“Mey! berapa banyak sih bukunya yang mau dibeli?!” gontokku. Meylin tak menggubris perkataanku. Tetap saja anak itu melirik-lirik buku yang dia cari. Sebel! Kesel! Itu yang kurasakan saat ini. Malah panas! Pengunjungnya bejubel lagi! arghh… campur aduklah jadi urapan! “mey!!!” teriakku kembali. “nah.. nah.. yap uda dapet nih, zur. Ini dia buku yang cocok untuk disumbangkan ke panti asuhan” ucap meylin sembari menunjukkan beberapa buku yang dimaksudkan. “ya udah cepetan bayar! Rambutku uda gatal ni kepanasan!” omelku. “yayaya!”
Aku menunggu meylin di luar toko buku. “lama banget sih! Nggak tahu apa orang uda kayak sate gosong gini!” omelku. “apa?!” bentakku saat 2 orang laki-laki meliihat tingkahku. 2 orang itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. memangnya aku ini apa? Gila?! Cakap-cakap sendirian! Huhh! Tak berapa lama meylin keluar dari toko. “ya Allah.. itu muka atau sarang tawon, zur? Beserakkan banget?” meylin justru meledekku.
“ahh nggak tahu la, mey! Sekarang kamu harus traktir aku minum! Kering nii..” aku mendangakkan leher yang hampir putus karena kehausan ini. “yakin Cuma minum? Makan nggak mau?”
Meylin tahu banget sih aku lagi lapar. Dengan sigap aku langsung berkata “ya makan juga dong!” meylin tersenyum. akhirnya jadi deh aku dan meylin menyantap makanan kami di salah satu restoran. dibilang restorant tidak terlalu mewah kali tepatnya hanya rumah makanan, bukan warung pula, arggh.. sejenis itu lah.
Mataku tertuju dengan 2 orang laki-laki. Tepatnya yang kulihat hanya satu orang. Habisnya satu orang lagi membelakangi aku sih. jadi nggak kelihatan kan! Entah alasan apa mata ini sanggup bertahan beberapa menit melihat laki-laki berwajah polos itu. “Astaghfirullah…” dersisku setelah tahu itu yang kulakukan adalah pandangan buruk dan bisa mengarah kezina mata. Naudzubillah!
Tapi tidak bisa! Tetap saja aku melihat laki-laki itu. Jelas-jelas posisinya di hadapanku, gimana nggak terlihat coba. Ahh serba salah deh! Selesai makan, aku terus memperhatikan lelaki itu. Sepertinya dia jadi salah tingkah. Kami sempat beradu mata. Tapi itu tak lama setelah meylin mengajakku untuk meninggalkan tempat itu dan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di tanggerang.
Sepulang dari kantor, aku pulang ke rumah. Tapi sayang, di perjalanan menuju rumah, hujan tiba-tiba datang mengguyur badanku. Aku menepi ke salah satu halte yang tak terpakai. Aku melihat satu pengendara motor menepi juga di halte tepat aku berpijak. Aku menjaga jarak dengan orang itu. Ternyata pengendara itu laki-laki. “ya Allah… lindungi aku..” desisku dalam hati. Aku melirik samping kiri. Ternyata lelaki itu berjalan menghampiri aku. Jantungku mulai berdetak kencang. “nah…” lelaki itu memberikan aku sapu tangan. Apa maksudnya? Aku menoleh ke arahnya. Aduh sayang sekali. Lelaki itu ngotot memakai helm, jadi nggak tahu deh siapa dia.
Aku menggelengkan kepala. “wajahmu basa kuyup. Nanti bisa sakit” ujarnya begitu. Wahh.. perhatian sekalee.. tapi aku harus waspada. Bisa jadi lelaki ini memberikan bius di saputangannya. Kalau aku memakainya, terus aku pingsan, dan…. ahh sudah.. sudah!
“nah..” lelaki itu tetap bertahan untuk memberi. Aku menggeleng dan menyudutkan badanku ke dinding halte. Kali ini dia menyerah. Ia mulai menjauh dariku. *jedder* itu suara petir yang menembus di telingaku. Sontak aku terjongkok dan menutup kepalaku. “Allah… Allahh..” ucapku begitu. Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Ternyata lelaki itu. “kamu mau apa, sih? Maaf tolong jangan ganggu aku. Aku udah kenakan hijabku. Kenapa kamu mau jahati aku?” ucapku sembari menangis terisak-isak.
“astaga.. maaf. Bukan maksudku jahati kamu. Aku Cuma mau nolong kamu!” lelaki itu melepaskan helmnya. Disini… disini.. disinilah aku bertemu dengan laki-laki yang berada di restoran kemarin. Aku diam. Mataku terus melototi lelaki itu. “ini…” dia kembali menawarkan sapu tangannya. Aku menarik nafas sembari mengucapkan “bismillah” dalam hati. Aku menerima sapu tangannya. Ada gunanya juga sapu tangan itu. “nah…” lelaki itu memberikan jaket yang ia kenakan. “hah? nggak usah. Aku nggak papa kok” ucapku. “tapi bajumu basah kuyup! Nengel banget sih dibilangi!” lah kenapa lelaki ini justru menekankan suaranya? Aku menghargai perhatiannya. Aku menerima jaketnya dan kuselimuti badanku dengan jaket itu. “terimakasih” ucapku. Dia tersenyum manis. itu senyuman terbuat dari gula ya? sumpah manis sekaleee!
Aku menatapnya. Dia rela kedinginan hanya karena aku. “rumah kamu dimana?” itu pertanyaan yang ditujukan untukku. “kompleks b simpang 2” jawabku sesingkat-singkatnya. “ayoo aku antar pulang sekarang! Kamu bisa demam disini! Ini hujannya lama berhenti”
“nggak usah.. nggak usah.. aku nggak papa kok”
“sumpah! Aku bukan mau jahati kamu! Aku Cuma mau berbuat baik aja kok. Uda itu aja nggak lebih” lelaki ini menatapku dengan sungguh-sungguh. Kutundukkan wajahku darinya. “aku antar pulang. Buruan!” lelaki ini terpaksa mengeraskan volume suaranya karena angin dan hujan memiliki suara yang lebih dasyhat darinya. Aku mengangguk. Bersyukur juga jika ada orang yang berbaik hati mengantarkan aku pulang.
Sesampainya di rumahku. Aku mempersilahkan lelaki ini untuk masuk. Dan kusuguhi dia teh hangat. “astaghfirullah.. zur. Kamu ngapain bawa laki-laki kesini. Hujan-hujan pula tu” bisik meylin. “habis gimana, mey. Dia uda nolongi aku. Dia mau nganterkan aku pulang” bisikku.
“aku permisi pulang dulu ya. Oh terimakasih untuk teh hangatnya” ucap lelaki itu. “iya. Sama-sama. Ini sapu tangan dan jaket kamu” meylin langsung merampas jaket dan sapu tangan yang mau kuberikan ke pemliknya. “kamu itu nggak sopan banget sih, zur. Ini barang udah kamu pakai itu artinya kamu mengembalikannya harus bersih dong!” bisik meylin. “gitu ya, mey?” meylin meengangguk. “pak.. ini jaket sama sapu tangannya biar disini dulu ya” ucapku.
“bapak! Emang mukaku keliatan tua apa?!” dersis pelan lelaki itu. “Ya udah gini aja. Sapu tangannya untuk tante aja, biar jaketnya aku bawa pulang. Nggak papa kok”
“ehh tantenya lagi! mey.. emang mukaku kayak tante-tante ya?” bisiku ke meylin. “permisi..” ucap lelaki itu sembari melangkah ke luar rumah. Setelah lama lelaki itu pergi. Aku mulai berpikir. Mengingat kejadian kemarin. Aduan mata itu membuat jantungku berdetak sekencang-kencangnya. Untung saja nggak mati!
Aku menggelarkan sajadah dan melaksanakan kewajibanku. Berdoa pada Tuhanku. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Mengapa lelaki itu behasil membuat aku merindukannya. Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Ahh.. tidak mungkin. Aku baru mengenalnya tadi!
1 tahun berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Setiap kali aku merindukannya, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan lagi oleh dia dan melihat sapu tangan itu. Aku berharap, Allah masih mengizinkanku untuk bertemu dengannya lagi. lagi! benar, tatapan itu berhasil menghipnotisku. Aku sempat berfikir tentang dirinya. Terutama pada agamanya? Terbesit di benakku dia islam. Sama sepertiku. Ahh apakah mungkin?
“hei…” ucap seseorang dari belakang. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata.. tidak disangka. Sungguh doaku terkabul. Lelaki ini datang untukku. Aku tersenyum. “bagaimana kabarmu?” ucapnya. “Alhamdulilah..” ucapku dengan menundukkan wajahku. “Apa artinya itu?” ucapan itu membuat aku bingung tak karuan. Aku kira dia islam. Ternyata? Aku diam sangat lama. Sampai akhirnya lelaki itu mengejutkan lamunanku. “segala puji bagi Allah” ucapku datar. Air mataku tumpah saat itu juga. tidak disangka, lelaki yang aku rindukan tidak sebanding denganku.
Lelaki itu mengangguk pertanda ia mendengar. “maaf aku harus pergi” aku meninggalkannya. Aku takut rindu itu akan menjulang lebih tinggi. Sebaiknya aku tidak usah bertemu denganya lagi. aku menceritakan semua ini ke meylin. Tanggapannya cukup bijak “jika kalian jodoh. Walaupun akidahnya berbeda. Allah pasti memberikan hidayah untuk laki-laki itu” itu kata meylin. Aku diam. Semoga saja itu terjadi.
Lelaki itu ternyata bekerja di tempat aku bekerja. Bagaimana aku menanggapi hal ini. Aku takut jika perasaanku ini akan lebih dalam jika aku berinteraksi dengannya. “nggak usah takut. Kamu bisa membawa aku kejalan yang benar” ucap lelaki itu seolah-olah tahu apa yang ada di pikiranku. Lelaki itu melihat penuh harap lobe di atas meja kerjaku. Aku sengaja menjahit lobe itu untuknya jika aku bertemu dengannya lagi. itu tanda terimakasihku untuknya. aku langsung mengambil lobe hitam itu dan memakaikan lobe hitam kekepalanya. Sungguh indah! “ajari aku islam” ucapnya. Aku ternganga saat itu. Spontan airmata ku jatuh. Kemudian hari aku membawanya ke pamanku. Kebetulan paman seorang ustadz. Dengan mantap lelaki itu menyebutkan 2 kalimat syahadat. Alhamdulillah, dia masuk islam.
“Allah yang menuntunku lewat caraNya. dengan mempertemukan aku dengan gadis berjilbab sepertimu, tinik!” ucap lelaki itu. “zuraa bukan tinik, anton!…” ucapku
“boy, bukan anton!” ucapnya. Kami sama-sama tertawa. Dari asalan panggilan nama ini kami bisa mengetahui nama kami masing-masing. aneh banget! Saling bicara tapi tidak tahu nama. Aneh! Yah tapi nyata!
beberapa tahun kemudian, Boy mengantikan namanya dengan Syam Rahmat Putra dan juga.. diaa… diaa dia melamarku. Akidahnya juga semakin mantap. Allah mendengar doaku. Aku hidup bahagia bersamanya. tamat deh!
selesai
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-islami/antara-lobe-hitamku-dan-sapu-tanganmu.html
Kamis, 29 September 2016
Antara Lobe Hitamku dan Sapu Tanganmu
“Mey! berapa banyak sih bukunya yang mau dibeli?!” gontokku. Meylin tak menggubris perkataanku. Tetap saja anak itu melirik-lirik buku yang dia cari. Sebel! Kesel! Itu yang kurasakan saat ini. Malah panas! Pengunjungnya bejubel lagi! arghh… campur aduklah jadi urapan! “mey!!!” teriakku kembali. “nah.. nah.. yap uda dapet nih, zur. Ini dia buku yang cocok untuk disumbangkan ke panti asuhan” ucap meylin sembari menunjukkan beberapa buku yang dimaksudkan. “ya udah cepetan bayar! Rambutku uda gatal ni kepanasan!” omelku. “yayaya!”
Aku menunggu meylin di luar toko buku. “lama banget sih! Nggak tahu apa orang uda kayak sate gosong gini!” omelku. “apa?!” bentakku saat 2 orang laki-laki meliihat tingkahku. 2 orang itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. memangnya aku ini apa? Gila?! Cakap-cakap sendirian! Huhh! Tak berapa lama meylin keluar dari toko. “ya Allah.. itu muka atau sarang tawon, zur? Beserakkan banget?” meylin justru meledekku.
“ahh nggak tahu la, mey! Sekarang kamu harus traktir aku minum! Kering nii..” aku mendangakkan leher yang hampir putus karena kehausan ini. “yakin Cuma minum? Makan nggak mau?”
Meylin tahu banget sih aku lagi lapar. Dengan sigap aku langsung berkata “ya makan juga dong!” meylin tersenyum. akhirnya jadi deh aku dan meylin menyantap makanan kami di salah satu restoran. dibilang restorant tidak terlalu mewah kali tepatnya hanya rumah makanan, bukan warung pula, arggh.. sejenis itu lah.
Mataku tertuju dengan 2 orang laki-laki. Tepatnya yang kulihat hanya satu orang. Habisnya satu orang lagi membelakangi aku sih. jadi nggak kelihatan kan! Entah alasan apa mata ini sanggup bertahan beberapa menit melihat laki-laki berwajah polos itu. “Astaghfirullah…” dersisku setelah tahu itu yang kulakukan adalah pandangan buruk dan bisa mengarah kezina mata. Naudzubillah!
Tapi tidak bisa! Tetap saja aku melihat laki-laki itu. Jelas-jelas posisinya di hadapanku, gimana nggak terlihat coba. Ahh serba salah deh! Selesai makan, aku terus memperhatikan lelaki itu. Sepertinya dia jadi salah tingkah. Kami sempat beradu mata. Tapi itu tak lama setelah meylin mengajakku untuk meninggalkan tempat itu dan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di tanggerang.
Sepulang dari kantor, aku pulang ke rumah. Tapi sayang, di perjalanan menuju rumah, hujan tiba-tiba datang mengguyur badanku. Aku menepi ke salah satu halte yang tak terpakai. Aku melihat satu pengendara motor menepi juga di halte tepat aku berpijak. Aku menjaga jarak dengan orang itu. Ternyata pengendara itu laki-laki. “ya Allah… lindungi aku..” desisku dalam hati. Aku melirik samping kiri. Ternyata lelaki itu berjalan menghampiri aku. Jantungku mulai berdetak kencang. “nah…” lelaki itu memberikan aku sapu tangan. Apa maksudnya? Aku menoleh ke arahnya. Aduh sayang sekali. Lelaki itu ngotot memakai helm, jadi nggak tahu deh siapa dia.
Aku menggelengkan kepala. “wajahmu basa kuyup. Nanti bisa sakit” ujarnya begitu. Wahh.. perhatian sekalee.. tapi aku harus waspada. Bisa jadi lelaki ini memberikan bius di saputangannya. Kalau aku memakainya, terus aku pingsan, dan…. ahh sudah.. sudah!
“nah..” lelaki itu tetap bertahan untuk memberi. Aku menggeleng dan menyudutkan badanku ke dinding halte. Kali ini dia menyerah. Ia mulai menjauh dariku. *jedder* itu suara petir yang menembus di telingaku. Sontak aku terjongkok dan menutup kepalaku. “Allah… Allahh..” ucapku begitu. Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Ternyata lelaki itu. “kamu mau apa, sih? Maaf tolong jangan ganggu aku. Aku udah kenakan hijabku. Kenapa kamu mau jahati aku?” ucapku sembari menangis terisak-isak.
“astaga.. maaf. Bukan maksudku jahati kamu. Aku Cuma mau nolong kamu!” lelaki itu melepaskan helmnya. Disini… disini.. disinilah aku bertemu dengan laki-laki yang berada di restoran kemarin. Aku diam. Mataku terus melototi lelaki itu. “ini…” dia kembali menawarkan sapu tangannya. Aku menarik nafas sembari mengucapkan “bismillah” dalam hati. Aku menerima sapu tangannya. Ada gunanya juga sapu tangan itu. “nah…” lelaki itu memberikan jaket yang ia kenakan. “hah? nggak usah. Aku nggak papa kok” ucapku. “tapi bajumu basah kuyup! Nengel banget sih dibilangi!” lah kenapa lelaki ini justru menekankan suaranya? Aku menghargai perhatiannya. Aku menerima jaketnya dan kuselimuti badanku dengan jaket itu. “terimakasih” ucapku. Dia tersenyum manis. itu senyuman terbuat dari gula ya? sumpah manis sekaleee!
Aku menatapnya. Dia rela kedinginan hanya karena aku. “rumah kamu dimana?” itu pertanyaan yang ditujukan untukku. “kompleks b simpang 2” jawabku sesingkat-singkatnya. “ayoo aku antar pulang sekarang! Kamu bisa demam disini! Ini hujannya lama berhenti”
“nggak usah.. nggak usah.. aku nggak papa kok”
“sumpah! Aku bukan mau jahati kamu! Aku Cuma mau berbuat baik aja kok. Uda itu aja nggak lebih” lelaki ini menatapku dengan sungguh-sungguh. Kutundukkan wajahku darinya. “aku antar pulang. Buruan!” lelaki ini terpaksa mengeraskan volume suaranya karena angin dan hujan memiliki suara yang lebih dasyhat darinya. Aku mengangguk. Bersyukur juga jika ada orang yang berbaik hati mengantarkan aku pulang.
Sesampainya di rumahku. Aku mempersilahkan lelaki ini untuk masuk. Dan kusuguhi dia teh hangat. “astaghfirullah.. zur. Kamu ngapain bawa laki-laki kesini. Hujan-hujan pula tu” bisik meylin. “habis gimana, mey. Dia uda nolongi aku. Dia mau nganterkan aku pulang” bisikku.
“aku permisi pulang dulu ya. Oh terimakasih untuk teh hangatnya” ucap lelaki itu. “iya. Sama-sama. Ini sapu tangan dan jaket kamu” meylin langsung merampas jaket dan sapu tangan yang mau kuberikan ke pemliknya. “kamu itu nggak sopan banget sih, zur. Ini barang udah kamu pakai itu artinya kamu mengembalikannya harus bersih dong!” bisik meylin. “gitu ya, mey?” meylin meengangguk. “pak.. ini jaket sama sapu tangannya biar disini dulu ya” ucapku.
“bapak! Emang mukaku keliatan tua apa?!” dersis pelan lelaki itu. “Ya udah gini aja. Sapu tangannya untuk tante aja, biar jaketnya aku bawa pulang. Nggak papa kok”
“ehh tantenya lagi! mey.. emang mukaku kayak tante-tante ya?” bisiku ke meylin. “permisi..” ucap lelaki itu sembari melangkah ke luar rumah. Setelah lama lelaki itu pergi. Aku mulai berpikir. Mengingat kejadian kemarin. Aduan mata itu membuat jantungku berdetak sekencang-kencangnya. Untung saja nggak mati!
Aku menggelarkan sajadah dan melaksanakan kewajibanku. Berdoa pada Tuhanku. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Mengapa lelaki itu behasil membuat aku merindukannya. Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Ahh.. tidak mungkin. Aku baru mengenalnya tadi!
1 tahun berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Setiap kali aku merindukannya, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan lagi oleh dia dan melihat sapu tangan itu. Aku berharap, Allah masih mengizinkanku untuk bertemu dengannya lagi. lagi! benar, tatapan itu berhasil menghipnotisku. Aku sempat berfikir tentang dirinya. Terutama pada agamanya? Terbesit di benakku dia islam. Sama sepertiku. Ahh apakah mungkin?
“hei…” ucap seseorang dari belakang. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata.. tidak disangka. Sungguh doaku terkabul. Lelaki ini datang untukku. Aku tersenyum. “bagaimana kabarmu?” ucapnya. “Alhamdulilah..” ucapku dengan menundukkan wajahku. “Apa artinya itu?” ucapan itu membuat aku bingung tak karuan. Aku kira dia islam. Ternyata? Aku diam sangat lama. Sampai akhirnya lelaki itu mengejutkan lamunanku. “segala puji bagi Allah” ucapku datar. Air mataku tumpah saat itu juga. tidak disangka, lelaki yang aku rindukan tidak sebanding denganku.
Lelaki itu mengangguk pertanda ia mendengar. “maaf aku harus pergi” aku meninggalkannya. Aku takut rindu itu akan menjulang lebih tinggi. Sebaiknya aku tidak usah bertemu denganya lagi. aku menceritakan semua ini ke meylin. Tanggapannya cukup bijak “jika kalian jodoh. Walaupun akidahnya berbeda. Allah pasti memberikan hidayah untuk laki-laki itu” itu kata meylin. Aku diam. Semoga saja itu terjadi.
Lelaki itu ternyata bekerja di tempat aku bekerja. Bagaimana aku menanggapi hal ini. Aku takut jika perasaanku ini akan lebih dalam jika aku berinteraksi dengannya. “nggak usah takut. Kamu bisa membawa aku kejalan yang benar” ucap lelaki itu seolah-olah tahu apa yang ada di pikiranku. Lelaki itu melihat penuh harap lobe di atas meja kerjaku. Aku sengaja menjahit lobe itu untuknya jika aku bertemu dengannya lagi. itu tanda terimakasihku untuknya. aku langsung mengambil lobe hitam itu dan memakaikan lobe hitam kekepalanya. Sungguh indah! “ajari aku islam” ucapnya. Aku ternganga saat itu. Spontan airmata ku jatuh. Kemudian hari aku membawanya ke pamanku. Kebetulan paman seorang ustadz. Dengan mantap lelaki itu menyebutkan 2 kalimat syahadat. Alhamdulillah, dia masuk islam.
“Allah yang menuntunku lewat caraNya. dengan mempertemukan aku dengan gadis berjilbab sepertimu, tinik!” ucap lelaki itu. “zuraa bukan tinik, anton!…” ucapku
“boy, bukan anton!” ucapnya. Kami sama-sama tertawa. Dari asalan panggilan nama ini kami bisa mengetahui nama kami masing-masing. aneh banget! Saling bicara tapi tidak tahu nama. Aneh! Yah tapi nyata!
beberapa tahun kemudian, Boy mengantikan namanya dengan Syam Rahmat Putra dan juga.. diaa… diaa dia melamarku. Akidahnya juga semakin mantap. Allah mendengar doaku. Aku hidup bahagia bersamanya. tamat deh!
selesai
sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-islami/antara-lobe-hitamku-dan-sapu-tanganmu.html







0 komentar:
Posting Komentar