahwa Kakak sedang melihat ibu. Wajahmu, hidungmu, bibirmu, semuanya mirip ibu…”, ucapnya seraya menangis.
“Benarkah…?”, tanyaku.
“Ya itu benar Zah… makannya Ayah sangat menyayangimu karena kau sangat mirip dengan Ibu..”, ucapnya lagi.
“Kau juga sangat mirip dengan Ayah Kak… Kau dan Ayah sangatlah tampan…”, ucapku saat aku melihat foto Ayahku.
“Tentunya…”, ucapnya dengan tersenyum.
“Tempat apa ini Kak…?”, tanyaku saat melihat foto Ayahku, Ibuku dan Kakakku yang sedang berfoto di suatu tempat.
“Ini adalah tempat favorit Kakak, yang dulu adalah tempat bermain Kakak bersama mereka. Tempat ini yang diberikan mereka saat ulang tahun kakak yang ke 12. Tempat ini adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan untuk Kakak”, jelasnya padaku.
“Tempat ini sangat indah sekali Kak…”, kataku.
“Kau ingin ke sana…?”, tanya Kakakku.
“Ingin sekali… tapi, sebelum kita pergi ke sana, aku ingin berziarah ke makam Ayah dan Ibu Kak…”, ajakku.
“Baiklah jika itu maumu Zah…”, ucap Kakakku.
“Kalau begitu, aku ingin siap-siap terlebih dahulu Kak…”, pintaku.
“Baiklah…”, jawabnya.
Gamis berwarna biru muda dan kerudung berwarna biru muda itu membalut seluruh tubuhku. Nampak sebuah tongkat berwarna biru muda tergeletak di lantai kamarku. Dulu tongkat ini yang selalu aku gunakan saat aku berjalan, tapi kini aku tidak memerlukannya lagi. Aku memang sangat menyukai warna biru muda, karna apa? karna biru muda selalu mengingatkan diriku pada langit. Aku juga sangat menyukai warna hijau muda karna warna itu mengingatkanku tentang taman dan rerumputan nan hijau. Bahkan kamarku sangat indah dengan cat warna hijau muda dan biru muda. Nampak indah lukisan yang ada di tembok kamarku itu. Masih teringat di fikiranku, saat Ayah hendak mengecat kamarku ini. Aku yang meminta Ayahku untuk melukiskan pemandangan alam yang indah dengan lukisan danau, taman dan langit yang indah. Bahkan Ayahku menggambar diriku yang sedang bermain dengan Kakakku, Ayahku dan Ibuku. Gambar itu terlihat sangat indah dan nyata. Kulangkahkan kakiku menuju ke luar rumah dan ku lihat seorang lelaki yang tampan yang sangat menyayangiku telah menungguku. Dia menyambutku dengan senyumannya yang membuat dirinya begitu tampan dan manis. Dia adalah Kakakku satu-satunya dan hanya dia yang kini aku miliki.
Setelah sampai di pemakaman, Kakakku mengajakku ke subuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Ayahku. Kemudian Kakakku menunjuk sebuah makan yang ada di sebelahnya dengan batu nisan yang bertuliskan nama Ibuku. Thoriq itulah nama ayahku yang memiliki arti “Bintang Pagi” dan Malihah itulah nama Ibuku yang memiliki arti “Cantik”. Air mata tak kuasa ku bendung lagi saat aku membacakan do’a untuk mereka. Setelah itu, kakaku menggandeng tanganku dan menuju sebuah makam yang masih baru dengan batu nisan yang bertuliskan “Raihan Mumtaz”. Melihat nama itu, aku menangis dn tidak menyangka sekali.
“Kapan dia meninggal kak…?”, tanyaku seraya menangis.
“Beberapa hari yang lalu Zah…”, ucap kakakku.
“Dia meninggal kenapa Kak…?”, tanyaku lagi.
“Dia meninggal karena dia sakit Zah…?”, jawabnya.
“Sakit? sakit apa Kak…? Dia nggak pernah bilang sama aku kalau dia sakit Kak…”, tanyaku.
“Dia sakit Kanker Paru-paru dan waktu itu saat dia pergi ke Singapura, sebenarnya dia sedang kemoterapi Zah…”, ucapnya.
“Kenapa kakak nggak pernah cerita sama Zizah sih kak, kalau Raihan punya penyakit dan dia pergi ke luar negeri buat kemoterapi…”, ucapku kecewa.
“Kakak juga nggak tau waktu itu Zah. Kakak tau setelah dia di rawat di rumah sakit 3 hari sebelum kamu operasi. Hari itu Kakak ngejenguk dia dan dia baru cerita tentang penyakitnya itu kepada Kakak. Dia sendiri yang ngelarang Kakak buat ngasih tau kamu karena dia nggak mau ngelihat kamu sedih”, jelasnya.
“Kenapa Raihan nggak pernah cerita sama aku kak… Padahal, aku ingin sekali orang yang pertama kali aku lihat adaalah Raihan”, ucapku.
“Itu tidak mungkin terjadi Zah, karena Raihanlah yang telah mendonorkan matanya untukmu itu Zah…”, ucap kakakku.
“Apa…? jadi mata ini, mata Raihan Kak,…?”, ucapku seraya meraba mataku.
“Iya Zah…”, jawabnya.
“Raihan… sudah banyak berkorban untukku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya”, ucapku seraya menangis.
“1 hal yang harus kau lakukan untuknya Zah…”, ucap kakakku menerpa kesedihanku.
“Apa itu Kak…”, tanyaku.
“Gunakan mata itu untuk kebaikanmu… wujudkan mimpi terbesarmu Zah…”, jawabnya.
“Tentu… Aku tidak akan menyia-nyiakan semua ini…”, ucapku seraya mengusap air mataku.
“Baguslah kalau begitu… Yang lalu biarlah berlalu dan jalani yang kini… masa lalumu adalah sejarahmu dan masa depan adalah mimpimu. Kau belajar dari sejarahmu, tapi kau belajar untuk masa depanmu. Hidup itu haruslah seperti berjalan, karena apa? Karena setiap kau berjalan, kau selalu memandang ke depan bukan ke belakang…”, ucap Kakakku memberiku motivasi.
“Great… verry great…”, ucapku seraya bertepuk tangan.
“Sejak kapan kau bisa bahasa Inggris…?”, tanyanya.
“Meskipun dulu aku itu buta dan aku tidak bisa sekolah seperti yang lain, tapi aku punya guru yang sangat jenius. Dia mengajarkanku banyak hal dan bukan hanya ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat…”, jelasku.
“Guru…?”, tanya Kakakku lagi.
“Yah… seorang guru muda yang sangat baik…”, ucapku.
“Siapa…? Kau ini, katakan saja yang jelas siapa dirinya…!!! Jangan membuat teka-teki seperti itu. Kau tau, aku sangat tidak suka dengan teka-teki…”, ucapnya nampak marah.
“Baiklah Kakakku… Jangan marah dong… Bukannya Kakak udah janji buat nggak marah sama Zizah…?”, tanyaku seraya menggoda kakakku yang sedang marah.
“Iya sih, tapi kamu jangan bikin kakak marah dong… Kau ini terlalu bertele-tele tau nggak…”,ucapnya.
“Baiklah… Guru itu adalah sahabatku, Raihan…”, ucapku.
“Raihan…?”, tanyanya dengan kaget.
“Iya Raihan… Dia adalah orang yang sangat cerdas…”, pujiku.
“Begitukah… Oh ya bukannya kamu ingin ke tempat itu ya…?”, tanyanya.
“Oh iya… Ayo kita pergi Kak…”, ajakku seraya menarik tangan Kakakku.
Saat aku sampai di sana, entah mengapa rasanya aku pernah datang ke sana. Rasanya aku sangat mengenal suasana di tempat ini. Rasanya tempat ini tidak asing bagiku, meskipun baru sekali aku datang ke sini. Tempat ini sangatlah indah sekali dan aku duduk bersama Kakakku di subuah kursi panjang berwarna hijau muda di tepi danau.
“Hm… Kak, kok rasanya aku pernah ke sini ya…?”, tanyaku.
“Mungkin…”, jawabnya singkat.
“Ih… bener deh Kak. Rasanya aku sangat mengenal tempat ini dan aku semakin mengenal suasana tempat ini saat aku memejamkan mataku… Benarkah aku pernah ke sini sebelumnya…? Tapi dengan siapa…? kapan?”, tanyaku.
“Kau sangat peka Zah…”, ucap Kakakku.
“Hah…?”, ucapku kaget.
“Ya… kau pernah ke sini dan mungkin setiap hari kau datang ke tempat ini…”, ucapnya yang sangat membuatku bingung.
“Tapi dengan siapa Kak…?”, tanyaku lagi.
“Dengan Raihan… Dia waktu itu pernah cerita sama Kakak kalau kamu sangat suka bermain di tempat ini… kau masih ingat dengan batu itu..?”, ucapnya seraya menunjuk ke sebuah batu besar.
“Ya aku ingat Kak… dulu aku sangat suka duduk di batu itu…”, ucapku.
“Ya… tempat inilah yang selalu kau datangi bersama Raihan…”, ucapnya lagi.
“Jadi tempat ini yang selalu aku datangi dengan Raihan…? Di tempat ini aku menceritakan segala keluh kesahku pada Raihan. Di tempat ini aku menciptakan kebahagiaan dan senyuman bersama Raihan. Di tempat ini, aku selalu menangis dan tertawa dengan apa yang telah kulalui dalam hidupku. Di tempat ini, semua kenangan itu terukir… dahulu, aku bisa mengetahui tempat ini begitu indah hanya dengan merasakan dan mendengarkan suasana sekitar tanpa aku melihatnya. Kini aku telah membuktikan keindahan tempat ini dengan melihatnya langsung… Beautiful, verry nice…”, ucapku seraya tersenyum.
“Tempat ini bukan hanya menyimpan kenangan bagiku, tapi kini bagimu juga Zah…”, ucap Kakakku.
“Ya… di tempat ini kita mengukir kenangan indah bersama orang-orang yang kita cintai…”, ucapku.
Aku dan Kakakku larut dalam kenangan-kenangan di masa lalu. Serasa kita sedang menjelajahi dimensi waktu di masa lalu, kita kembali ke masa lalu itu dan kita serasa sedang menonton sebuah film tentang masa-masa indah itu.
“Zah… Ini hadiah dari Raihan sebelum dia meninggal…”, ucapnya seraya memberiku sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita berwarna hijau muda.
“Apa ini Kak…” tanyaku.
“Entahlah aku pun tidak tau… Buka saja Zah…”, perintah Kakakku.
“Baiklah…”, ucapku.
Saat kubuka hadiah dari Raihan itu, aku sangat senang sekali. Dia memberiku hadiah sebuah Al qur’an dengan cover berwarna biru muda, warna kesukaanku dan 2 buah kerudung berwarna biru muda dan hijau muda.
“Kerudung ini sangat indah Kak Raka…”, ucapku seraya menunjukkan kerudung dari Raihan.
“Sangat cocok denganmu Zah…”, ucapnya dengan tersenyum.
“Benarkah…?”, tanyaku.
“Benar,…”, ucapnya seraya mengangguk.
“Lihat Kak…”, ucapku seraya menunjukkan foto-foto yang ada di dalam kotak itu.
“Apakah ini Raihan…”, tanyaku pada Kakakku
“Iya…”, jawabnya seraya mengangguk.
“Lihat ini Kak…! Ternyata Raihan sering memfoto diriku”, ucapku kembali menunjukkan foto-foto itu.
“Orang-orang yang ada di sekelilingku cantik-cantik dan tampan”, ucapku lagi
“Impian terbesarku akan segera kumulai Kak…”, ucapku seraya memandang danau.
“Impian…?”, tanyanya.
“Ya… Impian terbesar yang dulu terpendam kini telah muncul kembali…”, ucapku.
“Kau puitis Zah…”, ucapnya seraya menunjukkan muka muramnya.
“Itu juga salah satunya…”, ucapku.
“Maksudnya…”, tanyanya dengan sangat bingung.
“Salah satu impianku dari banyaknya impianku…”, jawabku.
“Lalu impian terbesarmu apa…?”, tanyanya.
“Impian terbesarku adalah melihat orang-orang yang aku cintai dan sayangi meskipun hanya lewat foto saja. Yang menjadi impian terbesarku adalah membaca ayat-ayat suci…”, ucapku.
“Untuk mewujudkan impian terbesarmu itu, maka kau harus belajar dulu…”, saran Kakakku.
“Maukah Kakak membantuku…?”, tanyaku.
“Membantu apa…?”, tanyanya.
“Ah… Kakak mah dari tadi nggak bisa mencerna perkataanku dan banyak bertanya”, ucapku.
“Perkataan ya nggak bisa di cerna lah Zah… Kamu ada-ada aja deh… yang dicerna itu ya makanan lah…”, ucapnya.
“Maksudnya, Kakak itu dari tadi nggak faham sama apa yang aku katakan…”, ucapku.
“Kalau begitu kau juga nggak bisa mencerna candaan Kakak…”, ucapnya.
“Ah Kakak ini… jadi mau nggak nih…”, ucapku seraya memandangnya.
“Membantu apa…?”, tanyanya.
“Ya membantu mewujudkan Impian Zizah lah Kak…”, ucapku.
“Siap…”, ucapnya seraya hormat dan aku hanya tersenyum melihatnya.
Beberapa bulan telah berlalu dan kini aku sudah mulai pandai membaca al qur’an walaupun aku belum terlalu fasih dalam membacanya. Sekarang, aku juga mulai kembali bersekolah dan sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Sekarang aku sudah bisa belajar dengan baik dan belajar seperti yang teman-teman lainnya. Impian-impanku yang dulu terpendam kini aku mulai mewujudkannya. Kini aku bisa menjadi penyiar radio yang cukup berbakat, penyair, dan juga penulis. Impian terbesarku pun untuk bisa membaca ayat-ayat suci telah aku wujudkan. Tetapi aku akan terus belajar dan terus belajar. Karena apa…? karena aku ingin mendo’akan orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Aku selalu berdo’a agar mereka berbahagia di sisi Tuhan yang maha kuasa. Setitik cahaya harapan dalam kegelapan, kini telah menjadi sebuah cahaya yang indah di dalam hidupku. Dulu, cahaya itu ibarat bintang yang nampak sangat kecil dan berkilauan di antara kegelapan langit malam. Tapi kini, cahaya itu telah menjadi mentari yang amat terang, yang mampu menyinari semesta alam. Dulu, sesuatu yang hanyalah sebuah angan-angan dan mimpi semata, kini telah menjadi kenyataan. Aku selalu percaya, bahwa Tuhan tidak akan pernah menguji umatnya di luar batas kemampuan umatnya itu. Tuhan selalu mempunyai rencana yang sangat indah di balik cobaan yang ia berikan itu. Skenario Tuhan sangatlah indah dan tidak pernah ada duanya. Tidak ada satu orang pun yang dapat menerka skenario darinya. Selalu ada kejutan-kejutan yang Tuhan berikan kepada umatnya. I’am always believe that every trial must be a wisdom. I’am very believe it…
“Raihan… apakah kau bangga kepadaku…? Apakah kau tersenyum di sana melihat diriku di sini yang telah mewujudkan mimpiku…?”, gumamku.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/setitik-cahaya-harapan-si-gadis-buta-part-2.htmlSetitik Cahaya Harapan Si Gadis Buta (Part 1)
Langit nampak sangat cerah berwarna biru muda dengan sentuhan-sentuhan awan lembut yang indah dan bumi sangat subur dengan rumput dan pohon-pohonnya yang berwarna hijau muda. Sebuah danau dengan air yang sangat jernih dan angsa-angsa cantik di atasnya. Angin berhembus dengan pelan, sehingga terasa membelai manja. Beraneka burung bernyanyi dengan merdu dan riangnya. Alam serasa sangat gembira hari ini, tapi semua itu berlainan dengan suasana hati Raka. Ya, seorang pemuda yang tampan dan pandai itu bersedih di antara kebahagiaan alam. Nampak wajahnya yang tampan itu berlinangan air mata. Hidungnya nampak berwarna merah karena sendari tadi dia menangis. Isak tangisannya terdengar cukup keras karena kesedihannya itu. Berkali-kali dia menangis dengan sesenggukan seraya duduk di sebuah kursi panjang di tempat itu. Dia memang sering datang ke tempat itu. Karena tempat itu menyimpan banyak kenangan indah dalam hidupnya. Kenangan indah yang 7 tahun lalu tercipta, kini hanyalah tinggal kenangan… terlintas di benaknya, masa-masa indah 7 tahun yang lalu…
FLASHBACK…
7 tahun yang lalu…
“Assalamu’alaikum…”, ucap Raka saat memasuki rumahnya. Tetapi tidak ada seorangpun yang menjawab salamnya. Nampak rumahnya begitu sepi dan gelap. Suasana gelap ini segelap suasana hatinya saat ini. Hari ini adalah hari di mana usianya genap 12 tahun. Tetapi, tidak ada seorangpun yang mengucapkan selamat padanya, apalagi memberinya hadiah. Tetapi baginya hal yang terpenting dalam ulang tahunnya adalah do’a dari sahabat dan juga orangtuanya. Baru kali ini tidak ada seorangpun yang mengucapkan do’a untuknya dan bahkan kedua orangtuanya tidak ada di rumah.
Hari mulai malam, tetapi kedua orangtuanya belum juga pulang. Sepi, sunyi dan sedih yang menemaninya malam ini. Dia merasa ini adalah ulang tahunnya yang paling menyedihkan dan paling buruk baginya. Ting tong… suara bel rumahnya terdengar dan dia pun segera membukakan pintu.
“Surprise…”, ucap kedua orangtuanya dan teman-temannya serentak seraya membawa sebuah kue ulang tahun yang sangat indah.
“Oh my god…”, ucap Raka kaget. Ternyata kedua orangtua dan teman-temannya tidak lupa dengan ulang tahunnya. Mereka sengaja melakukan ini sebagai kejutan untuknya. Pesta berlangsung dengan sangat meriah dan menyenangkan. Raka sangat gembira dan bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh orangtua dan sahabatnya itu.
Pada keesokan harinya, kedua orangtuanya mengajaknya ke suatu tempat yang kini menjadi tempat favoritnya. Tempat itu tidak jauh dari rumahnya dan tempat itu sangat asri dan indah. Sebuah danau yang cantik dan dihuni oleh banyak sekali angsa-angsa yang cantik dan sebuah bukit yang indah dengan rumput-rumput hijau. Mereka segera mendaki bukit itu dan melihat pemandangan yaang sangat indah. Setelah hari itu, mereka selalu pergi ke tempat itu untuk bermain setiap hari minggu. Raka merasa sangat senang sekali bisa bermain bersama kedua orangtuanya itu dan mendapatkan kasih sayang dari mereka. Hingga suatu hari, Ibunya mengandung lagi, sehingga mereka tidak bisa bermain lagi.
“Ibu, Ayah, ayo kita pergi ke bukit itu lagi…!”, ajak Raka pada kedua orangtuanya.
“Aduh Raka, Ibu kamu itu kan lagi hamil, jadi kamu pergi ke sana sendiri saja!”, ucap Ayahnya.
“Kalau begitu pergi sama Ayah saja…!”, pinta Raka.
“Ayah tidak bisa… Ayah harus menjaga Ibumu…”, ucap Ayahnya yang membuatnya begitu kecewa.
Hari demi hari berlalu dan berganti, rasa sedih selalu menyelimuti hati Raka. Sejak Ibunya mengandung lagi, perhatian orangtuanya semakin berkurang padanya. orangtuanya tidak memperhatikannya lagi. Apalagi, orangtuanya sudah tau bahwa anak yang dikandung Ibunya memiliki jenis kelamin perempuan sehingga orangtua Raka sangat menyayangi bayi yang ada dikandungan Ibunya itu. Raka merasa sangat sedih dan merasa benci kepada adiknya yang belum lahir itu. Hingga suatu hari, Ibunya melahirkan adiknya. Tapi sayangnya, Ibu Raka meninggal saat melahirkan adiknya dan keadaan adiknya itu buta. Hal itu membuat Raka begitu sangat membenci adiknya. Dia selalu menganggap kematiaan Ibunya itu karena kelahiran adiknya.
“Seperti itulah ceritanya Raihan…”, ucapku seraya menangis.
“Mengapa kau menangis Azizah?”, tanya Raihan ketika melihatku menangis.
“Kau tidak tau Han…?”, tanyaku.
“Tau apa Zah?”, tanyanya heran.
“Kau tidak tau kalau cerita yang tadi aku ceritakan padamu itu cerita tentang diriku…?”, ucapku dengan deraian air mata di pipiku.
“Hah…?”, ucapnya kaget.
“Kau tidak menyadarinya?”, tanyaku.
“Benarkah semua itu Zah?”, tanya Raihan padaku.
“Semua itu benar dan aku tau semua itu dari Kakakku sendiri…”, ucapku menjelaskannya pada Raihan.
“Sudahlah kau tidak perlu sedih Zah… mungkin Kakakmu hanya belum bisa menerima kepergian Ibumu…”, ucapnya mencoba menenangkanku.
“Tapi apa aku salah dalam hal ini? Bahkan aku lebih sedih dari Kakakku?. Karena aku tidak pernah tau seperti apa Ibuku dan bahkan aku tidak bisa melihatnya, walau hanya lewat foto. Aku buta Han… aku buta…”, ucapku seraya menangis tersedu-sedu.
“Zah, kau tak perlu sedih…!”, ucap Raihan mencoba menghiburku.
“Bagaimana aku tidak sedih Han?. Aku tidak bisa bertemu dengan Ibuku dan aku tidak bisa melihatnya. Kakakku sangat membenciku dan selalu menghinaku. Aku buta Han, aku tidak bisa melihat…”, keluhku.
“Tapi Ayahmu begitu menyayangimu Zah…”, ucap Raihan.
“Yah, Ayahku memang menyayangiku… tapi Kakakku sangat membenciku. Kenapa Tuhan menghukum aku seperti ini Han? kenapa? apa salahku Han, sampai Tuhan menghukumku seperti ini? apa? apa aku tidak berhak untuk bahagia?”, ucapku seraya terus menangis.
“Jangan katakan itu Zah… Tuhan sangat menyayangimu…”, ucap Raihan menghiburku.
“Tuhan tidak adil Han…”, ucapku lirih karena putus asa.
“Tidak Zah… Tuhan itu maha adil… Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuaannya. Kau harus yakin itu Zah… kau harus yakin bahwa kau mampu melewatinya…”, ucap Raihan.
“Benarkah?”, tanyaku.
“Tentu saja”, jawab Raihan mantap.
Hari mulai malam, Raihan mengajakku pulang ke rumah. Raihan adalah sahabatku satu-satunya dan dia yang selalu perhatiaan padaku. Dia selalu mengajakku ke suatu tempat yang sangat nyaman dan sepertinya tempat itu sangat indah.
Sesampainya di rumah…
“Assalamu’alaikum…”, ucap kami serentak.
“Wa’alaikumsalam…”, ucap Kak Raka dengan nada ketus khasnya itu.
“Untuk apa kau bawa pulang gadis pembawa sial ini?”, ucap Kak Raka yang membuatku sedih.
“Kenapa Kakak berkata seperti itu Kak?”, tanyaku.
“Kenapa? Karena kau yang telah membunuh Ibuku…!”, bentak Kak Raka.
“Aku tidak membunuhnya Kak…! Aku juga ingin Ibu bisa hidup… tapi itu kehendak Tuhan Kak…”, ucapku seraya menangis.
“Jika kau ingin Ibu bisa hidup, maka seharusnya dulu kau tidak perlu dilahirkan…!”, ucapnya.
“Astaghfirullahhal’adzim… Tapi Kak, semua itu terjadi karena kehendak Tuhan… Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan agar kalian bisa hidup bahagia tanpa kehadiran diriku… Tapi apa dayaku, aku hanyalah makhluk ciptaannya dan dia lebih berkuasa…”, ucapku.
“Yah, semuanya sudah terjadi dan aku menyesal punya adik yang buta sepertimu…”, ucapnya dengan lantang.
“Kenapa kau tega berkata seperti itu kepadaku…? Apa yang bisa aku lakukan agar kau tidak marah lagi padaku…”, tanyaku seraya menangis.
“Kau tidak perlu hidup…”, ucapnya yang membuat hatiku hancur.
“Astaghfirullahhal ‘azim Kak Raka… kenapa Kakak berkata seperti itu… Apa aku tidak layak untuk hidup Kak?”, tanyaku dengan penuh derai air mata.
“Kau hidup hanya menyusahkan Ayah dan aku. Ayah selalu sibuk mengurusmu yang buta tanpa memperhatikanku. Sejak kau lahir Ayah tidak peduli padaku dan dia hanya peduli padamu…”, bentaknya.
“Ma’afkan aku Kak… Ma’af… tapi tolong, jangan kau benci aku Kak… aku mohon…”, ucapku seraya memegang kaki Kakakku.
“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mema’afkanmu…”, ucap Kak Raka seraya mendorongku.
“Sudahlah Zah… kau tidak perlu mendengarkan ucapannya itu. Dia hanya marah sebentar dan kemarahannya akan hilang nanti…”, ucap Raihan.
“Apa aku harus mati Han, untuk menebus kematiaan Ibuku?”, tanyaku pada Raihan.
“Untuk apa? kematiaan itu bukan barang sewaan yang bisa kau tebus. Apa dengan kau mati, Ibumu akan kembali hidup? tidak kan…? Jika kau bunuh diri, kau sendiri yang akan menderita nantinya di akhirat, karena di hukum oleh Tuhan. Tuhan sangat membenci orang yang bunuh diri. Kau tau, Ayahmu akan sedih jika kau meninggalkannya. Yang perlu kau lakukan hanyalah berdo’a kepada Tuhan untuk Ibumu dan juga Kakakmu. Kau harus mendo’akan agar Ibumu bahagia di surga sana dan semoga Kakakmu segera diberikan hidayah oleh Tuhan. Agar dia mau menerima semua takdirnya…”, ucap Raihan menasihatiku.
“Ma’afkan aku Raihan…”, ucapku.
“Seharusnya kau harus meminta ma’af pada Tuhan bukan pada diriku. Kau telah berprasangka buruk padanya dan yang harus kau tau, Tuhan itu adil Azizah. Kau harus sabar menghadapi cobaan ini. Aku janji padamu, bahwa aku akan menemanimu dan selalu menyayangimu. Kau tidak boleh sedih, kau masih punya sahabat yang menyayangimu”, ucap Raihan seraya menghapus air mataku.
“Baiklah… tolong antarkan aku ke masjid dan kita solat berjama’ah ya Han…”, pintaku.
“Baiklah… itu baru Azizah sahabatku”, ucapnya.
Raihan adalah orang yang sangat baik dan sholeh. Dia yang selalu menasehatiku ketika aku berbuat salah dan dia yang selalu membantuku dalam melaksanakan ibadah. Dia dulu yang sudah mengajarkanku bagaimana caranya sholat dan berwudu dalam kondisiku yang seperti ini. Hingga sekarang aku bisa melakukannya sendiri. Suaranya sangat merdu saat dia adzan dan membaca ayat suci al-qur’an. Selama ini aku hanya bisa mendengarkannya membaca ayat suci al-qur’an dan aku hanya bisa hafalan. Aku sangat ingin sekali bisa membacanya secara langsung. Tuhan, aku mohon padamu, aku hanya ingin bisa membaca al-qur’an.
Setelah selesai sholat Isya dan mengaji…
“Han, suaramu sangat merdu sekali…”, pujiku.
“Ah… biasa saja”, ucapnya lembut.
“Sungguh suaramu sangat indah dan kau tau aku sangat menyukainya…”, ucapku lagi padanya.
“Tapi, bukankah kau belum pernah mendengarkan aku bernyanyi ya?”, tanyanya heran.
“Bukan saat kau sedang bernyanyi, tapi saat kau sedang melantunkan ayat-ayat suci itu”, jelasku padanya.
“Benarkah…?”, tanya Raihan.
“Aku ingin sekali bisa membaca ayat-ayat suci itu Han…”, harapku.
“Suatu saat nanti kau pasti bisa kok Zah… yang terpenting, kau selalu berdo’a kepada yang maha kuasa. Tuhan pasti akan selalu mendengarkan do’a-do’a dari hambanya”, ucapnya.
“Setitik cahaya harapan dalam kegelapan langit malam…”, ucapku.
“Hah…? Apa maksudmu Zah…?”, ucap Raihan dengan sangat heran.
“Tidak… bukan sesuatu yang penting Han… Hm… Raihan terima kasih ya, kamu sudah sangat baik kepadaku selama ini. Kau selalu menghiburku, membantuku dan mengingatkanku”, ucapku padanya.
“Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang Shohib…”, ucapnya.
“Baiklah… ayo kita pulang”, ajakku padanya.
Saat di rumah…
“Azizah, kamu sudah makan belum nak?”, tanya Ayahku.
“Belum Yah…”, jawabku seraya menggelengkan kepalaku.
“Kalau begitu tunggu sebentar yah, Ayah akan ambilkan makanan untukmu…”, ucap Ayah.
“Tidak perlu yah… Zizah akan ambil makanan Zizah sendiri…”, ucapku.
Setelah mendengar perkataan Kakak tadi sore, aku bertekad untuk belajar melakukan hal-hal yang aku butuhkan sendiri. Aku ingin belajar mandiri dan aku tidak ingin selalu bergantung kepada orang lain. Meski itu sangat sulit, tetapi aku akan selalu berusaha untuk mandiri. Aku ingin perhatiaan Ayah juga terbagi kepada Kakakku. Dengan begitu, mungkin Kakakku tidak akan membenciku lagi. Aku berharap agar hubunganku dengan Kakaku menjadi baik. Aku ingin, keluargaku bisa hidup bahagia.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku menjadi terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Aku berusaha untuk menghafal letak-letaknya entah itu benda atau ruangan. Keberhasilanku itu tidak terlepas dari bantuan Ayahku dan juga sahabatku Raihan. Dia sudah sangat membantuku selama ini.
Saat makan siang…
“Yah, minggu depan aku mau Wisuda… Ayah dateng yah…”, ucap Kak Raka.
“Tapi, siapa yang akan menjaga adikmu…?”, tanya Ayah.
“Adik lagi, adik lagi…”, komentar Kakakku.
“Sudahlah Ayah… Ayah pergi saja ke acara Wisuda Kakak. Zizah nggak papa kok Yah sendirian di rumah. Kan masih ada Raihan yang nemenin Zizah…” ucapku.
“Tapi Zizah, Raihan sedang tidak ada di rumah. Raihan sedang pergi bersama orangtuanya dan mungkin akan lama sekali”, ucap Ayah yang membuatku kaget.
“Raihan pergi kemana Ayah? Raihan tidak berkata apapun padaku”, tanyaku.
“Dia bosan bersahabat denganmu…”, ucap Kakakku dengan nada yang datar.
“Tidak… Mungkin dia hanya ingin berlibur saja, dia pasti kembali kok”, ucap Ayahku.
“Ya sudahlah… Ayah jadi berangkat ke acara Kak Raka kan Yah…?”, tanyaku meyakinkan Ayah untuk datang.
“Baiklah, tapi kau harus janji yah, kalau kamu akan baik-baik saja di rumah. Kamu jangan keluar rumah sampai Ayah dan Kakakmu pulang…”, pinta Ayah.
“Baik Ayah… Zizah janji akan tetap di rumah sampai Ayah pulang”, ucapku.
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari dimana Kakakku, Kak Raka akan mendapatkan gelar ‘Sarjana Hukum’. Ayah dan Kak Raka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke acara Wisuda Kakak di kampusnya. Sebenarnya aku ingin sekali bisa ikut dengan mereka, tetapi tiket masuknya hanya untuk 1 orang, yaitu untuk Ayahku. Lagipula aku juga hanya akan merepotkan mereka jika aku ikut bersama mereka. Aku juga ingin agar Kak Raka mendapatkan perhatian penuh dari Ayah, walaupun hanya hari ini. Aku ingin melihat Kak Raka bahagia.
“Azizah… Ayah sama Kak Raka berangkat dulu ya… kamu hati-hati di rumah… Ayah akan segera kembali…”, ucap Ayah seraya mengelus kepalaku yang berbalut jilbab.
“Baik Ayah… aku janji akan baik-baik saja… Ayah janji ya, kalau Ayah akan segera kembali…!”, pintaku.
“Baiklah… Ayah janji”, ucap ayah seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku.
Entah mengapa aku merasa kata-kata Ayah ada yang terasa aneh. Hatiku merasa sangat cemas saat Ayah pergi. Tanganku terasa gemetar dan berkeringat dingin. Sampai-sampai tongkatku terjatuh karena tanganku sangat licin dengan keringat ini. Tubuhku terasa begitu lemas sekali dan rasanya tidak kuasa untuk berdiri lagi. Entah mengapa, hati kecilku berkata bahwa Ayah tidak akan kembali.
“Ya tuhan, tolonglah jaga dan lindungilah Ayah dan Kakakku… Semoga urusan mereka lancar dan mereka pulang dengan selamat…”, harapku.
Telah lama aku menunggku kepulangan mereka, tetapi mereka tak kunjung datang. Hatiku rasanya sangat cemas dan khawatir sekali. Entah mengapa hati kecilku selalu berkata ada hal buruk yang akan terjadi padaku. Aku mencoba untuk berdiam diri di ruang tamu sejak tadi, agar tidak terjadi hal buruk padaku seperti yang diisyaratkan hatiku. Yah, walaupun hal ini sangat membuatku bosan, tetapi aku berusaha agar tetap diam menunggu kepulangan mereka. Tiba-tiba Kakakku datang…
“Zizah…”, ucap Kakakku seraya memelukku dan menangis.
“Lho kok Kakak nangis sih Kak…? Oh aku tau, pasti Kakak menjadi lulusan terbaik kan Kak? Kakak pasti terharu kan?”, ucapku menerka tangisan Kakak.
“Zizah… ma’afkan Kakak… Zizah…”, ucapnya sedikit tidak jelas karena tangisannya.
“Ma’af untuk apa Kak…? Ayah mana Kak…?”, tanyaku karena sendari tadi tidak aku dengar suara Ayah.
Tiba-tiba terdengar suara mobil ambulan parkir di depan rumahku. Kakakku menangis semakin menjadi-jadi dan hal ini sangat membuatku bingung.
“Kak… Ada apa? Kenapa ada ambulan datang ke rumah? Siapa yang sakit Kak?”, tanyaku pada Kakakku yang terus menangis.
“Ayah Zah… Ayah meninggal…”, ucapnya.
“Apa Kak? Ayah meninggal…?”, tanyaku seraya duduk di lantai.
“Enggak kak itu tidak mungkin, tadi Ayah udah janji sama Zizah kalau Ayah bakal baik-baik saja. Kakak bercanda kan Kak? iya kan Kak? Kakak, tolong katakan padaku kalau Kakak becanda…”, ucapku seraya menangis.
“Kakak tidak bohong Zah… semua ini karena Kakak… Kakak yang salah Zah…”, ucap Kakakku.
“Ayah… Ayah dimana yah… Ayah…”, ucapku seraya berjalan mencari Ayah.
“Yang sabar ya mbak…”, ucap seseorang seraya menepuk pundakku.
“Tidak… Ayahku masih hidup… Ayahku pasti pulang,…”, ucapku tidak percaya.
“Ma’afkan Kakak Zizah, semua ini salah Kakak. Karena kakak yang ceroboh, jadi kita kecelakaan dan Ayah luka parah…”, ucap Kakaku seraya menyandarkan kepalaku ke dadanya.
“Enggak… aku pasti sedang bermimpi… semua ini tidak nyata…”, ucapku.
“Ma’af Zah… Ma’af…”, ucapnya lagi.
“Tidak… itu tidak mungkin…?”, teriakku.
“Ma’afkan Kakak Zah… Ma’af…”, ucapnya.
Sudah 1 minggu kepergian Ayah, Kak Raka menjadi sangat murung. Aku tidak tau kenapa dia sangat murung begitu. Aku mencoba untuk membujuknya agar dia mau bercerita padaku. Tapi, dia hanya mengatakan kata ‘ma’af’ tanpa mau menjelaskan apa yang telah terjadi. Sepanjang hari dia hanya menangis dan terus menangis. Hingga suatu malam Kakakku menuntunku ke teras rumah dan duduk di depan rumah.
“Zizah… Kakak mau bicara sama kamu…”, ucapnya.
“Ada apa kak? Apa yang Kakak ingin katakan?”, tanyaku heran.
“Ma’afkan Kakak Zah… Ma’af…”, ucapnya seperti ucapan yang biasa ia ucapkan sebelumnya.
“Ada apa kak? kenapa Kakak selalu mengatakan itu? tolong jelaskan pada Zizah Kak, apa yang sebenarnya terjadi?”, tanyaku heran dengan ucapannya itu.
“Ayah meninggal karena Kakak… Karena Kakak yang ceroboh jadi kita kecelakaan dan Ayah luka parah lalu meninggal… Karena Kakak terlalu bahagia dengan kelulusan Kakak, jadi Kakak hilang kendali… Bahkan Kakak sempat mengajak Ayah untuk berfoto seraya menyetir mobil… tolong ma’afkan Kakak Zah… Kakak tidak sengaja… Kakak menyesal karena telah melakukan hal yang ceroboh itu…”, ucapnya seraya menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah Kak, itu bukan salah Kakak… semua ini bukan karena Kakak… semua ini musibah…”, ucapku menenangkannya.
“Tolong jangan benci sama Kakak Zah… Kakak minta ma’af…”, ucapnya seraya memegang tanganku.
“Aku tidak mungkin benci sama Kakak…aku akan tetap sayang sama Kakak. Yang aku minta, tolong Kakak jangan benci sama Zizah atas kematian Ibu Kak…”, ucapku.
“Ma’afkan Kakak Zah… Tidak seharusnya Kakak benci sama kamu… Kamu adalah adik kakak yang paling baik…”, ucapnya seraya memelukku.
“Kakak ini… ya jelaslah kalau aku adalah adik Kakak yang paling baik, kan cuma aku adik Kakak…”, ucapku seraya tersenyum.
“Kakak janji, Kakak akan menyayangi kamu… Kakak akan selalu menjaga kamu Zah…”, ucapnya.
“Baiklah Kak… lagi pula cuma Kakak yang sekarang ini Zizah punya”, ujarku.
“Hm… cuma Kakak? Lalu Raihan gimana? Nggak kamu anggap…?”, tanyanya.
“Tentu saja aku menganggapnya. Dia adalah sahabatku satu-satunya dan dia yang selalu perhatian padaku”, ucapku.
“Dimana dia sekarang Zah…?”, tanyanya.
“Entahlah Kak, aku pun tidak tau dimana dia berada…”, ucapku.
“Kalian pacaran ya…?”, tanya Kak Raka.
“Untuk apa aku pacaran Kak… Tidak ada gunanya bagiku dan lagi pula, siapa yang mau pacaran dengan gadis buta sepertiku”, ucapku.
“Kau itu cantik, baik dan sholehah Zah…”, puji Kakakku.
“Tapi aku buta Kak…”, ucapku lirih.
“Tapi, aku lihat Raihan begitu menyayangimu Zah… mungkin dia suka padamu Zah…”, ucap Kak Raka.
“Kalau seperti itu, lalu kenapa? lagi pula, untuk apa aku pacaran… lagipula, pacaran kan tidak dianjurkan oleh Islam. Aku percaya kok Kak kalau dia jodohku, maka Tuhan akan mempersatukanku dengannya… Jodoh itu ada di tangan Tuhan Kak…”, ucapku.
“Jodoh memang ada di tangan Tuhan, tapi jika kau tidak memintanya, maka jodoh itu akan tetap ada di tangan Tuhan…”, ucap Kakakku.
“Aku menintanya, hanya saja Tuhan akan memberikannya jika waktunya telah tiba Kak…”, ujarku.
“Baiklah… Aku selalu kalah kalau berdebat denganmu,…”, kata Kakakku menyerah.
“Aku hanya berharap, agar Raihan tetap ada di sisiku dan selalu menemaniku… Walaupun jika nanti aku tidak berjodoh dengannya…”, harapku.
“Aku akan selalu ada di sisimu Zah…”, ucap seseorang yang amat aku kenal.
“Raihan… benarkah itu kau…?”, tanyaku untuk meyakinkan dugaanku.
“Ya… Ini aku Zah… Ma’afkan aku yang telah pergi tanpa berpamitan denganmu…”, ucapnya seraya menghampiriku.
“Hm… Sang Putri dan Pangeran sepertinya nampak sedang bahagia… Ya sudahlah, pengawal akan pergi…”, ucap Kakaku menggoda kami dan pergi.
“Nampaknya kau dan Kakakmu sudah baikan…? Petir apa yang menyambarnya? Atau kepalanya terbentur tembok mungkin?”, tanya Raihan heran melihat tingkah Kakakku.
“Dia baik-baik saja dan dia seperti itu bukan karena petir atau kepalanya terbentur. Hidayah telah datang menyinari hatinya yang dahulu gelap. Kini hatinya telah kembali terang…”, ucapku seraya tersenyum.
“Baguslah kalau begitu… ngomong-ngomong kau baik-baik saja kan Zah…?”, tanyanya.
“Aku baik-baik saja Han… Bagaiman denganmu dan keluargamu…? Kau pergi kemana beberapa hari ini?”, tanyaku dengan sangat heran.
“Aku pergi ke Singapura bersama orangtuaku Zah…?”, ucapnya dengan nada yang berbeda.
“Kau berlibur disana…?”, tanyaku.
“Oh… Aku tidak berlibur…”, jawabnya.
“Lalu kenapa kau pergi kesana?”, tanyaku heran dengan jawabannya.
“orangtuaku sedang ada urusan disana…”, ucapnya dengan suara lirih.
“Kenapa kau ikut dengan mereka sedangkan kau tidak ada urusan apa-apa…? Seharusnya kau tinggal di sini saja bersama aku dan Kakakku dan kau tidak akan kelelahan seperti itu…”, ujarku ketika mendengar perkataannya yang selalu lebih pelan dari biasanya.
“Em… nggak papa kok… lagi pula, disana aku bisa membantu Ayah dan Ibuku…”, ucapnya lagi.
“Oh… begitu, lalu kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau akan pergi…?”, tanyaku.
“Em… soalnya aku terburu-buru dan semua itu juga mendadak, jadi aku tidak sempat memberi tahumu… Ma’afkan aku Zah…”, ucapnya serasa dia merasa sangat bersalah.
“Untuk apa kau meminta ma’af seperti itu… aku tau kok… tapi sepertinya kau sedang sedih… ada apa Han?”, tanyaku pada Raihan karena aku merasa ada yang sedikit berbeda dengan ucapannya.
“Oh… aku tidak apa-apa kok Zah… Hm… ngomong-ngomong Ayahmu dimana Zah…?”, tanya Raihan.
“Lho kok kamu nangis sih Zah…? ada apa?”, tanyanya lagi saat melihatku menagis.
“Ayahku sudah meninggal Han…”, ucapku seraya menangis.
“Innalilahiwainailahirojiun… Kapan Zah,…?”, tanyanya.
“Beberapa hari yang lalu Han…”, jawabku padanya.
“Bagaimana itu bisa terjadi Zah…?”, tanyanya.
“Waktu itu, Ayah dan Kakakku sedang pergi ke acara wisuda Kakakku. Saat perjalanan pulang, mereka kecelakaan dan Ayahku terluka parah. Saat di bawa ke rumah sakit, Ayahku sudah meninggal. Aku tau setelah jenazah Ayahku di bawa pulang, dan Kakakku menangis di pelukanku. Sejak saat itu sikap Kakakku berubah padaku, dan dia berjanji padaku, bahwa dia akan selalu menyayangiku dan menjagaku…”, jelasku padanya.
“Baguslah kalau begitu… Dengan begitu, aku akan lebih tenang saat meninggalkanmu…”, ucap Raihan yang membuatku kaget.
“Pergi…? Pergi kemana Han…? Mengapa? Apa kau tidak mau bersahabat denganku lagi?”, ucapku.
“Bukan begitu Zizah. Tetapi, jika suatu hari aku ada kepentingan seperti kemarin, aku bisa lebih tenang meninggalkanmu karena ada Kakakmu yang menjaga dan menyayangimu”, jawab Raihan.
“Oh begitu…”, ucapku.
“Kau yang sabar ya Zah. Ayahmu pasti sangat bahagia di sisi Tuhan dan orangtuamupun pasti bahagia melihat anak-anaknya yang sudah akur…”, ucapnya seraya mengelus pundakku.
“Tentu… Aku bukanlah wanita yang lemah. Seperti namaku, aku adalah wanita yang kuat jadi aku yakin bahwa aku mampu untuk menjalani semua ini. Aku yakin ketika langit cerah datang, tiba-tiba Tuhan memberiku hujan, lalu dia pasti akan memberiku sebuah pelangi nan indah untukku. Kini aku pun sangat bahagia, karena Kakakku sudah tidak membenciku dan bahkan dia kini menyayangiku…”, ucaku seraya menghapus air mataku.
“Ya sudah, kamu masuk ke dalam lalu tidur. Hari sudah mulai malam, tidak baik kalau kita tetap di sini…”, ucapnya.
“Baiklah… Tidur yang nyenyak Han…”, ucapku seraya masuk ke Rumah.
“Tentu… Kau juga Zah… Impian terbesarmu akan segera kau dapatkan Zah…”, ucapnya yang membuat langkah kakiku terhenti.
“Maksudmu…?”, tanyaku dengan sangat heran.
“Bukannya kau bermimpi untuk bisa membaca ayat-ayat suci…?”, tanyanya.
“Iya… aku sangat berharap sekali Han… tapi itu rasanya tidak mungkin karena aku buta Han…”, jawabku.
“Impianmu akan segera terwujud Zah…”, ucapnya lagi.
“Benarkah?”, tanyaku.
“Sungguh… kau akan menggengggam mimpimu itu Zah…”, ucapnya.
“Semoga Tuhan mengabulkan do’a darimu itu Han…”, ucapku dengan tersenyum.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/setitik-cahaya-harapan-si-gadis-buta-part-1.htmlKamis, 06 Oktober 2016
Perjuangan Yang Tidak Perlu Diceritakan
Untuk kali ini aku kecewa!
Entah mengapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, aku menangis sejadi-jadinya tentang kegagalanku hari ini. Aku pun heran mengapa aku bisa seperti ini? Aku ingin sekali menghancurkan semua barang yang berada di sekitarku. Aku enggan sekali bertemu dengan orang-orang yang tak mengerti arti sebuah kegagalan yang pahit.
Dari sana aku berfikir bahwa aku hanyalah manusia bodoh yang tidak pernah merasakan kegembiraan. Mungkin ada kalanya manusia itu sampai di satu titik dimana dia harus diam, pasrah, ikhlas, dan tidak memikirkannya lagi!
“Kamu kenapa?” tanya sahabatku yang bernama Lyra.
Lalu aku pun menangis, dan memeluk Lyra erat-erat.
“Ayo ceritakan, semoga saja aku bisa membantu.”
Aku pun menceritakan semuanya sambil menangis tersedu-sedu, “Saat itu aku bertanding Atletik di Bandung, entah kenapa hatiku sangat tidak nyaman, rasa ketakutan itu tiba-tiba saja menyergapku, aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini? Tak biasanya jantungku menjadi berdegup lebih kencang.” Ucapku sambil melepaskan pelukan.
“Kamu tau gak penyebab rasa ketakutan itu muncul?”
Aku menggelengkan kepala dengan lemah.
“Mungkin saja mental bertanding kamu tiba-tiba hilang.”
“Terus aku harus bagaimana?”
“Terus berlatih lebih giat lagi, dan sering-sering baca buku tentang motivasi atau menonton video di youtube.”
Aku tersenyum, “Baik akan kulakukan.”
Aku dan Lyra pun mulai masuk ke dalam kelas dan belajar seperti biasanya.
Lyra adalah sahabatku satu-satunya yang paling setia mendengarkan keluhanku, dia selalu memberikanku motivasi jika aku sedang mengeluh. Aku pun mengambil pelajaran dari kegagalanku hari ini menjadi sebuah cerminan di pertandingan yang akan datang.
Sore hari pun tiba, aku mulai latihan seperti biasa. Aku melihat temanku Dara yang mendapatkan medali emas di pertandingan Atletik kemarin. Aku tersenyum dan mengangguk yakin jika suatu saat nanti aku akan tersenyum bangga dengan berkalungkan medali emas di leherku.
Aku terus berlatih dengan semangat. Aku tidak peduli walaupun sekarang harus menyakitkan, yang terpenting nanti aku harus berhasil, dan aku pun belajar menikmati proses.
Langkah tiap langkah aku jalani, keringat pun mulai membasahi seluruh tubuhku, aku mencucurkan air mata, “Rasanya berat sekali ya Tuhan. Apakah ini yang dinamakan perjuangan?!” Keluhku dalam hati.
Program yang diberikan pelatih tidak pernah usai, aku terus saja mengeluh. Capek! Kakiku malas untuk melangkah. Aku bosan! Aku jenuh! dan aku harus menghadapi ini semuanya, tetapi hatiku selalu saja tidak ikhlas. Aku bingung! Bagaimana cara membangunkan raksasa tidur di dalam tubuhku? Agar aku bisa menikmati proses ini dengan senyuman.
Sebenarnya aku ingin berhenti latihan Atletik, tetapi mau bagaimana lagi, kalau bukan karena sahabatku Lyra, mungkin aku sudah menyerah.
“Aku capek, aku mau nyerah!” ucapku kepada Lyra, ketika kami berdua sedang menikmati makan siang di kantin sekolah.
Lyra lalu melotot kepadaku, “Kamu gak boleh gitu Guf!”
“Terserah aku dong, soalnya aku udah capek, lihat saja teman-temanku disana, mereka sudah terlalu hebat, dan aku sulit mengalahkannya.”
“Kamu dengar, ‘Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya’ kamu mengerti kan?”
Aku menggangguk, “Kalau begitu aku akan mengalahkan diriku sendiri, dan menjadikan mereka sebagai motivasiku.”
“Tapi kamu harus ingat, jerih payah untuk mengalahkan orang lain sama sekali tidak berguna, motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki, ataupun dendam!”
“Kamu sahabat yang paling terbaik Lyra, maafkan aku jika aku sering mengeluh, dan mulai sekarang aku tidak akan mengeluh lagi!”
Lyra pun memelukku erat-erat dan aku pun membalas pelukannya. Air mata kami saling berjatuhan, air mata kebahagiaan itu mulai hadir kembali.
Tiba-tiba saja aku ingin berteriak dalam hatiku. Mengapa? Karena hari ini ada pengumuman, bahwa minggu depan pertandingan Atletik akan dimulai, tepatnya pada hari minggu di Stadion Pajajaran Bandung. Aku senang sekali, karena aku akan membuktikan pada semuanya bahwa aku bisa! Bisa menjadi JUARA!
Aku memberikan informasi ini kepada Lyra, dengan harapan dia memberikanku motivasi.
Malam hari aku menghubunginya lewat telepon, namun terdengar suaranya yang sangat berat sekali.
“Iya ada apa Guf?” tanyanya dengan nada berat.
“Ada kabar gembira Ra, sore tadi kata pelatihku, minggu depan ada pertandingan Atletik di Bandung, dan aku akan mengikutinya.”
“Baguslah. Sekarang kamu dengar, bahwa keberhasilan adalah disaat kita tidak membuang-buang waktu dan mulai mengerjakan sesuatu itu dengan ikhlas, dan ketika kamu harus menjadi robot, jadikanlah dirimu mesin yang canggih. Basahi gear dengan keringatmu, kamu terhebat Guf!”
Aku tersenyum, “Kamu juga terhebat Ra!.”
Terkadang aku berfikir, bahwa beberapa orang memang selalu menganggap mudah semua yang diperjuangkan, sebab yang kelihatan seringkali tak seberat yang sebenarnya. Mulai dari sekarang aku akan menghargai tiap tetes keringat yang aku keluarkan saat berlari, dan aku harus percaya bahwa tiap tetes itu akan menghasilkan kebahagiaan kelak.
Waktu pun terus berjalan. Semenjak aku menelepon Lyra pada malam itu, esok harinya Lyra tidak masuk sekolah, dengan alasan izin keluarga, hingga sekarang. Padahal besok aku mulai bertanding. Tidak semestinya Lyra seperti ini. Ada yang mengganjal, tapi aku tidak tahu.
Keesokan harinya, tepat pada pukul 08.30 namaku dipanggil, dan beberapa rival lainnya, untuk mengikuti lari 400m. Kami mulai menggunakan pakaian bertanding. Jantungku berdegup kencang, aku terus saja menarik nafas panjang. Aku berujar dalam hati, “Jangan sampai semangatku yang kian membeludak kemarin, terkalahkan hanya karena ‘Rasa Ketakutanku’ hari ini, dan jangan sampai dua kata itu membuatku ciut dan berakhir dengan getir.”
Kami pun mulai melangkah ke lapangan, terdengar suara orang-orang di tribun meneriaki kami. Sontak saja jantungku berdegup lebih kencang. Saat kami semua memasuki lintasan masing-masing, panitia pertandingan mulai meneriaki aba-aba, “Pelari bersedia… Siap…” setelah itu terdengar suara pistol “Dorrrr…” pelari pun mulai berlari, termasuk aku sendiri.
Aku mencoba berlari dengan kemampuan kaki ini untuk melangkah, sekencang-kencangnya, tak peduli apapun yang terjadi pokoknya aku harus terlebih dahulu sampai di garis finish, hingga pada akhirnya garis finish itu tinggal 10 meter lagi, tetapi terdapat rival di sebelahku yang mulai mendahuluiku, sontak aku mulai ngotot dan memejamkan mata dan mulai membangunkan raksasa tidur di dalam tubuhku. Hingga akhirnya aku sampai di garis finish.
Aku membuka mataku, remang-remang yang terlihat, semuanya gelap tetapi lama kelamaan terlihat juga, dan mataku kian jelas menangkap sesuatu yang berada di sekelilingku.
“Selamat kamu mendapatkan Gold Medals Guf!”
Rasanya seperti mimpi, tetapi ini nyata! Benar ini nyata! Ternyata semua yang aku perjuangkan itu tidak sia-sia. Pada akhirnya aku bisa berkalungkan medali emas sambil tersenyum bangga. “Lyra lihat berkat motivasi kamu, aku bisa mewujudkan semuanya yang aku inginkan.” Ucapku dalam hati ketika aku mulai melangkah masuk ke dalam kelas.
Tetapi di dalam kelas aku tidak melihat Lyra, aku hanya melihat Niken yang sedang meneteskan air mata sambil menatap sayu kepadaku.
“Kamu kenapa?” tanyaku penasaran.
“Kamu sudah tau kabarnya belum.”
“Kabar apa?”
Lalu Niken pun mengajakku ke suatu tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku. Makam.
“Kamu kenapa ngajak aku ke tempat ini?”
Namun, Niken tetap tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya menarik lenganku dan mulai memilah-milah jalan yang masih terbuat dari tanah merah yang becek karena hujan kemarin turun. Hingga pada akhirnya ia menunjukan sesuatu kepadaku, dia menyuruhku membaca namanya, RIP. SALYRA PUTRI GAYATRI.
Sontak air mata keluar membanjiri pipiku, tanpa bisa aku bendung lagi. Aku menangis! Sahabat yang dulu menyemangatiku dan memotivasiku kini telah tiada, takan ada lagi yang selalu menguatkan aku saat aku terjatuh, takan ada lagi yang memberikanku bahu saat aku membutuhkannya untuk bersandar, takkan ada lagi pelukan yang erat itu. Kini semuanya hilang dan pergi tanpa bisa aku cegah. Perjuangan selanjutnya mungkin perjuangan yang tidak perlu aku ceritakan lagi kepada siapapun.
Andai saja, dulu aku tidak memikirkan diriku sendiri, dan seharusnya dulu aku merasakan bahwa sahabatku mempunyai penyakit ganas itu. aku EGOIS!
Penyesalan memang datang terakhir, kini aku hanya bisa menatap kuburan Lyra berharap dia baik-baik disana.
Setiap hari seusai latihan aku selalu mengunjungi makam Lyra dan selalu membawa MEDALI ini untuknya. Untuk sahabatku.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/perjuangan-yang-tidak-perlu-diceritakan.htmlWALL•E
Pada awal abad ke-22, sebuah perusahaan "raksasa" Buy N Large (BnL) menguasai perekonomian di Bumi, termasuk pemerintahan. Akibat dipenuhi sampah yang tidak didaur-ulang, maka Bumi menjadi sangat tercemar oleh sampah-sampah elektronik, sehingga kelangsungan hidup manusia menjadi terancam. Untuk mencegah kepunahan manusia, Shelby Forthright (Fred Willard) selaku CEO Buy N Large, melakukan pengungsian massal dari Bumi selama lima tahun di atas armada kapal luar angkasa eksekutif bernama Axiom yang menyediakan setiap keperluan manusia, dan dilengkapi dengan robot-robot yang semuanya berjalan secara otomatis untuk melayani kebutuhan manusia.
Ratusan-ribu unit robot penghancur sampah yang dinamai dengan WALL•E ditinggalkan di Bumi untuk membersihkan Bumi. Robot-robot tersebut diprogram untuk memadatkan dan menumpuk sampah-sampah elektronik yang telah memenuhi seluruh daratan di Bumi, agar memudahkan untuk peleburan. Tumpukan sampah-sampah elektronik telah dipadatkan dan dikumpulkan oleh robot-robot WALL•E, tumpukan sampah tersebut telah setinggi gedung pencakar langit. Namun, proyek ini dibatalkan karena Forthright memperkirakan bahwa pada tahun 2110 Bumi sudah terlalu tercemar dan sudah tidak memungkinkan untuk dihuni oleh manusia. Pada tahun 2815, kira-kira 700 tahun kemudian, hanya satu WALL•E yang masih berfungsi.
Berabad-abad kehidupan telah dilalui oleh WALL•E, sehingga ia memiliki kecerdasan yang lebih baik dan rasa keingin-tahuan. Ia gemar mengoleksi barang-barang yang menarik di tumpukan sampah yang memenuhi Bumi, mengambil onderdil untuk suku cadangnya dari WALL•E lain yang sudah tidak aktif. Ia sering menonton film musikal tahun 1969 yang berjudul Hello, Dolly! dari kaset video. Video lainnya yang ia nikmati adalah Put on Your Sunday Clothes, dan adegan berpegangan tangan dalam video "It Only Takes a Moment" yang mengajarnya memiliki perasaan.
Pada suatu hari, WALL•E menemukan sebuah bibit tumbuhan, lalu menanamnya dalam sebuah sepatu usang. Tidak lama kemudian, sebuah kapal luar angkasa mendarat di Bumi dan mengeluarkan EVE (Elissa Knight), sebuah robot perempuan yang dikirim oleh pesawat raksasa yang bernama Axiom, ia diprogramkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan flora di Bumi. WALL•E jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, EVE juga mengagumi kepribadian WALL•E. Sungguh disayangkan, ternyata cinta WALL•E tidak terbalaskan, karena EVE diprogramkan untuk mencari keberadaan tumbuhan di Bumi. Saat WALL•E menunjukkan bibit tumbuhan yang ditemukannya kepada EVE, EVE menyimpan bibit itu ke dalam tubuhnya, setelah itu EVE menjadi non-aktif secara otomatis. WALL•E berusaha melindungi tubuh EVE yang tidak berstatus non-aktif sampai EVE diambil kembali oleh pesawat yang mengantarnya ke Bumi. Dengan rasa gelisah dan panik, WALL•E mengejar pesawat itu. WALL•E berhasil menyusup ke dalam pesawat Axiom.
Setelah berabad-abad hidup dalam mikrogravitasi, manusia di pesawat Axiom banyak kehilangan kalsium, sehingga membuat mereka menjadi sangat gemuk dan tidak mampu berdiri atau berjalan. Aktivitas manusia sepenuhnya dilayani oleh robot. Pilot pesawat Axiom adalah Kapten B. McCrea (Jeff Garlin) juga memerintahkan segala tugasnya kepada sistem autopilot pesawat yang bernama AUTO (suara program MacInTalk). Saat WALL•E mengikuti EVE ke dalam kapal, kelakuannya yang tidak biasa, menyebabkan manusia dan robot bertindak tidak seperti biasanya. Khususnya M-O, robot dekontaminasi yang diprogramkan untuk membersih setiap pencemaran di dalam pesawat, ia mengejar WALL•E supaya ia dapat membersihkan kotoran asing yang bersumber dari Bumi, dan dua orang manusia bernama John (John Ratzenberger) dan Mary (Kathy Najimy) yang sebelumnya hanya melihat melalui media elektronik berupa monitor, sehingga mereka melihat pemandangan secara langsung karena WALL•E membuat mereka terlepas dari monitor yang terpasang di tempat duduk mereka.
Setelah sampai di dalam pesawat, EVE diaktifkan kembali dan diprogram untuk mengantar bibit tadi kepada McCrea agar diletakkan dalam alat pendeteksi yang dinamai holo-detector. Alat tersebut adalah sebuah mesin pendeteksi yang berfungsi memberikan informasi bahwa manusia dapat kembali hidup di Bumi, dan akan mengembalikan manusia ke Bumi secara otomatis setelah mendeteksi bibit tadi yang merupakan pedoman yang memungkinkan manusia untuk kembali hidup di Bumi. Sewaktu akan mendeteksi tumbuhan yang terdapat dalam tubuh EVE, bibit itu hilang. EVE dianggap telah rusak dan dikirim ke bagian perbaikan robot bersama WALL•E. Saat EVE diperiksa, WALL•E menyangka EVE akan dihancurkan oleh mesin pemeriksa tersebut, lalu ia merampas senjata plasma EVE dan menembakkannya, sehingga membebaskan robot-robot rusak lainnya di ruang perbaikan. Tindakan WALL•E menjadi ancaman bagi setiap penghuni pesawat Axiom, EVE dan WALL•E menjadi buronan yang dianggap robot berbahaya. EVE yang tidak tahan dengan sikap WALL•E, mencoba mengantarnya kembali ke Bumi dengan menggunakan sebuah kabin.
Saat asisten utama McCrea (GO-4) tiba dan menyimpan bibit yang hilang itu ke dalam kabin, ternyata GO-4 yang mencurinya tanpa diketahui McCrea. Melihat bibit tersebut, WALL•E memasuki kabin tempat diletaknya bibit tersebut. GO-4 akan menghancurkan kabin tersebut dengan mengaktifkan program penghancuran secara otomatis sehingga akan meledak setelah hitungan mundur 20 detik. Saat itu WALL•E berada di dalam kabin tersebut, namun WALL•E berhasil meloloskan diri bersama bibit itu sedetik sebelum musnahnya kabin tadi. EVE lega karena WALL•E menyelamatkan bibit itu dan mereka terbang dengan bahagianya di angkasa sekitar pesawat Axiom.
EVE dan WALL•E mengembalikan bibit itu kepada McCrea. Kapten McCrea ingin mengetahui bagaimana keadaan Bumi pada saat ini, lalu McCrea memutar rekaman yang direkam oleh kamera yang terpasang pada EVE, yang membuat EVE menyaksikan usaha WALL•E melindunginya ketika ia dalam status non-aktif. Akhirnya, EVE juga jatuh cinta pada WALL•E. Terpesona oleh gambar-gambar kehidupan zaman dulu di Bumi sebelum berdirinya Buy N Large, McCrea perihatin melihat kerusakan alam di Bumi yang digambarkan dalam rekaman EVE. Kemudian McCrea merencanakan agar manusia kembali ke Bumi untuk memulihkan segalanya. Namun, AUTO menegaskan bahwa manusia tidak boleh kembali ke Bumi, lalu ia terpaksa menampilkan tayangan berupa rekaman Shelby Forthright yang memerintahkan semua autopilot agar tidak mengembalikan manusia ke Bumi, karena proyek pembersihan yang diusahakan telah gagal. AUTO yang dirancang untuk menuruti perintah tersebut, memberontak dan membuang bibit tumbuhan tersebut. Dalam memperebutkan bibit itu, AUTO dengan ganasnya menyerang WALL•E yang mencoba melindungi bibit itu dan menekan tombol non-aktif di badan EVE. WALL•E dan EVE dibuang ke tempat pembuangan sampah bersamaan dengan bibit tadi, dan mengunci McCrea di dalam kamarnya.
Di tempat pembuangan sampah, EVE kembali aktif setelah sebuah tombol yang ada di dada EVE tersentuh oleh tetikus yang merupakan tikus dalam pesawat Axiom. EVE berusaha mencari WALL•E, setelah menemukannya EVE melihat WALL•E telah rusak berat. Ia berusaha memperbaiki WALL•E, tapi usahanya sia-sia karena tidak ada komponen tubuh WALL•E yang cocok dengan yang ia temukan. Pada saat proses pembuangan sampah diaktifkan, gerbang pembuangan terbuka. Saat itu juga datang M-O yang mengejar WALL•E karena ingin membersihkan kotoran asing yang melekat di tubuh WALL•E. Kemudian M-O terjepit gerbang yang tertutup setelah sampah beserta WALL•E dan EVE dikeluarkan dari tempat pembuangan. Gerbang tidak sepenuhnya tertutup karena M-O terjepit pada gerbang saat mengejar WALL•E untuk membersihkan kotoran asing. Kesempatan ini digunakan oleh EVE untuk menyelamatkan diri dari pembuangan.
Setelah berhasil menyelamatkan diri dari tempat pembuangan sampah dengan bantuan M-O, EVE menolak perintah otomatis yang telah diprogramkan untuk membawa bibit ke pesawat. Ia masih berusaha untuk memperbaiki WALL•E, tapi WALL•E berharap EVE menuruti perintah tersebut sambil mengingatkan EVE jika seandainya mereka berhasil kembali ke Bumi, WALL•E dapat diselamatkan dengan suku cadang yang disimpannya.
WALL•E dan EVE membawa bibit tadi untuk diletakkan di mesin pendeteksi yang ada di pesawat Axiom dengan bantuan M-O. Mereka berdua dibantu McCrea yang menyuruh mereka agar cepat ke mesin pendeteksi tersebut, mereka juga dibantu robot-robot rusak yang membantu mereka dengan melawan robot-robot penjaga. McCrea membohongi AUTO dengan mengatakan bahwa bibit itu ada padanya, dengan mengelabui AUTO melalui visual dari monitor. Kemudian AUTO mendatangi McCrea, lalu mereka berkelahi. McCrea berhasil mengaktifkan mesin pendeteksi, mengakibatkan AUTO memiringkan posisi Axiom, mengakibatkan manusia-manusia yang tidak dapat berjalan menjadi berjatuhan dan tertumpuk di sudut pesawat. Auto mencoba menutup mesin pendeteksi tersebut, namun ditahan WALL•E dengan mengorbankan tubuhnya. McCrea berusaha untuk berdiri dan berjalan untuk mendekati dan mengalahkan AUTO. Pada saat perkelahian dengan AUTO, McCrea melihat tombol merah yang terbuka di bagian tubuh AUTO. Lalu McCrea menekan tombol tersebut, sehingga AUTO yang merupakan pengendali pesawat Axiom menjadi berstatus manual. McCrea dapat dengan sepenuhnya mengendalikan AUTO, dan mengembalikan posisi Axiom ke posisi semula. Akhirnya, bibit berhasil dimasukkan ke dalam mesin pendeteksi (holo-detector), dan melepaskan WALL•E yang bertambah rusak karena terjepit mesin pendeteksi yang akan menutup. Setelah bibit tadi dimasukkan ke dalam holo-detector, pesawat Axiom menuju ke Bumi dengan kecepatan cahaya.
Setelah mendarat di Bumi, EVE bergegas memperbaiki dan menghidupkan kembali WALL•E dengan menggunakan suku cadang yang ada di tempat tinggal WALL•E. Sayangnya, WALL•E telah rusak berat dan hampir semua komponennya ditukar oleh EVE dengan yang baru. Meskipun WALL•E telah diperbaiki dengan sempurna, tapi WALL•E bukanlah WALL•E yang dikenal EVE. WALL•E telah menjadi WALL•E yang diprogram untuk mengerjakan tugasnya dan tidak memiliki perasaan dan ingatan yang dimiliki WALL•E yang EVE kenal. EVE sedih karena WALL•E yang dicintainya sudah tiada, EVE memegang tangan WALL•E lalu menempelkan kepalanya ke kepala WALL•E (bermakna ciuman). Percikan listrik dari "ciuman" tadi memulihkan ingatan dan kepribadian WALL•E, lalu dia dapat mengingat EVE dan bahagia karena dapat berpegangan tangan dengan EVE.
Manusia dan robot bekerjasama dalam memperbaiki kehidupan di Bumi dengan harapan baru, di bawah pimpinan McCrea. Akhirnya, kehidupan yang normal dapat dinikmati kembali oleh manusia. Seiring waktu dan kerjasama manusia dengan robot, Bumi kembali normal seperti sediakala. Mengenai kelanjutan kehidupan manusia beserta para robot di Bumi, dapat dilihat pada lukisan-lukisan yang terdapat pada kredit penutup dalam film animasi ini.
sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/WALL%E2%80%A2ERabu, 05 Oktober 2016
Nasi Goreng Plus Plus (Part 1)
“Woyyy, ngapain loe ngelamun di pinggir danau siang bolong kaya gini, kesambet baru tau rasa loe, hahaha”, teriak seseorang tepat di lubang kuping gue.
“Ehh Kampret, bikin kaget orang seenak jidat loe aja, kalo gue nyampe nyemplung mau tanggung jawab loe?” bentak gue sambil pasang muka garang saking keselnya.
“Tuh kan bener loe jadi kesurupan gara-gara ngelamun di pinggir danau, ih serem banget tuh muka”, ledeknya kaya orang gak punya dosa.
Pleeetakkk, gue males debat jadi gue jitak aja tuh kepalanya. Haha rasain.
“Aww, sakit tau, kasar banget sih jadi cowok, dasar tengil”, sambil mengusap-usap kepalanya, kasihan juga sih gue tapi itu balesan karena ulah yang udah dia perbuat, haha
“Makanya jadi orang jangan usil, haha, tau rasa kan?”
“Sakit beneran tau, tega banget sih.. hikhik”, dia menunduk sambil sedikit terisak.
“Iyaa maaf, gue udah nyakitin loe, gak lagi-lagi deh” sambil ngusap-ngusap kepalanya, ujung-ujungnya gue juga yang ngerasa bersalah.
“Gue mau maafin loe tapi ada syaratnya”
“Hmm, Apaan?”
“Temenin gue jalan-jalan sampe sore, gue BT banget, oke? He”, pintanya.
Mikir sebentar… “Ya udah deh ayo, demi kata maaf dari sahabat terbaik gue apapun akan gue lakuin”, rayu gue, walaupun dengan berat hati mengiyakan, panas bro siang hari gini harus jalan-jalan, kalo dia bukan sahabat gue, ogah deh.
“Ya udah ayo gak pake lama”, dia langsung narik tangan gue menjauh dari danau.
Pegel rasanya semua badan gue setelah setengah hari jalan-jalan sama Tiara.
Hampir 5 jam gue jalan-jalan sama dia, pake jalan kaki lagi, dari taman deket danau sampe keliling pasar gara-gara dia ngidam ngebet pengen es cream duren, (jangan ngebayangin ngidam karena lagi bunting ya), dan gue terpaksa nurut demi menebus dosa setelah gue jitak kepala dia. Konyol juga sih kalo dipikir-pikir.
Oh iya, nama gue Ricky, gue sahabatan sama Tiara udah dari kita masih SD, sampe sekarang kita udah mau menginjak SMA kelas 2, entah kenapa selama kita sekolah selalu saja bareng, itulah alasan kenapa separuh dari usia gue saat ini dihabiskan sama Tiara. Tapi jujur gue nyaman banget kalo lagi deket sama dia.
Kalo dari fisik Tiara tuh orangnya cukup manis. Tubuhnya mungil tingginya cuma sebahu gue, harusnya sih gak sulit buat bikin cowok manapun jatuh hati sama dia, tapi gak tau kenapa dia masih milih buat gak pacaran dulu, katanya sih dia mau fokus belajar, dan satu lagi dia orangnya cerdas, sama kaya gue, selain kita ini sahabat kita juga saingan di sekolah kalo soal prestasi. Kalo gak gue yang juara 1 ya dia, kita sering salip-salipan ranking kaya Rossi dan Lorenzo (malah bahas Moto GP).
Udah 2 minggu liburan kenaikan kelas gue lalui, tiap hari ya sama siapa lagi kalo bukan sama Tiara dan besok adalah hari pertama kita sekolah, mulai belajar lagi di kelas 2 SMA.
Senin, 14 Juli, hari pertama sekolah di tahun ajaran baru.
Tok.. Tok.. Tok..
“Ricky”, Panggil Tiara sambil mengetuk pintu rumah.
Tak berselang lama pintu pun terbuka.
“Eh Tiara, pagi-pagi udah jemput, semangat banget nih yang baru naik kelas 2”, tegur Umi Eva yang tak lain adalah nyokap gue.
“Pagi tante, Hee, Tiara mau ajak Ricky berangkat sekolah bareng, Tante”, ungkap Tiara
“Pagi juga Tiara, oh iya Ricky masih di kamar, masih siap-siap kayanya, ayo masuk dulu”
“Hmm, makasih Tante, Tiara nunggu disini aja”
“Oh ya udah, tante panggil Ricky dulu”
“Ricky, dijemput sama Tiara nih, jangan kelamaan siap-siapnya”, teriak Umi gue.
“Iya Umi, tunggu bentar”, balas gue dari dalam kamar.
“Rajin bener tuh bocah jam segini udah nyamper”, batin gue sambil liat jam dinding ternyata masih jam 6 kurang 10 menit.
Langsung gue pake sepatu dan tas gue terus beranjak ke luar.
“Ini dia akhirnya anak Umi nongol juga, payah kamu masa kalah rajin sama Tiara, udah dijemput duluan”, sambut Umi bersamaan dengan kedatangan gue.
“Dianya aja yang keasikan, mau sekolah kaya mau ke pasar”, timpal gue.
“Yee, kan biar bisa nyantai di jalan Ky”, balas Tiara. “Ya udah yuk berangkat”, ajaknya
“Ya ayo”
“Mi kita berangkat dulu”, gue pamit sama Umi sambil cium tangan.
“Eh kok gak sarapan dulu?”, tanya Umi
“Gampang ntar aja sarapan di kantin Mi”, jawab gue
“Ya udah, kalian hati-hati di jalan ya, belajarnya yang semangat”, sambung Umi.
“Oke Mi Siap, Assalamu alaikum”
“Berangkat dulu Tante, Assalamu alaikum”, pamit Tiara
“Wa alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh”
Sekolah gue sama Tiara gak begitu jauh, paling 15 menit kalo naik angkutan umum, kita sering berangkat bareng pake angkot, bukan karena gue gak mau bawa sepeda motor, tapi karena memang peraturan di sekolah gue yang gak ngizinin semua siswanya bawa kendaraan pribadi.
“Ky, ke taman dulu yuk, ntar berangkatnya, toh masih terlalu pagi”, ajak Tiara.
“Eh terus ngapain loe jemput gue pagi-pagi banget?, mending langsung ke sekolah aja, gue belom sarapan”, heran gue sama ini anak.
“Gak usah komplen dulu ngapa, justru itu, gue punya sesuatu”, jawabnya makin buat gue gak paham.
“Apaan?”
“Ntar aja kalo udah nyampe taman, ayo”, jawabnya sambil narik tangan gue.
“Woy, gue cowok jadi gue yang di depan”, gantian sekarang gue yang narik tangan dia.
Tiara cuma tersenyum melihat sikap lelaki yang sekarang ada di depannya.
“Udah disini aja jangan jauh-jauh, ntar kita bisa ketinggalan angkot”, gue berhenti dan duduk di sebuah bangku taman yang tak terlalu jauh dari jalan raya.
Masih sepi, tak begitu banyak orang, yang ada hanya satu dua pedagang jajanan dan sedikit orang yang lewat, sebagian ada yang berjalan dengan pakaian kerja, dan ada juga yang hanya sekedar jalan-jalan untuk menghirup segarnya udara pagi.
“Oke”, angguk Tiara sambil membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu seperti kotak makanan.
“Nih, spesial buat tuan Ricky Akbar Ardhani sahabat terbaik gue, hasil jerih payah gue dari jam 4 subuh, abisin ya!”
“Nyampe jari-jari loe harus diperban kaya gitu?”, tanya gue gak sengaja liat tangannya.
“Hehehe, kegores dikit doank tadi pas motongin bawang”, jawabnya sambil tersenyum.
“Loe bikinin gue apaan sih Ra?”, tanya gue penasaran lantas membuka kotak pemberian Tiara.
“Nasi Goreng?”, tanya gue polos.
“Ketan Bakar!!! Emang loe pikir apaan?, jelas-jelas nasi goreng”. “Nasi goreng plus plus”, jawabnya sedikit kesel sama gue kayanya. Biasa lah cewek emang super sensitif.
“Yee malah manyun, gue kan cuma memastikan”, gue cuma nyengir datar.
“Heran aja, tumben loe repot-repot bikinin gue sarapan?”, tanya gue penasaran.
“Pengen nyoba aja masak, gue kan dah gede, jadi emang udah seharusnya kan gue belajar masak?”, timpalnya
“Hahaha, pengen cepet-cepet nikah loe ya Ra?, ketauan sekarang”, ledek gue.
“Eh tengil malah ngeledek, mikirnya kejauhan”, sanggahnya.
Kayanya dia kepancing sama ledekan gue.
“Mau dimakan gak? Kalo gak, mending gue kasih sama kucing aja sini”, ada raut marah dan kecewa di wajah Tiara.
“Eh jangan donk gue becanda Ra, sekarang juga gue abisin”, dan gue langsung melahap habis nasi goreng buatan Tiara.
Sepasang mata hanya memandang gue yang sedang memakan hasil karyanya, dengan senyuman yang sedikit tertahan.
“Uhh, Abis juga”. “Eh ngomong-ngomong loe bawa minum kan?, Jangan sampe loe gak tanggung jawab, ngasih makan tapi gak bawa minum, dan ngebiarin gue mati keseretan”, tanya gue panik
“Hahaha, loe nya aja makan kaya abis puasa setaun, doyan apa laper?, Nih minumnya tuan, gak usah panik”, tawa Tiara riang.
“Gimana nasgor buatan gue? Enak donk pastinya?”, senyum bangga tersimpul di bibirnya.
Tanpa basa-basi gue sambar air mineral dalam botol di tangan Tiara dan langsung meminumnya.
“Nasi goreng plus-plus, plus garamnya plus asinnya. Emang bener kayanya loe harus cepet dinikahkan Ra, hahaha”, ledek gue lagi.
“Terserah loe deh, iya abis lulus SMA gue langsung nikah tenang aja, sekalian aja sama om om, biar loe puas”, kayanya dia gak suka terus-terusan gue ledek.
“Hee, maafin gue deh Ra, nasi gorengnya enak kok, pas di lidah gue, makasih ya loe udah repot-repot bikinin gue sarapan”. “Ngomong-ngomong soal nikah loe gak serius kan?”, gue bener-bener jadi merasa bersalah lagi dibuatnya.
“Kalo beneran serius emang apa peduli loe?”, dia masih ketus.
“Jangan donk Ra, gue belom siap kehilangan loe, gue gak tau seberapa beratnya ketika harus ngelepas loe, loe sahabat gue Ra, yang selalu perhatian sama gue, loe yang terbaik Ra”, ungkap gue tulus.
Mata gue dan Tiara saling tatap. sekilas terlihat basah bola matanya. Gue lihat ada tatapan yang berbeda, entahlah gue gak tau apa makna tatapan itu. Kurang lebih 10 detik mata gue gak bisa lepas dari matanya. Hingga gue tersadar udah 20 menit gue sama Tiara duduk berdua di bangku taman.
“Eh Ra, dah siang berangkat yu!”, ajak gue mengagetkan dia dari lamunannya.
“Eh iya yuk”, dia langsung memasukan kotak nasi dan botol air miliknya ke dalam tas.
“Tuh angkotnya dah dateng yu buruan”, gue langsung menggandeng tangan Tiara dan menariknya.
Dia tersenyum penuh arti.
Rasa kagum yang makin hari makin bertambah.
Ya, rasa kagum kepada lelaki yang selama ini selalu berada di sisinya.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/nasi-goreng-plus-plus-part-1.html










