This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Selasa, 23 Mei 2017
Tuhan Kumohon Sekali Lagi (Part 2)
Annisa tampak terlihat cantik mengenakan kaos dengan rok pas atas lutut, dengan mengenakan sneakers warna putih, rambutnya digerai. Dia sengaja untuk terlihat sangat cantik hari ini, hanya untuk bertemu pangerannya, Fatir…
“Pak… Kita ke toko bunga dulu ya” minta Annisa ke pak Dodi.
“Ok neng, sekarang berangakat?” Tanya pak Dodi berdiri di hadapannya.
“Iya dong pak, kita harus cepet cepet, aku udah gak sabar” Annisa kegirangan.
Melihat Annisa bahagia seperti ini, Pak Dodi pun ikut senang. Pak Dodi pun mengantarkan Annisa untuk membeli bunga terlebih dahulu, Sesampainya di toko bunga Annisa langsung meminta kepada perias bunga itu untuk memberikannya bunga yang paling bagus dan cantik.
“Mbaa, tolongin aku dong. Aku mau bunga yang bagus banget pokonya” mintanya tersenyum bahagia.
“Iya boleh, tunggu senentar” suru penjaga bunga.
Annisa pun menunggu dengan tak sabar, Tak lama kemudian penjaga bunga itu datang dengan membawa Rangakaian bunga yang telah dihiasnya begitu cantik.
“Ini bunganya”
“Berapa harganya?” Tanya Annisa.
“450 ribu”
Annisa pun memberikan uang 500 ribu, dan meminta kembaliannya tak usah diberikan. Annisa terlihat sangat bahagia dan ceria, dia tak sabar untuk bertemu Fatir.
Pak Dodi pun langsung membawa Annisa ke rumah sakit, dimana Fatir dirawat.
“Aduhh.. Mana sih ponselku” ucap annisa mengobrak abrik tasnya.
“Kenapa Neng?” Tanya pak Dodi.
“Ini pak, kayanya ponsel aku ketinggalan. Tapi gak papalah, cepet ya pak.” Mintanya.
Pak Dodi pun mengikuti perintahnya, Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit itu. Annisa berjalan menuju ruangan Fatir, Dengan tersenyum dan berangan. Haahh… Pasti fatir menyukai bunga ini, batinya gembira.
Dia pun berjalan dengan penuh rasa bahagia, sampailah ia di depan pintu ruangan Fatir. Dia membuka pintu ruangan itu perlahan, dan berjalan mengendap endap seperti akan membuat Fatir terkejut.
“Kak Fatiirr…” Teriaknya tersenyum.
Saat matanya melihat kedua orangtua Fatir menangis histeris melihat Fatir yang kini terbujur kaku, Tak bergerak, Alat bantu pernapasannya pun sudah dibuka. Dia memejamkan mata, dia seolah tak terkejut mendengar suara Annisa.
“Annisa…” Ucap Tante Desi menghampiri Annisa dengan memeluknya.
“Tunggu tunggu.. Loh tante kenapa nangis?” Tanya annisa.
Tante Desi pun menatapnya.
“Tante kak Fatir tidur? Tante jangan nangis kan kak Fatir udah baik baik aja, Ini aku bawain bunga buat dia. Canti kan bunganya” Ucap annisa tersenyum manis.
Tante Desi hanya meneteskan air mata menatap Annisa, Annisa heran mengapa tante Desi menangis.
“Tante..? Gak usah nangis. kak Fatirkan baik baik aja, dia lagi tidur tuh. Jangan sedih ya..” Mintanya sambil mengusap air mata tante Desi dengan tersenyum.
“Sayang.. Fatir memamng lagi tidur, sekarang dia tidur dan dia sedang beristirahat. Fatir gak akan bangun lagi sayang..” Ucap Tante Desi menangis.
Annisa hanya bengong mendengar penjelasan tante Desi, Bunga di tangannya terjatuh begitu saja, air matanya langsung membasahi pipinya, Dia begitu lemas. Raut wajahnya seketika berubah, Dia tidak mempercayainya.
“Tante.. Jangan ngerjain aku sama kaya kak Fatir ya, please” ucap Annisa yang tak mempercayainya
“Tante udah beberapa kali Telepon kamu, Tapi kamu gak angkat. Annisa, tante mohon kamu harus kuat” ucap Tante Desi menguatkannya.
Annisa sesaat seperti patung, berdiri diam, lalu kakinya perlahan menghampiri Fatir yang sedang tertidur.
“Kak Fatir.. Ini aku udah dateng, Kak ayo bangun. Annisa bawain bunga, cantik banget. kak Fatir tadi yang nyuruh aku pulang terus nyuruh aku buat tampil cantik kan? kak liat aku, aku udah kelihat cantik belum? kak Fatir.. kakak ayo buka matanya” Ucap annisa perlahan sambil menggenggam tangan fatir.
Air matanya tak henti membasahi pipi Annisa, Tangisannya seketika pecah saat melihat Pangerannya tak membuka kedua matanya, Annisa menggenggam erat tangan Fatir, tetapi tidak ada respon dari fatir. Annisa tak mempercayainya, Annisa begitu lemas, begitu rapuh.
“Sayang.. Udah ya” ucap Om Gio, ayah Fatir.
“Om.. Ini gak nyata kan? Aku mimpi kan?” Tanya Annisa menatap Om Gio.
Tetapi om Gio memeluk Annisa, tangisan Annisapun pecah di pelukan om Gio, Annisa tak menyangaka itu semua. Padahal pagi tadi Fatir menyuruhnya pulang untuk membersihkan diri, dan tampil cantik. Tetapi saat Annisa datang untuk menghampiri Fatir, Fatir tak membukakan matanya. Badannya tak bergerak, Annisa tak menyangaka itu.
Akhirnya sore ini pula Fatir dimakamkan, Annisa yang mengenakan segala Hitam mengiringi kepergian pangerannya. Di hadapannya sekarang adalah Batu nisan yang mengukir indah nama Fatir, Dia hanya memegangi batu nisan Fatir dan tak henti menangis.
“Sayang.. Tante sama om pulang duluan ya, Ini ada surat dari Fatir. Sebelum ia pergi, dia suruh tante nulis surat ini untuk diberikan ke kamu” ucap tante Desi memberikan Selembar kertas ke Annisa.
Annisa pun mengambil kertas itu, Tante dan Om pun langsung berjalan meninggalkan Annisa. Annisa hanya ditemani pak Dodi, selembar kertas dan batu Nisan di hadapannya.
Annisa membuka surat itu dengan air mata yang tak hentinya membasahi pipi gadis itu.
“Annisa… Kalau kamu buka surat ini, berarti aku tak ada lagi di samping kamu. Bidadari hidupku, Pengganggu setiap detik duniaku, Warna warni langakahku. Annisa, tak usah takut kamu sendiri. Banyak yang menyayangimu termasuk kedua orangtuaku, Annisa aku mencintaimu dari apapun, senyum manismu renyah tawamu, Tatapan indah matamu, sifat manja dirimu. Aku tak mampu menggendongmu sampai rumahmu lagi, Mengerjaimu dengan ular karet, mengejarmu untuk mencubit hidungmu, Menggodamu saat raut wajahmu marah. Tapi jangan bersedih, Aku selalu hidup di hatimu. Aku selalu hadir dalam mimpimu, aku selalu menemani saat kamu sedang berjelajah di alam mimpi. Aku akan melindungimu, aku selalu menyayangimu hingga saat ini pun aku mencintaimu, saat aku menghembuskan nafas terakhirku, Annisa berjanjilah kau akan selalu bahagia, Berjanjilah untukku..” Isi surah Fatir yang diberikan ke annisa.
Ketika membaca surat itu, tangisan annisa menjadi, Annisa marah dengan takdir mengapa begitu cepat merenggut Fatir dari hidupnya. Tapi apa daya? yang hidup akan mati kapanpun itu, kematian hanyalah sebuah kerahasiaan. Annisa menangis dengan melihat makam fatir yang di hadapannya kini.
“Kak Fatir.. Siapa yang akan mengganggu hariku? Meledekku? Mentertawaiku? Menggendongaku sampai rumah? Menghiburku? Menerangi jalan gelapku? kak fatir sungguh aku gak sanggup, aku gak sanggup jalani ini seorang diri. Aku marah dengan takdir, mengapa begitu cepat memisahkan kita? Tapi marah pun pecuma, aku tak mampu berbuat apa apa. Aku egois hanya memikirkan kebahagiaanku, Aku ikhlas sekarang.. kak Fatir udah bahagia kan sekarang? kak Fatir gak usah cape cape lagi gendong aku, Jemput aku sekolah, Lari bareng. Aku berjanji, aku akan bahagia demi kak Fatir, Cinta pertamaku..” Ucap annisa menatap batu nisan itu.
Annisa pun menyimpan Bunga di makam Fatir, dan dia berjalan meninggalkan makannya Fatir. Dengan langakah yang berat, Rasa sakit yang masih terasa, Sebuah kepingan mimpi yang tlah hancur. Dia berjalan untuk pulang, Dan dia percaya Fatir akan selalu Hidup dalam hatinya… Tuhan seandainya sekali lagi aku merasakan kebahagiaan dengan pangeranku, Fatir.. Aku ingin lebih lama memeluknya, aku tak ingin melepaskan saat dia menggendongaku, Tuhan aku ingin hanya satu kali lagi saja merasakan hadirnya kak Fatir dalam hidupku, mendengar tawanya, Merasakan nyaman berada di dekatnya, Tuhan jika bisa aku ingin kak Fatir menemani dunia Mimpiku, agar aku mampu hidup dengannya meski harus di dalam tidurku, Batin annisa …
Siapa yang dapat merubah sebuah keadaan bila sudah terjadi? Kehilangan sangat menyakitkan, apa lagi kehilangan seseorang yang tak dapat lagi melihat wajahnya, mendengar renyah tawanya, memandang indah wajahnya, merasakan nyaman berada di sampingnya, Menggenggam jemari tangannya. Apa lah daya, jika mimpi hanya sebuah kepingan tiada arti. Hari memang akan terasa sepi, sunyi. Tapi apa boleh buat, Annisa harus tetap menjalani hidupnya dan menepati janjinya, yaitu selalu bahagia untuk Fatir, bagaimanapun itu caranya karena Tuhan selalu memiliki rencana yang sangat luar biasa indahnya di balik sebuah rasa sakit kehilangan, percayalah semua hanya urusan waktu saja dan semua akan indah diwaktu yang tepat…
Cerpen Karangan: Novia Fernanda
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-sedih/tuhan-kumohon-sekali-lagi-part-2.html
Senin, 22 Mei 2017
Puasa Arafah Pertama Dan Terakhir Freya
Semua mengerubungi papan pengumuman itu. Ini sudah hari Sabtu, Tanggal 10-09-2016, berarti besok! “Owh puasa Arafah, aku hafal niatnya,” gumam seorang anak perempuan kelas 5 namanya Avisa Freyana Almeera atau dipanggil Freya. Freya dan sahabat sekelasnya, Zhirlyta Neshieta Lannisa atau Zhirly keluar dari kerubungan itu. “Ya, Freya, kamu hafal niatnya? kalau hafal kasih tahu aku, ya…,” pinta Zhirly. “Ini niatnya, ‘Nawaitu Shauma Arofah, Sunnatan Lillahi Ta ‘Ala,” jelas Freya. “Ok! kamu pernah puasa Arafah, Ya, Freya,” sahut Zhirly. Lantas, Freya menggelengkan kepala. “Inilah puasa Arafah pertamaku, Ly!” kata Freya.
Esoknya, pukul 3 subuh Wib, Freya bangun lalu cuci muka. Ia sahur sendiri karena keluarganya lupa kalau hari ini puasa Arafah. Freya menuju dapur memasak telur mata sapi dan mie rebus rasa kari ayam. Usai matang, Freya segera menyantap makanannya sebelum Imsak. Usai makan dan cuci tangan, Freya menuju ruang keluarga lalu menyetel Tv. Ia menonton Channel Net Tv. Ia sangat suka channel itu. Ia menonoton sembari menunggu sholat subuh.
Tak terasa waktunya sholat subuh. Freya segera wudhu. Brush!! bunyi air mengalir dari kran. Freya segera wudhu. Usai wudhu, ia menuju mushola yang berada di dalam rumah. Menggelar sajadah, mengenakan rukuh, dan melaksanakan sholat. Usai sholat dan berdoa, Freya membaca Al-Qur’an. Usai Membaca Al-Qur’an dan merapikan alat sholat, Freya segera ke kamar. Ia memakai celana tebal semata kaki warna abu-abu, jaket warna ungu-pink tebal, dan kerudung warna merah. Ia keluar rumah, mengambil sepeda di garasi, lalu memutari kompleks dengan sepeda. Ia pulang ke rumah pukul tujuh pagi.
Sesampai di rumah, Freya menyambar handuk dan mandi. Usai mandi, Freya memakai baju lengan panjang bertuliskan ‘Keep Calm And Pray For Allah’, celana jeans Semata kaki gambar bunga-bunga dan kupu-kupu, kerudung Pasmina warna ungu gambar bunga warna-warni, juga jam tangan bentuk menara eiffel talinya warna pink. Jarumnya warna merah-biru, memakai angka romawi dan ada kompasnya.
Keluarga Freya semua sarapan mie di ruang makan. Freya bergegas menuju ruang makan. “Fre! ayo sini makan,” ajak bunda. “Enggaklah! aku kan, puasa Arafah,” jawab polos Freya. “Astagfirullah! kan hari ini puasa Arafah!!!” pekik keluarganya kecuali Freya dan Fikhi, maklum Fikhi masih kelas 1 Sd. “Kenapa nggak bangunin kami?” tanya Bang Fredo dengan marah dan nada membentak. “Habisnya, kalian selalu menyebalkan bagiku kecuali Fikhi!” bentak Freya lalu masuk ke kamarnya. Yup! Freya selalu tak diperhatikan oleh keluarganya kecuali Fikhi dan mbak Halsa Hilsa. BRAK!!! Freya menutup pintu kamarnya sangat keras. Lalu menulis surat untuk keluarganya.
‘ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR…’ Terdengar suara azan Maghrib di Masjid Freya wudhu. Biasanya ia sholat. di mushola rumah, menjadi di kamar. Usai doa dan sholat, ia membaca Al-qur’an untuk menenangkan diri. Usai membaca Al-qur’an dan merapikan alat sholat, Freya menuju kulkas. Ia mengambil air putih, lalu membawa 3 bungkus camilan ke kamar. Ia mengunci kamar, ia memakan camilan di atas kasur sembari membaca KKPK anak.
Tak terasa Waktu Isya’ datang. Freya Wudhu lalu sholat di mushola rumah. Pada sujud rakaat terakhir, Freya masih saja sujud diam tak bergerak. “FREYA!!! CEPAT SIKIT SHOLATNYA!!!” teriak bunda dari depan mushola dengan nada membentak. Freya masih diam. BRAK!!! bunda mendobrak pintu mushola sampai terbuka. Bunda melihat Freya dari tadi sujud diam tak bergerak. “Fre,” gumam Bunda seraya menyenggol Freya. Freya terjatuh. Dilihat mata Freya tertutup dengan senyum kecil menghias wajahnya. “Ya Allah Freya!!!” jerit bunda seraya menangis. Semua keluarga Freya tergopoh-gopoh menuju mushola rumah. “Freya!!!” jerit keluarganya kecuali Fikhi. Mereka menuju rumah sakit Anak Indonesia (RSAI).
Keluarga harap-harap cemas. Mereka mempunyai firasat bahwa Freya meninggal. Mereka berusaha membuang jauh perasaan itu, tapi sulit. “Keluarga ananda Avisa Freyana Almeera,” panggil dokter yang menangani Freya. “Iya!” jawab bunda. “Freya meninggal dunia karena Leukimianya stadium akhir,” jawab Dokter. “Hah! tapi anak kami tak pernah cerita sama kami!” kata Papa sontak kaget. “Iya, Freya kesini bersama dua orang wanita muda. Ia bilang jika punya penyakit Parah jangan bilang ke keluarganya, Pas ia periksa kalian lagi keluar tanpa Freya. Oya! saya menemukan surat di kantung celana Freya,” jelas dokter seraya memberikan secarik surat yang dilipat. Keluarganya membacanya.
Hai! mungkin kalian membaca surat ini saat aku sudah meninggal. Aku sebenarnya mempunyai penyakit ini. Aku periksa sama mbak Halsa dan Hilsa. Maaf, aku selalu membuat kalian kesal. Mungkin ini puasa Arafah ‘Pertama dan terakhirku’. Aku menyusul sepupu tercintaku, Vrika. Kalian kan bahagia saat aku tak ada. Kuharap, kita bisa ketemu lagi. Kalian bebas tanpa aku. Maaf juga kalau aku tak pernah bilang tentang penyakit ini. Aku nggak mau kalian khawatir. Aku punya 1 permintaan, jangan menangis jika aku tak ada di dunia sama kalian lagi. I LOVE MY FAMILY TERUTAMA MY PARENTS.
Salam hangat
Avisa freyana almeera (freya)
Semua keluarga Freya menagis. Mereka tak tahu ia berjuang dari penyakitnya sampai Allah memanggil Freya. Mereka menyesal. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, tak dapat diubah menjadi nasi lagi. Kini mereka menyesal. Inilah puasa Arafah Pertama dan Terakhir Freya.
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/puasa-arafah-pertama-dan-terakhir-freya.html











