/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/symbols/sym-7/sym646.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/symbols/sym-7/sym646.gif), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 29 September 2016

Ketika Doa Ibu Menembus Langit

Terik matahari menyinari kampung itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar… Allahu Akbar, Allahu Akbar! Siang itu, terdengar naungan suara Adzan Dzuhur. Terlihat sebuah rumah yang bangunannya tidak terlalu besar. Seorang bocah yang penampilannya berantakan dengan pakaian sekolah, memasuki rumah itu. Dia adalah Yunus, bocah berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku SMP. “Bu… Aku pulang…” Ucap Yunus. “Iya nak, Wa’alaikumussalam…” Jawab Ibu Aisyah. Ibunya Yunus. “…” Yunus hanya diam sembari melepas kedua sepatunya. Lalu Yunus memasuki kamar Ibunya. Terlihat Ibunya sedang duduk menangis setelah menunaikan Shalat Dzuhur. Dan Yunus ikut duduk di samping Ibunya. “Bu, kenapa nangis?” “…” Ibu Aisyah hanya diam sembari membasuh air matanya. “Ada makanan gak? Aku belum makan nih.” Tanya Yunus. “Sabar ya nak, abis ini… Ibu mau jual lemari kecil itu dulu untuk kita makan.” Jelas Ibu Aisyah. “… Sore?” “InsyaAllah… Sabar ya nak, soalnya udah satu bulan ini Ayah kamu pergi tanpa kabar.” “Apa dia pergi ninggalin kita berdua?” “Sssttt, gak boleh ngomong gitu… Ayah kamu pasti lagi cari uang untuk kita.” Jelas Ibu Aisyah yang mencoba menutupi aib suaminya dari buah hatinya. “Iya…” Hari itu pun berlalu, dan keesokan harinya pun tiba. Ashalaatu Khairum Minannauum… Ashalaatu Khairum Minannauum…! Terdengar Adzan Subuh di kampung itu. Yunus terbangun dari lelap tidurnya, ia berjalan perlahan dan membuka jendela kamarnya. Matanya menatap keluar jendela, melihat orang-orang berdatangan ke Masjid untuk menunaikan Shalat Subuh. Dari orangtua, remaja, hingga anak-anak pun berjalan menuju Masjid. Tanpa disadari air matanya Yunus jatuh. Dan ia pun segera membasuhnya dan segera ke luar dari kamarnya. Dan kini ia duduk di teras rumahnya. Menatap langit dan mengingat Sang Pencipta. Namun di benaknya Yunus berkata, “Ya Allah… apa yang harus aku lakukan untuk membahagiakan Ibu?” Beberapa menit kemudian, terdengar Ibu Aisyah melantunkan Ayat Suci (QS. Hud). Kemudian Yunus mendengarkannya ayat demi ayat, mencoba merasakan getar tubuhnya dan merdu suara Ibunda nya. Perlahan Ibu Aisyah melantunkannya sembari menangis, dan Yunus pun ikut menangis. Seusai Ibu Aisyah melantunkannya, Yunus segera memasuki kamar Ibunya dan ikut duduk bersama Ibunya. “Bu… Ibu bacanya sambil nangis, suara Ibu juga merdu banget… Aku sampai ikut nangis gini. Kasih tau dong, yang tadi Ibu baca itu Surat apa namanya?” Tanya Yunus. Ibu Aisyah pun tersenyum penuh rasa syukur. “Alhamdulillah… Yang tadi Ibu baca itu Surat Hud (Nabi Hud), emangnya kenapa?” “Enggak sih… Gak tau kenapa badan aku gemetar aja pas denger Ibu baca itu tadi, kira-kira yang awalnya yang bacaannya “Wa anistaghfiruu… Emm, pokoknya yang kayak gitu deh.” Jelas Yunus. “Oh, yang ini… “Wa-aniistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaihi yumatti’kum mataa’an hasanan ilaa ajalin musamman wayu’ti kulla dzii fadhlin fadhlahu wa-in tawallau fa-innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin kabiirin. Ilallahi marji’ukum wahuwa ‘ala kulli syai-in qadiirun.” Itu Surat Hud ayat 3 sampai dengan 4.” Ibu Aisyah melantunkan dan menjelaskannya. “…” Yunus hanya terdiam mendengarkannya. “Mau tau artinya?” Tanya Ibu Aisyah. “Apa tuh?” “Disini tertulis… “Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu serta bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat). Kepada Allah-lah kamu kembali. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Hud :3-4)” Gitu artinya…” Jelas Ibu Aisyah. “Oh gitu… Ya udah deh.” Jawab Yunus singkat. Lalu Yunus peranjak kembali ke kamarnya meninggalkan Ibunya. Ibu Aisyah hanya menatap langkah kaki Yunus, dan mengingat apa yang dulu pernah dikatakan oleh Kakeknya Yunus… “Lihat dia Aisyah… Walau tak banyak bicara tapi anakmu itu cerdik. Bapak selalu memperhatikan saat dia bermain. Dia selalu memberi solusi dan kawan-kawannya selalu menyetujuinya. Hai Aisyah, didik dia sebaik mungkin. Ada penyair berkata, “Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa didapatkannya dari orangtuanya. Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh.” Gimana, ngerti?” Lalu di benaknya berkata, “Iya Pak, aku akan berusaha. InsyaAllah.” Waktu keberangkatan sekolah Yunus telah tiba. Terlihat Yunus sedang mengikat tali sepatunya. “Yun…?” Panggil Ibu Aisyah dari dalam kamar. “Ih, Ibu… jangan panggil aku ‘Yun’ dong… kayak nama Cewek tau.” Ucap Yunus. “Hahaha, iya maaf-maaf… tolong kesini sebentar.” Lalu Yunus menghampirinya. “Ya, kenapa?” “Nih, Ibu punya sedikit uang hasil jual lemari kemarin. Kamu bisa beli nasi di kantin sekolah.” Jelas Ibu Aisyah sembari menyodorkan uang senilai 5000 Rupiah. “Kasih aku 2000 aja bu, 3000 nya untuk Ibu beli makan siang.” “Gak usah nak, Ibu masih punya uang simpanan yang cukup untuk makan siang kita.” Jelas Ibu Aisyah. “Ya… Makasih, Ya udah ya… Aku berangkat dulu.” Ujar Yunus. Yunus pun berangkat ke sekolah. Namun tujuan utamanya bukan untuk kesekolah, tetapi ke arah ruko tempat orang-orang berjualan. Yunus mampir di sebuah Masjid. Ia masuk kedalam toilet, dan di dalam toilet itu ia melepas seragam sekolahnya, menggantinya dengan pakaian yang biasa ia pakai. Kini ia menghampiri tiap toko satu-persatu. Meminta pekerjaan untuknya. Apapun pekerjaannya akan ia lakukan yang penting Halal, demi membahagiakan Ibunda tercinta. Begitu pikirnya. Setiap toko ia datangi dan memohon, namun tak ada yang ingin menerimanya. Tepat di hadapannya, sebuah Rumah Makan. Namun ia mengurungkan niatnya untuk meminta pekerjaan di tempat itu. Karna tak mungkin Rumah Makan itu menerimanya untuk bekerja. Begitu pikirnya. Pandangan Yunus tertuju pada sebuah kotak amal yang ada tepat di samping pintu masuk Rumah Makan itu. Yunus terus memerhatikan kotak itu dari seberang. Dan terlintas di pikirannya untuk mencurinya. Ibu sang pemilik Rumah Makan itu memerhatikan gerak-gerik Yunus dari balik kaca. Terlihat Yunus melirik kanan-kiri dan saat itu terlihat sepi, Yunus pun menghampiri kotak itu. Ibu pemilik Rumah Makan itu berdiri dan siap berteriak jika Yunus benar mengambilnya. Yunus mulai membuka tas ranselnya. Namun bukan untuk memasukan kotak itu ke dalamnya, melainkan ia mengambil uang yang ada di dalam tas dan memasukan uang itu kedalam kotak amal itu. Masih ada banyak anak lain yang lebih menderita daripada aku. Begitu pikirnya. Dan Ibu pemilik Rumah Makan itu tersenyum lepas dan segera menghampiri Yunus. “Dek? Ada yang bisa dibantu?” Tanya Ibu pemilik Rumah Makan yang mencoba mengejutkan. “Hah! I, Iya…” Jawab Yunus agak terkejut. Yunus pun menceritakan niatnya mengapa ia datang ketempat ini, dan saat itu juga Yunus langsung diterima bekerja di Rumah Makan itu di bagian pencucian piring. Beberapa jam kemudian, waktu menunjukan pukul 11.45 siang. Yunus meminta izin pulang sebentar untuk mengantar makanan untuk Ibunya dan makan siang bersama Ibunya di rumah. Dan ia akan kembali lagi setelah makan siang. Dengan diam-diam Yunus menyangkutkan 2 bungkus nasi dalam plastik di gagang pintu rumahnya. Setelah itu Yunus pergi menuju toilet Masjid untuk mengganti pakaiannya lagi. Saat Yunus ke luar dari Toilet, tiba-tiba datang seorang Kakek berjenggot menghampiri Yunus. “Nak, boleh tau nama kamu siapa?” Tanya sang Kakek. “…” Yunus hanya diam kebingungan. “Nak? Apa kamu mendengarku?” Tanya lagi sang Kakek. “Ah. Iya, maaf… Namaku Yunus.” Jawab Yunus agak gugup. “Oh, Nama yang bagus…” Allahu Akbar, Allahu Akbar… Allahu Akbar, Allahu Akbar! “Hm… Udah Adzan, ayo kita Shalat berjamaah di dalam.” Ajak sang Kakek. “Ta, tapi…” Yunus nampak kebingungan. “Wajah kamu menunjukan kalau kamu ada masalah, jadi… ayo kita Shalat berjamaah dan berdo’a bersama-sama kepada Allah.” “… Iya.” Yunus pun mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid itu. Beberapa menit kemudian ia pulang ke rumahnya dengan mata lebam yang di sebabkan menangis disaat Shalat dan berdo’a. “Assalamu’alaikum… Bu, aku pulang.” Ucap Yunus. Ibunya pun agak terkejut setelah anaknya mengucap salam. “Wa’alaikumussalam… Ya…” Jawab Ibu Aisyah. Saat Yunus memasuki rumah, ia tersenyum tulus ketika melihat Ibunda tercintanya sedang menyiapkan makanan dengan wajah ceria. “Yunus, mata kamu… Kamu habis nangis ya? Ada yang nakalin kamu?” Tanya Ibu Aisyah dengan nada khawatir. “Oh ini, nggak kok… Tadi aku abis Shalat berjamaah di Masjid.” Jawab Yunus agak malu-malu. Ibu Aisyah pun terpukau terhadap Yunus, dan segera memeluknya. “Alhamdulillah ya Allah… Do’a ku terkabul.” Ucap Ibu Aisyah dengan penuh syukur. Apa ini? Perasaan apa ini? Rasa yang begitu nyaman ketika dipelukan Ibu. Begitu pikir Yunus. “Ya udah, Ibu udah siapin makan tuh.” Ujar Ibu Aisyah. “Ini Ibu yang beli?” Yunus pura-pura bertanya. “Hm, tadi pas Ibu pulang ada bungkusan ini di gagang pintu depan. Dan ada tulisannya juga.” “Tulisan? Tulisan apa?” “Nih Ibu bacain, “Ini ada makanan untuk siang dan malam, besok Ayah akan kirim lagi makanannya. Dari Ayah.” Udah gitu doang, Ibu juga gak ngerti kenapa Ayah gak pulang aja… Kenapa juga harus dititipin ke orang.” Jelas Ibu Aisyah. “Ya, mungkin aja Ayah lagi sibuk kerja. Jadi gak sempat pulang.” “Hm, ya… Mungkin.” “Ayo makan bu, aku udah lapar nih.” “Oh, iya iya…” Maafkan aku bu… Saat ini, aku akan banyak berbohong pada Ibu. Ya Allah, berikanlah Jalan terbaik untuk kami. Begitu pikir Yunus. Seusai makan siang, Yunus pamit dengan Ibunya untuk pergi bermain, namun tidak dengan niatnya. Dan Yunus pun segera pergi ke Rumah Makan itu lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Keesokan harinya pun, Yunus melakukan hal yang sama seperti kemarin. Ia melakukan pekerjaan itu terus-menerus hingga satu minggu lebih. Dan kejadian yang tidak terpikirkan oleh Yunus pun tiba. Sang Guru Wali kelasnya Yunus datang kerumah Ibu Aisyah untuk menanyakan pada orangtuanya, mengapa Yunus tidak masuk sekolah selama satu minggu tanpa ada surat izin. Saat mengetahui hal itu, wajah Ibu Aisyah memerah (marah). Dan akhirnya ia meminta maaf atas perlakuan Yunus selama ini. Siang pun tiba, terlihat Yunus sedang memasuki rumahnya. “Assalamu’alaikum… Bu, aku pulang.” Ucap Yunus. “Wa’alaikumussalam.” Jawab Ibu Aisyah yang masih memendam marah. “Bu, ada makan?” “Tuh, di meja.” “…” Yunus Nampak bingung. Seusai Yunus menghabiskan makanannya. Ibu Aisyah yang sedang menjahit baju, mencoba menasihati Yunus. “Apa Ayah dan Ibu pernah mengajarkan kamu untuk berbohong?” Tanya Ibu Aisyah dengan tangan yang masih sibuk menjahit. “…Nggak sih, emang kenapa?” “Ibu pikir, Ibu sudah mendidik kamu dengan benar… tapi nyatanya tidak.” Yunus menghampiri dan duduk di samping kanan Ibunya. “Ibu selalu baik, Ibu gak pernah salah dalam mendidik aku. Tapi emang akunya aja yang susah dididik.” Ujar Yunus. “Ibu pikir, Ibu sudah mendidik kamu kejalan yang benar. Tapi nyatanya belum.” “…” “Ssshhhaaah…” Ibu Aisyah menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Tadi, Wali kelas kamu dating kesini. Ngapain aja kamu selama seminggu ini?” “Ng…” Yunus nampak kebingungan. “Ibu gak suka kebohongan Yunus. Rasulullah pernah bersabda, yang di Riwayatkan Bukhari dan Muslim. “Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat.” Jadi, ngomong aja yang jujur sama Ibu sekarang.” “Aku, ng…” Tiba-tiba Ibu Aisyah menaruh baju yang sedang di jahitnya disamping kirinya, dan segera memeluk Yunus dengan erat. “Ibu selalu berusaha membesarkan, menjaga dan mendidik kamu dengan seluruh kemampuan Ibu. Kamu adalah suatu yang paling berharga bagi Ibu. Kalau diri kamu rusak, lalu apalagi yang Ibu punya?” Kini Ibu Aisyah bicara dengan penuh harap, dan saat itu juga Yunus benar-benar merasakannya. Merasakan kasih sayangnya selama ini. Bagai datangnya cahaya yang menerangi ruang hati yang sudah lama gelap. “Aku minta maaf bu, sudah seminggu ini aku bekerja di Rumah Makan yang ada di pasar sana. Aku gak kuat lihat Ibu menangis terus demi menghidupkan aku. Aku tau Ayah gak akan pulang lagi… Namun aku hanya ingin membuat Ibu senang. Mungkin dengan menaruh makanan secara diam-diam dari hasil keringatku sendiri, Ibu akan senang. Aku yang manaruh makanan selama satu minggu ini. Maafkan aku jika aku mengatas namakan Ayah. Aku hanya ingin membuat Ibu tersenyum terus sepanjang hari.” Jelas Yunus berkata dengan wajah yang dibasahi air mata, wajah yang penuh cinta terhadap Ibunya. Ibu Aisyah pun terharu, tak kuasa menahan air mata ketika mendengarnya. Hari itu pun berlalu. Yunus pun memohon kepada Ibu sang pemilik Rumah Makan, agar Ibunya juga diterima bekerja di tempat itu. Namun Ibu sang pemilik, menganjurkan Yunus agar tetap melanjutkan sekolahnya dan membiarakan Ibu Aisyah bekerja di tempat itu. Yunus dan Ibu Aisyah pun menyetujuinya. Di lain sisi, Yunus berjanji akan membahagiakan Ibunya. Ia memperdalam ilmu Agama bersama Ibunya. Atas izin Allah Ta’ala, dengan kecerdikannya ia mampu menghafal kitab Al-Qur’an 30 Juz dalam waktu 10 bulan, berkat bantuan Ibunda tercintanya. Dalam berjalannya waktu, ia mampu menjadi Da’i cilik yang mengharumkan nama Sekolah. Dan ia pun berhasil memenuhi janji kepada Ibunya. Apa janji itu? Ia mampu membuat Ibunya bangga atas kerja kerasnya. Suatu malam Ibu Aisyah tertidur lelap terbawa mimpi. Dalam mimpinya ia sedang berdoa seusai Shalat Subuh, tiba-tiba ada suara yang membisik di kuping kanannya, “Terima kasih, kini kamu mampu mendidiknya dengan baik. Dan kini kamu berhasil.” Dan ia pun terbangun dari mimpinya. Ia amat senang, karena yang ia dengar dalam mimpinya itu adalah suara Bapak tercintanya. Ia pun merasa seperti menjadi seorang Ibu yang paling beruntung di dunia. “Doa orang tua untuk anaknya bagaikan doa Nabi terhadap umatnya.” (HR. Ad Dailami) sumber:nmu.com/cerpen-islami-religi/ketika-doa-ibu-menembus-langit.html

Peri Gigi

Kata orang-orang peri gigi itu beneran adanya. Kenapa? Karena suatu hari gigi Belinda copot, Belinda sangat kesal sekali, rasanya sakit dan perih. Malah giginya berdarah. Belinda menangis, tapi untungnya ada Mama yang menyuruh Belinda bersabar. “Ma, kenapa sih mesti copot segala?” protes Belinda. “Itu karena sudah waktunya copot. Belinda kan sudah berumur 7 tahun.” “Tapi kan Belinda masih kecil, harusnya nanti saja kalau Belinda sudah besar.” “Hehehe, Belinda kan anak yang tangguh jadi harus kuat, walaupun copot satu nanti tumbuh lagi kok.” Ujar Mama. “Oh iya Ma, giginya harus kemanain?” “Buang aja.” Belinda pun menuruti perintah Mamanya, ia bergegas menuju ke dapur untuk membuang giginya yang copot. Namun tiba-tiba Belinda teringat ucapan teman-temannya. “Jika gigi kita copot, kita harus menyimpannya di balik bantal saat hendak tidur, karena nanti datang peri gigi yang akan mengambil gigi tersebut.” Belinda tersenyum dan mengangguk, lalu gigi tersebut digenggamnya kembali dan menaruhnya di kantong celana yang dipakainya. “Udah dibuang belum giginya?” tanya Mama. “Ng… udah Ma.” Belinda berbohong kepada Mamanya, karena Belinda ingin menyimpan gigi tersebut di balik bantal agar bisa membuktikan jika peri gigi itu benar adanya. “Kok Belinda kelihatannya gugup?” selidik Mama “Hah? Gugup? Enggak kok Ma.” Malam harinya, pada pukul 8 malam Belinda bergegas untuk tidur, sebelumnya ia gosok gigi dan cuci muka terlebih dahulu. Belinda mengeluarkan gigi dari kantong celananya, dan tersenyum puas, karena malam ini Belinda benar-benar akan bertemu dengan peri gigi. Gigi tersebut segera disimpannya di balik bantal, dan Belinda mulai tertidur. Tetapi Belinda tidak bisa tidur, ia berpikir, jika ia tertidur, berarti ia tidak akan bertemu peri gigi. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Belinda mencoba untuk tidak tertidur, agar bertemu peri gigi yang akan mengambil gigi Belinda yang copot. Namun lama kelamaan Belinda terus saja menguap tandanya mengantuk, Belinda pun tertidur. Dalam tidurnya, Belinda bermimpi bertemu dengan peri gigi yang hendak mengambil gigi dari balik bantalnya, ia kegirangan, namun Belinda tiba-tiba terkejut, karena peri gigi yang cantik itu berubah menjadi peri gigi yang menyeramkan, lalu Belinda tak bisa berbicara apa-apa saking kagetnya, dan peri gigi itu tertawa. “Hahahaha, kenapa giginya hanya satu?” “Ka… kamu siapa?” tanya Belinda terbata-bata. “Aku peri gigi. Peri yang suka mengambil gigi anak-anak seperti kamu. Tapi aku hanya ingin semua gigi milikmu. Ayo berikan! Berikan!” “Tidak… tidakkk…” Belinda menutup mulutnya rapat-rapat. “Ayo berikan!” “Tidaaaaaakkk…” Tiba-tiba Belinda pun terbangun dari tidurnya, nafasnya naik turun seperti sudah berlari. Lalu Mama menghampiri Belinda. “Kenapa?” tanya Mama dengan cemasnya sambil memeluk Belinda. “Belinda takut Ma.” “Sudah-sudah, itu hanya mimpi buruk, mending sekarang Belinda tidur lagi ya?” bujuk Mama. Belinda mengangguk. Mama pun kembali ke kamarnya. “Aduh tadi itu Belinda mimpi buruk, eh eh tapi beneran gak ya, jika peri gigi itu jahat? Soalnya di mimpi barusan, peri giginya serem. Aduh Belinda gak mau tidur ah, takutnya peri gigi itu muncul lagi di dalam mimpi Belinda.” Belinda berbicara sendiri. Kemudian Belinda, ingin melihat giginya, apakah ada atau tidak. Ia pun segera membuka bantalnya dan ternyata gigi tersebut sudah tidak ada. Belinda pun sedikit ketakutan. Namun ia tercengang karena menemukan sepucuk surat dari kertas yang berwarna merah muda, dan bertuliskan. Dear Belinda. Terimakasih ya Belinda, Peri sudah mengambil gigi di balik bantal. Semoga Belinda senang dengan kedatangan peri gigi ke rumah Belinda, namun peri minta maaf jika Belinda bermimpi buruk, itu karena peri lupa menaburi benih-benih mimpi indah di tempat tidur Belinda, tapi Belinda jangan berkecil hati karena nanti peri akan mengganti mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lebih indah dan ceria. Salam Peri Gigi Belinda pun tersenyum kegirangan dan matanya bulat membesar, lalu ia berjanji akan menceritakan kejadian ini kepada teman-temannya di sekolah, dan menyimpan surat merah muda tersebut ke dalam laci mejanya sebagai kenang-kenangan dari peri gigi. Kemudian Belinda kembali tertidur, dan saat Belinda tertidur, Belinda bermimpi indah. Mungkin itu janji peri gigi yang akan memberikan mimpi indah kepada Belinda. SELESAI sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-anak/peri-gigi-3.html

Pertemuan Terakhir

Jam terus berputar. Detik, menit dan waktu terus berlalu. hingga Salah satu teman di sampingku berbisik keras dan kemudian menyadarkanku dari lamunan. Peristiwa memalukan kemarin membuat hari-hari yang kujalani depenuhi oleh lamunan kosong yang tiada guna. Peristiwa itu juga membuat hampir setengah dari 24 jam hidupku dalam sehari hanya kuhabiskan untuk menyesalinya. “hidupku benar-benar sial”. Dan tak terasa, lonceng kelas sudah berbunyi dan aku hanya melihat kertas kosong di depan tanpa ada jawaban satupun di dalamnya. Aku pun mulai panik, hingga membuat otak ini tidak dapat bekerja dengan semestinya, membuat pikiranku terpenjara oleh kepanikan yang kualami hingga akhirnya datang Pak Guru untuk mengambil kertas kosong jawabanku. Hari ini begitu sial, kondisi ini kian sulit dan ditambah lagi bayangan peristiwa itu sering kali melintasi pikiranku yang makin memperburuk hidupku. Ya itulah aku, pria dengan ribuan macam kesialan dalam hidup. Mulai dari peristiwa memalukan, ditambah lagi ujian yang tidak berjalan dengan baik, sampai dengan kondisi pikiranku yang dipenjara oleh peristiwa memalukan itu. Ke luar kelas, Mulai kulangkahkan kaki menapaki jalan menuju kantin sekolah yang kebetulan tidak jauh dari kelasku. Kulihat banyak sekali siswa yang hanya duduk dan asyik dengan smartphone mereka, ada juga para siswi yang begitu dengan semangatnya bergosip, dan terdapat juga siswa-siswa yang hanya sekedar minum untuk melepas dahaga sehabis penatnya belajar. Segera kulirik meja-meja kosong untuk kududuki dan akhirnya menjatuhkan pandangan pada meja kosong nomor 12 tepatnya pas di ujung sudut dinding kantin. Sesampai di meja, mulai kujelajahi menu-menu yang disedikan kantin dan mengakhiri pencarian dengan hanya memesan 1 gelas Teh dingin. Sederhana memang tapi begitu nikmat untuk cuaca seperti ini. 30 menit telah berlalu, para siswa dan siswi pun mulai beranjak pergi meninggalkan kantin. Namun cuaca yang begitu panas membuatku enggan meninggalkan kantin dan memilih mengahabiskan minuman yang tinggal sedikit lagi. Disela-sela waktuku menghabiskan minuman, tanpa sengaja kulihat seorang siswi dengan rambut tergerai panjang sampai bahu sedang menulis sesuatu di meja nomor 10 di sudut kanan. Setelah kulihat-lihat lebih seksama, aku seperti mengenal atau pernah melihat wanita itu, tapi aku lupa dimana. “Ah mungkin hanya khayalanku saja” Gumamku. 1 jam berlalu, hari pun mulai sedikit kehilangan sinarnya dan aku pun memilih meninggalkan kantin beranjak pulang ke rumah. Esok hari, waktu dimana SMA kami merayakan ulang tahunnya yang ke 20, umur yang cukup dewasa dengan sederetan prestasi yang telah diukir. Hari besar tersebut membuat semua mata pelajaran di kosongkan, dikarenakan hari ini banyak rangakain acara mulai dari pembagian hadiah permainan menyambut ultah sekolah yang sudah digelar 1 minggu sebelumnya sampai pada pemilihan siswa-siswi prestasi sekolah tahun ini. Acaranya cukup meriah, juga ditambah dengan Stand-Stand Setiap Kelas dengan beraneka ragam pamerannya. Ketika asyik berkeliling sambil melihat pameran-pameran yang ada di perayaan, tak sengaja aku melihat seorang wanita yang kemarin kulihat di kantin sekolah. “Ya. Aku yakin dia yang kulihat Kemarin” Gumamku. Aku kembali sadar kalau aku seperti pernah melihat dia. Tapi dimana?. Segera kudatangi dan kusapa. Bukannya menjawab, ia malah pergi dan meninggalkanku seperti orang ketakutan. Aku pun dibuat bingung dengan sikapnya. Kucoba mengejar dan mencari namun sayangnya ia hilang di dalam banyak kerumunan orang. Sampai di rumah, aku langsung mengambil salah satu minuman dingin di dalam kulkas, setidaknya untuk melepas dahaga setelah seharian beraktivitas. Langsung ku menuju ke atas balkon rumah sambil menikmati indahnya sore ibu kota. Aku pun mulai berfikir tentang sosok wanita yang kutemui di kantin dan acara sekolah, wajah dia tidak asing, dan setelah kejadian di sekolah tadi bayangan dia mulai mondar-mandir di dalam pikiran. “lagi-lagi aku dihantui pikiran-pikiran seperti itu setelah sebelumnya kejadian itu menimpa diriku” gumamku. Tapi aku bingung terhadap sikapnya yang seolah-olah mejauhiku. “Apa dia mengenalku?” tanyaku dalam hati. Tiba tiba aku teringat kejadian yang sebelumnya pernah menimpaku, kejadian yang membuat hidupku menjadi buruk, kejadian yang membuat setengah dari 24 jam hidupku hanya kuhabiskan untuk memikirkannya. Aku mulai mengait-ngaitkan antara kejadian itu dengan wanita yang kutemui di sekolah. Apakah wanita itu ada ketika kejadian itu menimpaku? Esoknya ketika kegiatan belajar mulai normal kembali, aku berusaha mencari wanita itu di sekolah, semua sudut sekolah kudatangi mulai dari kantin sekolah yaitu tempat pertama aku melihat dia, hingga ke perpustakaan sekolah. Namun, hasilnya nihil aku sama sekali tidak menemukan dia. Aku mulai penasaran dan bertambah yakin bahwa dia adalah wanita yang ada dalam kejadian itu. Namun aku belum mendapatkan kepastian tentang kebenarannya. Namanya saja aku tidak tahu apalagi dengan latar belakang atau kehidupan pribadinya. Hari demi hari terus berlalu namun wajah dia belum pernah sekalipun aku lihat semenjak kejadian itu, Itu membuat rasa penasaranku sudah sampai di puncak. “ya Tuhan berikan petunjukmu” dalam hatiku. Tentang wanita itu, aku pun menceritakannya kepada David. Salah satu teman kelasku, dengan harapan ada solusi dari dia. Dia mendengarkan dengan seksama tentang semua kejadian yang kualami tentang wanita itu. setelah lama bercakap dia pun memberikan saran untuk mengecek wanita itu di daftar murid Sekolah di bagian Akademik. “bagaimana aku bisa mengecek wanita itu, sedangkan namanya saja aku tidak tahu?” tanyaku. “Kamu kan mengetahui wajah dia, kamu bisa mengecek wajah dia di daftar siswa sekolah kita di akadmik. Kamu bisa meminta itu sama petugas disana” jawab dia. “Tapi siswa kita kan terlalu banyak vid! Aku tidak mungkin mengeceknya satu persatu” jawab aku dengan nada yang sedikit keras. “Ya itu terserah kamu, itu cara-cara satunya kamu mengetahui sosok wanita itu” jawab David dengan nada cuek. Pulang ke rumah. Aku langsung menjatuhkan badan ke kasur tempat tidurku. “ini benar-benar hari yang melelahkan” gumamku. Aku kembali teringat dengan saran yang diberikan David kepadaku untuk mengecek daftar siswa sekolah. Setelah kupikir-pikir, itu ada betulnya juga, dari pada aku mati penasaran karena tidak mendapatkan kejelasan tentang wanita tersebut, lebih baik aku mencarinya. Walaupun itu hal yang sangat melelahkan karena aku harus menatap satu persatu dari sekitaran 1250 siswa Sekolah. Tapi tak apa, aku akan mendapatkan hasil dari usaha yang kulakukan. Ini juga akan membuat misteri dan rasa penasaranku terhadap wanita itu terpecehkan. Esoknya, aku mulai mengunjungi bagian akademik sekolah. Aku meminta izin kepada petugas untuk melihat daftar siswa di komputer sekolah. Awalnya aku mendapatkan penolakan dan tidak diberi izin menggunakan komputer. Namun, setelah berusaha meyakinkan dan dengan sedikit merengek kepada petugas, akhirnya komputer itu diberikan. Dengan syarat aku harus bertanggung jawab ketika terjadi hal-hal buruk. ‘Horeeeee” teriakku sambilan mengiyakan perkataan petugas. Aku kegirangan karena berhasil meminjam komputer. Langsung kuhidupkan komputer dan mulai melihat daftar siswa sekolah. Berharap wanita itu dapat kutemukan. 30 menit telah berlalu, Aku telah lelah melihat layar monitor namun tiada hasil. Masih ada sekitara 300an siswa lagi yang masih di deretan bawah. Awalnya, aku merasa pesimis dan ingin mengentikan pencarian itu. Namun setelah kupikir-pikir ulang tidak salahnya aku melanjutkan pencarian itu. dengan muka yang sedikit cemberut, kucari dan terus kucari wanita yang satu minggu terakhir ini menggangu ketenangan hidupku. Dan akhirnya aku terkejut melihat sosok perempuan di urutan 982 terlihat mirip dengan wanita yang kucari. Kulihat lebih dalam foto tersebut untuk memastikan kebenaran ini, kebenaran dan kepastian yang kutunggu-tunggu dan akhirnya aku yakin bahwa dia wanita yang kucari, wanita yang selama 1 minggu terakhir ini mengantui pikiranku. Sentak aku langsung membuka profil itu untuk melihat biodatanya. Aku pun secara detail melihat tiap-tiap point biodatanya dengan seksama. Hujan lebat sore itu membuat seluruh tubuhku Basah kuyub. Kuparkirkan motorku di bagasi rumah dengan cepat. Hawa dingin ini mulai menusuk ke dalam tulang-tulangku. “gak biasanya hari ini hujan, padahal kemarin cuaca cukup panas”. Bisikku. Bergegas kutinggalkan bagasi menuju kamar untuk mengganti baju yang sudah kuyub. Selepas itu, mengingat hujan turun belum pirang, aku teringat jika minum kopi adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan dalam keadaan seperti ini. Segera kusiapkan kopi dan selepas itu menuju ke kamar melihat hujan jatuh lewat di balik jendela kamar sambil ditemani Kopi. Ya. Aku mulai lega. Akhirnya, wanita yang selama ini membuatku penasaran dan menjadi misteri akhirnya kuketahui. Dialah Keumala salah satu siswi sekolahku. wanita misteri yang satu minggu terakhir begitu senang menyita waktuku dalam memikirkanya. Di dalam biodata yang kubaca kemarin, dia salah satu siswi kelas 12 tepatnya Ipa 1. Tapi aku sedikit bingung kenapa dalam satu minggu terakhir aku tidak pernah melihat dia, padahal jarak kelas kami jelas dapat dikatakan dekat, karena aku sendiri siswa 12 Ipa 4. Logikanya, aku sudah pasti akan melihat wajah dia dalam keseharian di sekolah. Namun ini malah sebaliknya. Apa yang sebenarnya terjadi?. Rasa penasaran itu aku tutup dengan meneguk kopi terakhir dan kulihat hujan pun mulai reda, segera kubereskan semuanya, lalu beranjak istirahat malam. Matahari mulai menampakkan sinarnya, jam dinding pun sudah menunjukan pukul setengah 8, segera kubergegas mempersiapkan diri berangkat ke sekolah agar tidak telat. 20 menit aku memacu motor dan akhirnya sampai di sekolah. Di kelas aku langsung nyamperin David. Hari ini akan ada banyak hal-hal yang ingin kusampaikan padanya. “Vid, akhirnya aku udah tau siapa cewek itu vid!!” kata ku mengejutkannya. “Astaga. Aku pikir setan dari mana. Bikin orang jantungan aja” nadanya kesal “Berhasil kan saran yang aku kasih, aku bilang juga apa, David gitu looh” sambungan dengan nada sombong. “Iya iya, kamu emang hebat. Makasih” Lanjut ku. “Tapi ada hal yang buat aku bingung vid, pas aku lihat biodata dia, dia itu anak kelas 12 ipa 1, tapi kok aku jarang lihat ya. Namanya Keumala Vid” Jawab ku lagi. “aku mana tau, cari aja ndiri” pungkas David “bantuin napa vid, itung-itung pahala vid, hehehe” kataku “kamu cari di kelas Ipa 1 yang namanya Vina, dia temen aku, orangnya tinggi, terus putih, dan rambutnya sebahu, biasanya rambutnya diikat. Ntar bilang aja kamu temenku. cari aja informasi dari dia” David lagi. “Vina? Emm oke oke vid! Makasih yee..” Ucap ku nada kegirangan. “Iya Sama-sama” tutup David Atas saran David, pulang sekolah aku mulai mencari namanya vina di kelas 12 ipa 1, moga aja ketemu terus dapat informasi dari dia. Mulai kulihat ciri-ciri fisik yang diberikan David yang namanya Vina. Setelah lama mencari, akhirnya aku ketemu dia di depan kelas baru ke luar. Terus aku samperin dan nanya terlebih dahuku dia betul Vina apa bukan. “Eh kamu Vina kan?” Tanya ku. “Iya, emang ada perlu apa?” jawabnya agak judes. “Nggak, aku mau nanya sesuatu tentang salah satu teman kelas kamu. Keumala” jawabku lagi. “Keumala? Dia sahabat aku. Emang ada perlu apa sama dia? Dan dari mana tau dia?” jawaban Vina lagi. Setelah lama bercakap-cakap panjang lebar bilang ini itu dengan Vina, akhirnya Vina tau dan mau bantu aku beritahu tentang pribadi Keumala. Dan dia minta aku ceritain apa yang terjadi sebenarnya. “Jadi gini, kira-kira satu bulan yang lalu tepat ketika acara ulangtahun salah satu siswa sekolah kita, jadi semua murid diundang, maklum, anak pengusaha minyak terkemuka. Jadi acaranya gede banget dan banyak tamu undangan dari keluarga konglomerat di indonesia. Semua anak-anak pengusaha menghadirinya. Dan aku sama Kemala adalah dua orang yang kebetulan menerima undangan itu, saat itu aku belum kenal siapa kemala. Sampai, saat aku jalan, tanpa sengaja aku menginjak sebuah Bola kecil yang aku duga itu salah satu pernak-pernik perayaan ulang tahun. Lalu aku jatuh dan kepalaku menghantam salah satu meja kue. Orang orang yang melihatnya bukannya membantu tapi malah menertawakan, hal tersebut sentak membuatku malu di hadapan para undangan lain. Tapi ada salah satu cewek saat itu yang mau bantuin dan obatin kepala aku yang keluar sedikit darah. Dengan kepala terbentur jelas membuat mataku agak remang-remang dan tidak terlalu melihat siapa sosok wanita yang telah membantuku. Hanya terliahat wajah putih dan rambut panjang tergerai saat itu, dan aku tidak lupa akan sosok itu, meski wajahnya tanpak remang-remang saat malam itu. Rudi temanku yang saat ketika kejadian tidak berada di tempat terkejut melihatku dan akhirnya membawa pulang ku ke rumah. Sampai rawat rumah selama hampir satu minggu. Peristiwa itu membuat hari-hariku setelahnya menjadi berantakan, bagiku itu sangat memalukan. Dan aku cukup sulit melupakannya”. Cerita panjangku kepada Vina. “oooo gitu” jawab Vina simpel. “lo, kok Cuma Ooo, udah capek-capek dijelasin.” Jawab ku sedikit marah “Dan aku ingin bertemu Keumala Vina, wanita yang telah menolong malam itu” lanjutku. “Kumala… Keumala menderita penyakit Kanker Otak, penyakit itu udah lama menyerang dia, sekarang udah masuk stadium akhir, dan dokter bilang dia gak bakalan lama lagi bertahan hidup, dan kenapa selama ini dia jarang nampak ke sekolah?, karena dia sedang dirawat di salah satu rumah sakit di kota ini” jelas Vina Penjelasan Vina sontak membuat sekujur tubuh ku melemas, membuat seluruh tubuh ku tidak dapat bergerak. Penjelasan yang diberikan oleh Vina seperti disetrum oleh listrik bertengangan tinggi. Aku benar-benar Shock. Tak terasa Air mataku mulai mengalir, membasai pipi dan wajah yang awalnya begitu semangat mendengar kabar tentang Keumala. Wanita yang selama ini begitu kucari, wanita yang selama ini sangat misterius keberadaannya. Sungguh, aku tidak dapat menahan semua ini. Marah, kesal, sedih semua bercampur menjadi satu. Aku pun meminta Vina untuk mengantarkan ku ke rumah sakit yang merawat Keumala. Kupacu motorku hingga kecepatan tinggi, tak sabar rasanya sampai ke rumah sakit untuk melihat kondisi Keumala bagaimana. Sampai disana, Vina langsung menuntunku ke kamar yang merawat Keumala sakit. Aku melihat banyak orang dan dokter yang berdiri di samping Keumala, kulihat wajah Keumala begitu bersahaja, dia tampak seperti orang tidak merasakan penyakit apapun. Aku pun menghampiri Keumala yang tidak sadar kembali menumpahkan air mataku. “Kamu kenapa gak bilang sama aku kalo kamu lagi sakit, terus kenapa kamu juga menghindar ketika aku ingin menyapamu? Dan aku tau kalo kamu yang pernah nolongin aku.” Tanya dan jelasku dengan suara yang lirih. “Aku gak mau kamu tau tentang semua ini, biar saja aku yang merasakannya” jawab Keumala mengeluarkan air mata. Setelah lama berdialog dengan Keumala, Keumala tidak dapat menahan emosi kesedihan yang ada dalam hatinya, sampai terakhir ia mengatakan “Jangan sedih” kepadaku dan memberikan sebuah bukunya padaku. Suasana kamar pun hening seketika tanpa ada suara apapun, Keumala pun mengehembuskan nafas terakhir di rumah sakit, dengan senyum manis terakhir di wajahnya dan meninggalkan satu buah Buku yang dibuat dan diberikan kepada orang yang dituju. Itu adalah pertemuan terakhir Zafran dengan Keumala setelah sekian lama proses mencari. Tiada lagi rasa penasaran di dalam hati zafran, yang tinggal hanyalah rasa kesedihan yang di alami Zafran. Semua Penderitaan yang selama ini Keumala rasakan akhirnya berakhir. Dan Zafran yang dalam pencarian Keumala, secara tidak sadar mulai tertanam benih-benih cinta terhadap Keumala hingga akhirnya dipertemukan. Dan juga sebenarnya ketika Zafran masih dirawat di rumah, Keumala juga sering menjenguk zafran dan ini diketahui oleh sahabatnya Vina. Lalu kenapa Vina seolah tidak mengenal Zafran ketika bertemu? Dan tentang Isi buku yang diberikan oleh Keumala kepada zafran sesungguhnya hanya zafran yang tau tentang semua itu, tidak ada yang mengetahui akan Rahasia itu. sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-sedih/pertemuan-terakhir-4.html

Penggemar Rahasia Aisyah

Mungkin ini surat dan bunga yang ke seratus kalinya kuletakkan di lacinya. “Assalamualaikum Ukhti, Ana Inni uhibbuki fillah. Aku berharap engkau tersenyum membaca suratku.” “Dari: Penggemar Rahasiamu” Itulah isi surat yang keseratus dan tak pernah berubah sejak pertama kali kukirim. Seperti biasa, ia tersenyum membaca suratku dan menyimpannya di saku. Aku hanya mampu menangkap senyumnya itu dari sudut jendela dengan perasaan bahagia. Aisyah, nama yang indah bak perawakannya. Wanita pintar nan soleha penghuni kelas sebelah. Begitulah aku mengetahuinya. Aku jatuh cinta padanya. Melihatnya dari kejauhan saja aku sangat gembira. Tapi apakah dia mengenalku? kurasa tidak. Entah mengapa setiap malamku gelisah, bayangan dirinya merasuki kalbuku. Tak melihatnya beberapa jam saja membuatku gundah. Ya! Aku gundah! Andai malam cepat berlalu dan pagi segera berganti. Hari minggu menjadi hari terburuk bagiku karena tak dapat melihatnya. Satu hari saja tak bertemu rasanya seperti seribu tahun, seperti itulah yang kualami sekarang. Aku tak pernah lupa untuk menulis surat cinta kepadanya, tapi untuk besok berbeda, kutambahkan coklat berbentuk hati di paket suratku. Pagi sekali aku berangkat agar tak seorang pun tahu kalau akulah yang selama ini meletakkan surat dan bunga di lacinya. Tapi pagi ini berbeda, sekian lama menunggu, dia tak muncul jua. Tubuhku mulai gelisah, aku tak henti memikirkannya. Ada apa gerangan? Apa dia terlambat? atau sakit? Begitulah kata hatiku lirih. Akhirnya jam istirahat tiba, waktu yang paling aku tunggu-tunggu untuk melihat reaksinya terhadap suratku. Intipku dari sudut jendela, ternyata ia tak datang. Terlihat surat, bunga beserta coklat yang kuberikan masih utuh. Perasaanku semakin cemas, apa yang terjadi dengannya? Hatiku memelas. Harus kurelakan dua hari terakhir ini tak melihat indah wajahnya. Keesokan harinya pun begitu, tak lagi kulihat indah parasnya. Suratku yang kemarin dan hari ini masih utuh di lacinya. Tanpa rasa malu, akhirnya kuberanikan diriku bertanya kepada teman sebangkunya yang kebetulan aku mengenalnya. “Aisyah kok gak datang, Cha?” tanyaku. “Oh dia sudah pindah dua hari yang lalu ke Jogja, ini kalau mau alamatnya.” ucapnya sambil memberikan secarik kertas. Sontak batinku pun kaget, tanpa sepatah-kata langsung kutarik kertas di tangannya dan kembali ke kelas dengan wajah kecewa. Aku masih tak percaya dengan keadaan ini. Aku tau, aku cuma seorang penggemar rahasia yang tak mampu mengungkapkan perasaan ke Aisyah, tapi hatiku merasa sangat kehilangan semenjak Aisyah pergi. Hari-hariku kini terasa hampa, dan sedih. Berbekal alamat yang diberikan Icha, kutulis surat untuk Aisyah. “Assalamualaikum Ukhti, Ana Inni uhibbuki fillah. Aku berharap engkau tersenyum membaca suratku.” “Mungkin Aisyah tak mengenalku, tapi ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu, akulah penggemar rahasiamu, yang setiap hari meletakkan surat di lacimu, dan memaksamu untuk tersenyum membaca suratku. Melihat senyummu dari jendela saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tahu di usia kita yang belia ini belum pantas untuk mengenal cinta, tapi tak ada salahnya kan kalau aku mengagumimu? Semenjak kamu pindah ke Jogja, kamu tau apa yang aku rasakan? Sulit mengungkapkannya melalui surat ini, yang jelas kalbuku nelangsa setiap hari. Memang aku tak pantas mengungkapkan ini kepadamu, karena aku bukan siapa-siapamu dan hanya seorang penggemar rahasia yang berharap lebih. Salam dariku, Roman Itulah isi surat yang kukirimkan ke Aisyah dengan menambahkan dua lembar fotoku agar dia mengenalku. Berminggu-minggu sudah surat itu kukirim, dan perasaanku lega mengungkapkan semuanya. Hari-hariku mulai terbiasa tanpa dia, dan aku mulai tersenyum kembali. Aku terkejut, di depan pintu rumahku ada sebuah surat yang tak kuketahui dari siapa. “Assalamualaikum Akhi Roman, aku akan selalu tersenyum membaca surat darimu.” “Kalau dihitung, surat yang kemarin engkau kirim adalah surat yang ke-102 ya? Tenang saja, aku masih menyimpan semua suratnya kok. Ketahuilah Akhi, aku juga mencintamu dan mengagumimu, dan firasatku pun berkata kalau engkaulah penggemar rahasia yang selama ini meletakkan surat dan bunga di laciku. Aku juga menyimpan fotomu di tempat yang spesial, meletakkan surat demi surat yang engkau kirim agar dapat kukenang kembali. Oh iya Akhi, sebagai balasannya, aku mengirimkan dua lembar fotoku bersama surat ini. Ana Inni uhibbuka fillah Akhi Roman. Salam Cinta, Aisyah Begitulah kalimat yang tersirat di dalam surat itu, sangat indah. Akhirnya aku bisa memandangi wajahnya setiap hari melalui foto yang dikirimnya. Semenjak hari itu aku dan Aisyah berkomunikasi dengan lancar melalui surat. Dan sampai sekarang aku tak tahu bagaimana nasib surat, bunga, dan coklat yang kuletakkan di lacinya itu. sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-islami/penggemar-rahasia-aisyah.html

Antara Lobe Hitamku dan Sapu Tanganmu

“Mey! berapa banyak sih bukunya yang mau dibeli?!” gontokku. Meylin tak menggubris perkataanku. Tetap saja anak itu melirik-lirik buku yang dia cari. Sebel! Kesel! Itu yang kurasakan saat ini. Malah panas! Pengunjungnya bejubel lagi! arghh… campur aduklah jadi urapan! “mey!!!” teriakku kembali. “nah.. nah.. yap uda dapet nih, zur. Ini dia buku yang cocok untuk disumbangkan ke panti asuhan” ucap meylin sembari menunjukkan beberapa buku yang dimaksudkan. “ya udah cepetan bayar! Rambutku uda gatal ni kepanasan!” omelku. “yayaya!” Aku menunggu meylin di luar toko buku. “lama banget sih! Nggak tahu apa orang uda kayak sate gosong gini!” omelku. “apa?!” bentakku saat 2 orang laki-laki meliihat tingkahku. 2 orang itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. memangnya aku ini apa? Gila?! Cakap-cakap sendirian! Huhh! Tak berapa lama meylin keluar dari toko. “ya Allah.. itu muka atau sarang tawon, zur? Beserakkan banget?” meylin justru meledekku. “ahh nggak tahu la, mey! Sekarang kamu harus traktir aku minum! Kering nii..” aku mendangakkan leher yang hampir putus karena kehausan ini. “yakin Cuma minum? Makan nggak mau?” Meylin tahu banget sih aku lagi lapar. Dengan sigap aku langsung berkata “ya makan juga dong!” meylin tersenyum. akhirnya jadi deh aku dan meylin menyantap makanan kami di salah satu restoran. dibilang restorant tidak terlalu mewah kali tepatnya hanya rumah makanan, bukan warung pula, arggh.. sejenis itu lah. Mataku tertuju dengan 2 orang laki-laki. Tepatnya yang kulihat hanya satu orang. Habisnya satu orang lagi membelakangi aku sih. jadi nggak kelihatan kan! Entah alasan apa mata ini sanggup bertahan beberapa menit melihat laki-laki berwajah polos itu. “Astaghfirullah…” dersisku setelah tahu itu yang kulakukan adalah pandangan buruk dan bisa mengarah kezina mata. Naudzubillah! Tapi tidak bisa! Tetap saja aku melihat laki-laki itu. Jelas-jelas posisinya di hadapanku, gimana nggak terlihat coba. Ahh serba salah deh! Selesai makan, aku terus memperhatikan lelaki itu. Sepertinya dia jadi salah tingkah. Kami sempat beradu mata. Tapi itu tak lama setelah meylin mengajakku untuk meninggalkan tempat itu dan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di tanggerang. Sepulang dari kantor, aku pulang ke rumah. Tapi sayang, di perjalanan menuju rumah, hujan tiba-tiba datang mengguyur badanku. Aku menepi ke salah satu halte yang tak terpakai. Aku melihat satu pengendara motor menepi juga di halte tepat aku berpijak. Aku menjaga jarak dengan orang itu. Ternyata pengendara itu laki-laki. “ya Allah… lindungi aku..” desisku dalam hati. Aku melirik samping kiri. Ternyata lelaki itu berjalan menghampiri aku. Jantungku mulai berdetak kencang. “nah…” lelaki itu memberikan aku sapu tangan. Apa maksudnya? Aku menoleh ke arahnya. Aduh sayang sekali. Lelaki itu ngotot memakai helm, jadi nggak tahu deh siapa dia. Aku menggelengkan kepala. “wajahmu basa kuyup. Nanti bisa sakit” ujarnya begitu. Wahh.. perhatian sekalee.. tapi aku harus waspada. Bisa jadi lelaki ini memberikan bius di saputangannya. Kalau aku memakainya, terus aku pingsan, dan…. ahh sudah.. sudah! “nah..” lelaki itu tetap bertahan untuk memberi. Aku menggeleng dan menyudutkan badanku ke dinding halte. Kali ini dia menyerah. Ia mulai menjauh dariku. *jedder* itu suara petir yang menembus di telingaku. Sontak aku terjongkok dan menutup kepalaku. “Allah… Allahh..” ucapku begitu. Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Ternyata lelaki itu. “kamu mau apa, sih? Maaf tolong jangan ganggu aku. Aku udah kenakan hijabku. Kenapa kamu mau jahati aku?” ucapku sembari menangis terisak-isak. “astaga.. maaf. Bukan maksudku jahati kamu. Aku Cuma mau nolong kamu!” lelaki itu melepaskan helmnya. Disini… disini.. disinilah aku bertemu dengan laki-laki yang berada di restoran kemarin. Aku diam. Mataku terus melototi lelaki itu. “ini…” dia kembali menawarkan sapu tangannya. Aku menarik nafas sembari mengucapkan “bismillah” dalam hati. Aku menerima sapu tangannya. Ada gunanya juga sapu tangan itu. “nah…” lelaki itu memberikan jaket yang ia kenakan. “hah? nggak usah. Aku nggak papa kok” ucapku. “tapi bajumu basah kuyup! Nengel banget sih dibilangi!” lah kenapa lelaki ini justru menekankan suaranya? Aku menghargai perhatiannya. Aku menerima jaketnya dan kuselimuti badanku dengan jaket itu. “terimakasih” ucapku. Dia tersenyum manis. itu senyuman terbuat dari gula ya? sumpah manis sekaleee! Aku menatapnya. Dia rela kedinginan hanya karena aku. “rumah kamu dimana?” itu pertanyaan yang ditujukan untukku. “kompleks b simpang 2” jawabku sesingkat-singkatnya. “ayoo aku antar pulang sekarang! Kamu bisa demam disini! Ini hujannya lama berhenti” “nggak usah.. nggak usah.. aku nggak papa kok” “sumpah! Aku bukan mau jahati kamu! Aku Cuma mau berbuat baik aja kok. Uda itu aja nggak lebih” lelaki ini menatapku dengan sungguh-sungguh. Kutundukkan wajahku darinya. “aku antar pulang. Buruan!” lelaki ini terpaksa mengeraskan volume suaranya karena angin dan hujan memiliki suara yang lebih dasyhat darinya. Aku mengangguk. Bersyukur juga jika ada orang yang berbaik hati mengantarkan aku pulang. Sesampainya di rumahku. Aku mempersilahkan lelaki ini untuk masuk. Dan kusuguhi dia teh hangat. “astaghfirullah.. zur. Kamu ngapain bawa laki-laki kesini. Hujan-hujan pula tu” bisik meylin. “habis gimana, mey. Dia uda nolongi aku. Dia mau nganterkan aku pulang” bisikku. “aku permisi pulang dulu ya. Oh terimakasih untuk teh hangatnya” ucap lelaki itu. “iya. Sama-sama. Ini sapu tangan dan jaket kamu” meylin langsung merampas jaket dan sapu tangan yang mau kuberikan ke pemliknya. “kamu itu nggak sopan banget sih, zur. Ini barang udah kamu pakai itu artinya kamu mengembalikannya harus bersih dong!” bisik meylin. “gitu ya, mey?” meylin meengangguk. “pak.. ini jaket sama sapu tangannya biar disini dulu ya” ucapku. “bapak! Emang mukaku keliatan tua apa?!” dersis pelan lelaki itu. “Ya udah gini aja. Sapu tangannya untuk tante aja, biar jaketnya aku bawa pulang. Nggak papa kok” “ehh tantenya lagi! mey.. emang mukaku kayak tante-tante ya?” bisiku ke meylin. “permisi..” ucap lelaki itu sembari melangkah ke luar rumah. Setelah lama lelaki itu pergi. Aku mulai berpikir. Mengingat kejadian kemarin. Aduan mata itu membuat jantungku berdetak sekencang-kencangnya. Untung saja nggak mati! Aku menggelarkan sajadah dan melaksanakan kewajibanku. Berdoa pada Tuhanku. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Mengapa lelaki itu behasil membuat aku merindukannya. Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Ahh.. tidak mungkin. Aku baru mengenalnya tadi! 1 tahun berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Setiap kali aku merindukannya, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan lagi oleh dia dan melihat sapu tangan itu. Aku berharap, Allah masih mengizinkanku untuk bertemu dengannya lagi. lagi! benar, tatapan itu berhasil menghipnotisku. Aku sempat berfikir tentang dirinya. Terutama pada agamanya? Terbesit di benakku dia islam. Sama sepertiku. Ahh apakah mungkin? “hei…” ucap seseorang dari belakang. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata.. tidak disangka. Sungguh doaku terkabul. Lelaki ini datang untukku. Aku tersenyum. “bagaimana kabarmu?” ucapnya. “Alhamdulilah..” ucapku dengan menundukkan wajahku. “Apa artinya itu?” ucapan itu membuat aku bingung tak karuan. Aku kira dia islam. Ternyata? Aku diam sangat lama. Sampai akhirnya lelaki itu mengejutkan lamunanku. “segala puji bagi Allah” ucapku datar. Air mataku tumpah saat itu juga. tidak disangka, lelaki yang aku rindukan tidak sebanding denganku. Lelaki itu mengangguk pertanda ia mendengar. “maaf aku harus pergi” aku meninggalkannya. Aku takut rindu itu akan menjulang lebih tinggi. Sebaiknya aku tidak usah bertemu denganya lagi. aku menceritakan semua ini ke meylin. Tanggapannya cukup bijak “jika kalian jodoh. Walaupun akidahnya berbeda. Allah pasti memberikan hidayah untuk laki-laki itu” itu kata meylin. Aku diam. Semoga saja itu terjadi. Lelaki itu ternyata bekerja di tempat aku bekerja. Bagaimana aku menanggapi hal ini. Aku takut jika perasaanku ini akan lebih dalam jika aku berinteraksi dengannya. “nggak usah takut. Kamu bisa membawa aku kejalan yang benar” ucap lelaki itu seolah-olah tahu apa yang ada di pikiranku. Lelaki itu melihat penuh harap lobe di atas meja kerjaku. Aku sengaja menjahit lobe itu untuknya jika aku bertemu dengannya lagi. itu tanda terimakasihku untuknya. aku langsung mengambil lobe hitam itu dan memakaikan lobe hitam kekepalanya. Sungguh indah! “ajari aku islam” ucapnya. Aku ternganga saat itu. Spontan airmata ku jatuh. Kemudian hari aku membawanya ke pamanku. Kebetulan paman seorang ustadz. Dengan mantap lelaki itu menyebutkan 2 kalimat syahadat. Alhamdulillah, dia masuk islam. “Allah yang menuntunku lewat caraNya. dengan mempertemukan aku dengan gadis berjilbab sepertimu, tinik!” ucap lelaki itu. “zuraa bukan tinik, anton!…” ucapku “boy, bukan anton!” ucapnya. Kami sama-sama tertawa. Dari asalan panggilan nama ini kami bisa mengetahui nama kami masing-masing. aneh banget! Saling bicara tapi tidak tahu nama. Aneh! Yah tapi nyata! beberapa tahun kemudian, Boy mengantikan namanya dengan Syam Rahmat Putra dan juga.. diaa… diaa dia melamarku. Akidahnya juga semakin mantap. Allah mendengar doaku. Aku hidup bahagia bersamanya. tamat deh! selesai sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-islami/antara-lobe-hitamku-dan-sapu-tanganmu.html

Kamis, 22 September 2016

Dua Ekor Tikus

Di suatu hari yang panas, tanpa sengaja seekor tikus yang bernama Rat, mengamati seekor tikus betina yang berjalan di sudut sudut rumah. Melalui lubang sudut atap rumah, Rat merasa bingung dengan apa yang dilakukan tikus betina itu. Karena penasaran, Rat akhirnya menghampirinya
  ''maaf, kau siapa? apa yang kau lakukan disini?''
  ''namaku Ratie, aku tersesat. Aku terpisah dari koloniku''
  ''lalu, apa yang sedang kau cari sekarang?''
  ''aku lapar. Ingin mencari makan''
  ''baiklah, ikut aku. Aku tahu dimana kita bisa menemukan makanan''
Merekapun menuju dapur
  ''keberuntungan! piringnya belum dicuci''
  ''banyak sekali makanan bekas ini. Aku suka tempat ini''
  ''makanlah apa saja yang kau mau dari sini. Mumpung Lazy belum pulang''
  ''Lazy? siapa dia?''
  ''pemilik rumah ini''

Beberapa hari kemudian. Akhirnya Lazy menyadari bahwa dirumahnya ada tikus yang berkeliaran. Ia pun memutuskan untuk memasang perangkap tikus.

Ratie sangat kelaparan, ia melihat makanan didalam perangkap yang dipasang oleh Lazy. Tapi Ratie tidak tahu bahwa perangkap itu membahayakan. Semenjak hidup luar, Ratie tidak pernah menjumpai perngkap seperti ini. karena penasaran, Ratie memutuskan untuk masuk.
  ''berhenti Ratie.itu bukan tempat makanan. itu adalah perangkap. kau bisa terbunuh.''
  ''benarkah? tapi aku sangat lapar Rat. dan didapur sudah tidak ada makanan. aku ingin masuk dan memakan makanan yang ada didalam sana saja Rat.''
  ''aku bilang tidak boleh Ratie. jika kau tetap ingin makan juga, maka aku akan mencarikan kau makan, bagaimana?''
  ''baiklah''
  ''tapi kau tidak boleh masuk kedalam sana ok? kau harus berjanji kepadaku''
  ''kenapa ?''
  ''aku peduli kepadamu Ratie ''
  ''terimakasih''

Beberapa hari kemudian di malam yang dingin, Ratie mencari makanan didapur, tapi tanpa ia sadari, Ratie ternyata telah di ikuti oleh seekor kucing yang kelaparan. Sampai akhirnya ia sadar dan berlari kemanapun ia sanggup. Dan ternyata ia menuju ke arah yang salah. Ia masuk ke perangkap yang dipasang oleh Lazy. Ratie sangat ketakutan dan terus meminta tolong. Beruntungnya Rat mendengar suara Ratie dan langsung menghampirinya. Rat berusaha membebaskan Ratie dari perangkap sebelum kucing yang mengejar Ratie melihat mereka. Rat sangat bersusah payah, sampai akhirnya..

BERSAMBUNG...

Jumat, 02 September 2016

pembukaan

Assalamualaiku wr.wb.
Ini blog pertama saya, sehingga masih belum pintar mengelola blog ini dan mungkin ada salah salah kata, sebelumnya saya minta maaf
Salam kenal^^

 
Sparkly Smiley Star