Senin, 22 Mei 2017
Home »
cerita religi
» Puasa Arafah Pertama Dan Terakhir Freya
Puasa Arafah Pertama Dan Terakhir Freya
Semua mengerubungi papan pengumuman itu. Ini sudah hari Sabtu, Tanggal 10-09-2016, berarti besok! “Owh puasa Arafah, aku hafal niatnya,” gumam seorang anak perempuan kelas 5 namanya Avisa Freyana Almeera atau dipanggil Freya. Freya dan sahabat sekelasnya, Zhirlyta Neshieta Lannisa atau Zhirly keluar dari kerubungan itu. “Ya, Freya, kamu hafal niatnya? kalau hafal kasih tahu aku, ya…,” pinta Zhirly. “Ini niatnya, ‘Nawaitu Shauma Arofah, Sunnatan Lillahi Ta ‘Ala,” jelas Freya. “Ok! kamu pernah puasa Arafah, Ya, Freya,” sahut Zhirly. Lantas, Freya menggelengkan kepala. “Inilah puasa Arafah pertamaku, Ly!” kata Freya.
Esoknya, pukul 3 subuh Wib, Freya bangun lalu cuci muka. Ia sahur sendiri karena keluarganya lupa kalau hari ini puasa Arafah. Freya menuju dapur memasak telur mata sapi dan mie rebus rasa kari ayam. Usai matang, Freya segera menyantap makanannya sebelum Imsak. Usai makan dan cuci tangan, Freya menuju ruang keluarga lalu menyetel Tv. Ia menonton Channel Net Tv. Ia sangat suka channel itu. Ia menonoton sembari menunggu sholat subuh.
Tak terasa waktunya sholat subuh. Freya segera wudhu. Brush!! bunyi air mengalir dari kran. Freya segera wudhu. Usai wudhu, ia menuju mushola yang berada di dalam rumah. Menggelar sajadah, mengenakan rukuh, dan melaksanakan sholat. Usai sholat dan berdoa, Freya membaca Al-Qur’an. Usai Membaca Al-Qur’an dan merapikan alat sholat, Freya segera ke kamar. Ia memakai celana tebal semata kaki warna abu-abu, jaket warna ungu-pink tebal, dan kerudung warna merah. Ia keluar rumah, mengambil sepeda di garasi, lalu memutari kompleks dengan sepeda. Ia pulang ke rumah pukul tujuh pagi.
Sesampai di rumah, Freya menyambar handuk dan mandi. Usai mandi, Freya memakai baju lengan panjang bertuliskan ‘Keep Calm And Pray For Allah’, celana jeans Semata kaki gambar bunga-bunga dan kupu-kupu, kerudung Pasmina warna ungu gambar bunga warna-warni, juga jam tangan bentuk menara eiffel talinya warna pink. Jarumnya warna merah-biru, memakai angka romawi dan ada kompasnya.
Keluarga Freya semua sarapan mie di ruang makan. Freya bergegas menuju ruang makan. “Fre! ayo sini makan,” ajak bunda. “Enggaklah! aku kan, puasa Arafah,” jawab polos Freya. “Astagfirullah! kan hari ini puasa Arafah!!!” pekik keluarganya kecuali Freya dan Fikhi, maklum Fikhi masih kelas 1 Sd. “Kenapa nggak bangunin kami?” tanya Bang Fredo dengan marah dan nada membentak. “Habisnya, kalian selalu menyebalkan bagiku kecuali Fikhi!” bentak Freya lalu masuk ke kamarnya. Yup! Freya selalu tak diperhatikan oleh keluarganya kecuali Fikhi dan mbak Halsa Hilsa. BRAK!!! Freya menutup pintu kamarnya sangat keras. Lalu menulis surat untuk keluarganya.
‘ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR…’ Terdengar suara azan Maghrib di Masjid Freya wudhu. Biasanya ia sholat. di mushola rumah, menjadi di kamar. Usai doa dan sholat, ia membaca Al-qur’an untuk menenangkan diri. Usai membaca Al-qur’an dan merapikan alat sholat, Freya menuju kulkas. Ia mengambil air putih, lalu membawa 3 bungkus camilan ke kamar. Ia mengunci kamar, ia memakan camilan di atas kasur sembari membaca KKPK anak.
Tak terasa Waktu Isya’ datang. Freya Wudhu lalu sholat di mushola rumah. Pada sujud rakaat terakhir, Freya masih saja sujud diam tak bergerak. “FREYA!!! CEPAT SIKIT SHOLATNYA!!!” teriak bunda dari depan mushola dengan nada membentak. Freya masih diam. BRAK!!! bunda mendobrak pintu mushola sampai terbuka. Bunda melihat Freya dari tadi sujud diam tak bergerak. “Fre,” gumam Bunda seraya menyenggol Freya. Freya terjatuh. Dilihat mata Freya tertutup dengan senyum kecil menghias wajahnya. “Ya Allah Freya!!!” jerit bunda seraya menangis. Semua keluarga Freya tergopoh-gopoh menuju mushola rumah. “Freya!!!” jerit keluarganya kecuali Fikhi. Mereka menuju rumah sakit Anak Indonesia (RSAI).
Keluarga harap-harap cemas. Mereka mempunyai firasat bahwa Freya meninggal. Mereka berusaha membuang jauh perasaan itu, tapi sulit. “Keluarga ananda Avisa Freyana Almeera,” panggil dokter yang menangani Freya. “Iya!” jawab bunda. “Freya meninggal dunia karena Leukimianya stadium akhir,” jawab Dokter. “Hah! tapi anak kami tak pernah cerita sama kami!” kata Papa sontak kaget. “Iya, Freya kesini bersama dua orang wanita muda. Ia bilang jika punya penyakit Parah jangan bilang ke keluarganya, Pas ia periksa kalian lagi keluar tanpa Freya. Oya! saya menemukan surat di kantung celana Freya,” jelas dokter seraya memberikan secarik surat yang dilipat. Keluarganya membacanya.
Hai! mungkin kalian membaca surat ini saat aku sudah meninggal. Aku sebenarnya mempunyai penyakit ini. Aku periksa sama mbak Halsa dan Hilsa. Maaf, aku selalu membuat kalian kesal. Mungkin ini puasa Arafah ‘Pertama dan terakhirku’. Aku menyusul sepupu tercintaku, Vrika. Kalian kan bahagia saat aku tak ada. Kuharap, kita bisa ketemu lagi. Kalian bebas tanpa aku. Maaf juga kalau aku tak pernah bilang tentang penyakit ini. Aku nggak mau kalian khawatir. Aku punya 1 permintaan, jangan menangis jika aku tak ada di dunia sama kalian lagi. I LOVE MY FAMILY TERUTAMA MY PARENTS.
Salam hangat
Avisa freyana almeera (freya)
Semua keluarga Freya menagis. Mereka tak tahu ia berjuang dari penyakitnya sampai Allah memanggil Freya. Mereka menyesal. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, tak dapat diubah menjadi nasi lagi. Kini mereka menyesal. Inilah puasa Arafah Pertama dan Terakhir Freya.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/puasa-arafah-pertama-dan-terakhir-freya.html







0 komentar:
Posting Komentar